Description

"Who you are, depends on what do you think about GOD and yourself."

#KotakAjaib
Copy-Paste boleh, asal cerdas! Jangan lupa cantumkan sumbernya ya...
http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/
Showing posts with label Matrice. Show all posts
Showing posts with label Matrice. Show all posts

Thursday, November 9, 2017

Another Point of View about "Sepuluh Nopember" Spirit: BMI Juga Pahlawan

PROLOG
Saat tulisan ini diketik sejujurnya aku sedang dalam keadaan random dan tak terlalu bersemangat berbagi curahan hati dan olah pikiran seperti biasanya. Sehingga hampir saja tulisan kali ini tersemat di media lain, tentunya selain di blog yang usianya sebentar lagi genap 10 tahun ini, anyway media lain itu bisa saja di GNFI, time-LINE, atau juga tempat-tempat lain yang bisa jadi lokasi bertenggernya karya corat-coretku. Tulisan kali ini tak terlalu banyak mengulas hasil perenungan dan pembelajaran dari kehidupan sehari-hari yang terjadi akhir-akhir ini, akan tetapi lebih ke arah penyesuaian sudut pandang dari sebuah momentum yang tepat sekali terjadi esok hari (saat baris ini diketik, jam digital di laptopku menunjukkan pukul 23:32 waktu Taiwan, tentunya pada tanggal 9 November 2017).

Sepuluh November 2017, sejak beberapa tahun terakhir ini aku terkesan dengan satu tanggal ini, bagaimana tidak, kampusku sebelumnya (saat S1) memiliki nama yang dijiwai dari semangat yang identik dengan tanggal ini, apalagi memang hari jadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember memang ditetapkan pada tanggal 10 November, 57 tahun yang lalu. Belum lagi ditambah dengan anniversary Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi (HMMT) FTI-ITS, yang menjadi salah satu tempat pendewasaan jiwa organisasiku selama S1, ditetapkan di tanggal yang sama 17 tahun lalu. Jadi, tahu kan betapa spesialnya sepuluh November buatku?

Nah, kali ini sepuluh November sedikit kuarahkan pada sebuah makna lain tentang kepahlawanan. Sebenarnya "pengarahan" makna ini timbul, salah satu faktornya adalah karena diskusi online antara Kawan GNFI dengan mas Bagus D. Ramadhan (GNFI writer) beberapa hari lalu. Yang pada akhirnya ternyata menelurkan sebuah konsep memperingati Hari Pahlawan 10 November dengan gerakan karya serentak mengusung hashtag (tagar) #DiaJugaPahlawan.

Lalu apa sih maksud dari #DiaJugaPahlawan ini?

Maksudnya adalah untuk memaknai Hari Pahlawan kali ini, kita mencoba untuk sejenak berpikir anti-mainstream dengan menggali sosok-sosok pahlawan lain dari yang selama ini kita ketahui: pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, dan pahlawan-pahlawan lainnya. It's ok jika memang peringatan 10 November adalah sebuah semangat menggelora yang digawangi oleh jasa para pahlawan dan arek-arek Suroboyo dalam upaya mengusir para penjajah, yang berujung pada tewasnya Brigjend. A. W. S. Mallaby saat itu. Akan tetapi, ketika kita menilik lebih jauh tentang apa itu pahlawan, banyak sudut pandang yang patut dipertimbangkan keberadaannya. Salah satunya adalah point of view dari PAHLAWAN itu sendiri. Analogi paling sederhana yang bisa aku sajikan adalah: bisa saja bagi salah satu pihak, si A dianggap pahlawan, akan tetapi justru di sisi lain si A ini dianggap orang biasa saja dan tak berperan apa-apa, ya kan? Nah, pola pikir seperti itulah yang saat ini coba kami (Kawan GNFI) netralisir, bahwa setiap orang memang memiliki sosok pahlawannya masing-masing, dan pada akhirnya kita semua juga patut untuk menghargai pahlawan versi masing-masing orang. Karena pada dasarnya kepahlawanan macam apapun jika tujuannya demi memberikan kontribusi bagi negeri tercinta (Indonesia), tentu efeknya tak akan pernah melenceng jauh dari sebuah upaya menyebarkan Good News From Indonesia.

So, kali ini aku ingin mengangkat sosok fenomenal yang berasal dari luar Indonesia.

Lho, katanya pahlawan Indonesia, kok malah dari luar negeri?

Weits, tunggu dulu dong, daripada menerka-nerka dengan pertanyaan semacam itu, lebih baik mari kita saksikan bersama video berikut ini!


Nah, di dalam cuplikan tak lebih dari semenit itu kita bisa lihat bersama beberapa fakta yang hadir tentang Buruh Migran Indonesia (BMI). Yap, merekalah yang kumaksud tentang sosok fenomenal yang berasal dari luar negeri. Label mereka lebih sering digeneralisir dengan sebutan diaspora Indonesia. Meskipun makna diaspora sesungguhnya tak hanya didominasi oleh BMI saja, melainkan juga termasuk di dalamnya pelajar/mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri, ex-WNI, dan bahkan juga para keturunan WNI yang hidup di negara lain.

BMI yang selama ini mungkin lebih banyak diberitakan hal-hal negatifnya saja di dalam negeri, entah dari sisi penyiksaan majikan, kasus kaburan dan perizinan ilegal, dan bahkan hal-hal tak mengenakkan lainnya, ternyata dari sisi yang lain mereka memiliki potensi besar untuk bisa menyandang predikat pahlawan, khususnya pahlawan devisa bagi Indonesia.

Bagaimana bisa?

Ya, meski ranking-nya tergusur (dari tahun lalu hingga awal tahun ini) dari posisi dua ke posisi enam, akan tetapi ternyata pemasukan devisa negara Indonesia yang berasal dari BMI sangat tak bisa dipandang sebelah mata: 140 triliun rupiah. Walaupun besaran itu tentunya lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan negara Indonesia yang berasal dari sektor Kelapa Sawit (239 triliun), Jasa Pariwisata (190 triliun), Ekspor Tekstil (159 triliun), Ekspor Migas (170 triliun), dan Ekspor Batubara (150 triliun). Nominal-nominal tersebut didapatkan dari pengolahan data Badan Pusat Statistik serta Kementerian Perindustrian di tahun 2017.

Wow, 140 triliun lho, nominalnya tak sedikit ya ternyata?

Iya lah, maka dari itu BMI (atau sebagian orang masih sering menyebut mereka dengan TKI: Tenaga Kerja Indonesia) adalah salah satu sumber pendapatan negara yang besar. Bahkan, jika kita kembalikan ke diri kita masing-masing untuk berintrospeksi, "kamu sudah menyumbang apa saja untuk Indonesia? Sampai kadang terbersit pikiran merendahkan BMI dan membandingkan mereka dengan kedudukan para pekerja kantoran/industri di dalam negeri" (note: anggapan semacam ini seringkali terucap baik tersirat maupun tersurat dari celotehan orang-orang yang masih berpikir bahwa menjadi BMI/TKI hanyalah sebuah status sosial yang tak bisa dibanggakan). Padahal banyaknya BMI/TKI yang berasal dari suatu daerah seringkali dikaitkan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Karena apa? Ya karena (bagi orang yang mengetahui) justru dengan hasil keringat BMI/TKI inilah terkadang suatu wilayah dapat memiliki insight yang lain tentang pola pikir untuk kemajuan dan modernisasi ke arah yang positif.

Wah iya ya, keren banget mereka! Kalau gitu aku juga mau jadi BMI/TKI ah...

Hahaha, boleh-boleh saja beranggapan dan berkeinginan demikian. Tapi kembali lagi, menjadi tenaga kerja di tanah asing tidaklah mudah. Butuh kesiapan finansial, mental, dan juga fisik yang tak biasa. Karena pada dasarnya menjadi BMI/TKI memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menjadi pioneer bagi WNI lainnya yang ingin mengikuti jejaknya.

Maksudnya?

Pertanyaan bagus, jadi begini: jika ternyata keberhasilan sekelompok orang menjadi BMI/TKI di suatu negara justru menyebabkan peningkatan keinginan jadi BMI/TKI menjadi lebih tinggi di negara asalnya, sebut saja menjadi inspirasi bagi banyak orang lainnya, justru hal tersebut bisa dibilang sebuah efek yang terdeviasi.

Duh mumet bro!

Oke oke, jadi sederhananya begini, menjadi BMI/TKI digawangi oleh sebuah keinginan meningkatkan kesejahteraan, kesejahteraan yang secara praktis dan oportunis dapat dimaknai sebagai kesejahteraan pribadi dan keluarga. Akan tetapi jika kita menampik anggapan praktis dan oportunis itu tadi, seyogyanya menjadi BMI/TKI ini adalah sebuah tantangan unik. Tantangan untuk mengumpulkan modal sebelum nantinya kembali ke Indonesia, di sisi lain juga menyerap sebuah pola pikir maju yang (mungkin) belum dimiliki masyarakat dari suatu daerah untuk selanjutnya diadopsi dan dikembangkan menjadi sebuah lahan wirausaha dan jalan berdikari bagi BMI/TKI tersebut di lingkungannya, setelah kontrak kerja sebagai BMI/TKI habis dan mengharuskan mereka kembali ke tanah air.

Oh ya, ya, ya...

Tuh, beban moral dan tanggung jawabnya besar kan? Maka dari itu, yuk kita hargai pahlawan devisa kita ini. Kerja kerasnya untuk keluarga, lingkungan, dan bahkan negeri tercinta patut kita apresiasi sebesar-besarnya. Untuk itulah di hari pahlawan 10 November kali ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada para BMI/TKI di seantero bumi dengan sedikit mengulas tentang jasa-jasa mereka untuk ibu pertiwi.

EPILOG
Selamat hari pahlawan 10 November!!!

Dari aku,
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
TKI*) di salah satu pulau kecil yang menjadi entitas politik milik Republik Rakyat Tiongkok, yang masih terus menuntut ilmu dan belajar memaknai kehidupan lewat setiap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

*)TKI: Tenaga Kerja Intelektual

Friday, September 22, 2017

SVE17 4.0: Time to Go "Home" and Back to Work

PROLOG
Dan lagi-lagi, tulisan kali ini lahir dari manifestasi kesumpekan pekan ini yang disponsori oleh horizontal furnace. Memang sih, faktanya setiap furnace selalu punya tipikal yang sama: mudah dipanaskan tapi selalu lambat dalam penurunan temperatur saat annealing process. Dan kalau minggu lalu sumpeknya akibat temperatur furnace-nya lama turun saat annealing, eh minggu ini giliran ada seorang mahasiswa se-laboratorium yang secara serampangan menancapkan furnace (yang seharusnya) kerja di voltage 110 V ke port 220 V. Alhasil? Rusaklah beberapa komponennya. Untung (kata teknisinya yang datang ke lab hari ini) yang rusak cuma komponen seharga NT$4000-5000, dan sekitar seminggu lagi sudah bisa pulih. Coba kalau sampai dalaman elemen pemanasnya, yang (sekali lagi kata teknisinya) bisa jadi seharga NT$20000-30000, bisa-bisa para penghuni lab lainnya akan kebakaran jenggot dan secara kolektif menuntut si pelaku dengan minimal intimidasi sosial berlebih.

"At least, he must treat me some food for lunch or dinner. Because he just made my day too busy now," kata PIC ruang kerjaku.

Ah, bagi yang tak paham apa maksudnya, silakan di-skip saja PROLOG ini, dan lanjutkan langsung ke bacaan utama. Intinya kami pengguna furnace itu kesal pada si pelaku!!!

Oke, di seri SVE17 pamungkas kali ini sengaja ada agak lama rilisnya*, karena apa? Karena cerita kali ini merupakan penutup dan akan menjadi pembuka bagi cerita-cerita selanjutnya di semester ke-11-ku (dan juga seterusnya) nanti.
*padahal sih cuma alasan aja, wong telat rilis memang karena sibuk di lab dan kegiatan organisasi

Dan pasca menikmati tiga minggu yang sangat amat indah dengan berbagai macam cerita asyik yang telah tertuang di SVE17 1.0 sampai 3.1 kemarin, kali ini saatnya pulang.

On the way bandara
Bangun sejak jam dua pagi, memeriksa ulang segala hal yang memang harus dibawa "pulang" menjadi hal wajib karena perjalanan kali ini bukan sekedar lintas kota atau lintas provinsi, melainkan lintas pulau dan lintas negeri. Mama yang sedari tengah malam sulit tidur menjelang ke"pulang"an anak bungsunya ke tanah rantau, telah mempersiapkan bekal sarapan untuk beberapa porsi yang rencananya akan kami makan setiba di bandara nanti.

Di sesi ini bukan berarti tanpa hambatan dan cobaan. Karena mas-mas sopir yang sengaja kami ajak menemani perjalanan dini hari ini mendadak tak bisa dihubungi.

"Dek, misal kita berangkat sendiri gimana?"
"Ya udah sih, aku yang nyetir nggak papa, panjenengan nanti baliknya aja!"
"Oke, tapi papa tak coba telpon masnya dulu aja."

Setidaknya itulah percakapan desperated yang terjadi antara ayah dan anak yang telah mulai jengkel dengan keadaan serba mendadak yang sedang dijalani.

"Pak, kulo boten saget mengantar. Wonten teman saya yang menjemput setengah jam lagi ke rumah panjenengan," ujar papaku saat membaca nyaring pesan singkat yang masuk ke smartphone-nya. Waktu yang saat itu telah menunjukkan pukul 03.00 pagi (yang otomatis akan molor tiga puluh menit dari rencana jika setengah jam lagi pak sopir penjemput baru tiba) menjadi waktu yang sangat amat melegakan, apalagi setelah pesan tersebut terbaca nyaring, dan didengar oleh seluruh anggota keluarga kecilku. Alhamdulillah, ternyata benar tepat pukul 03.30 bapak sopir pengganti pun tiba dan kami berangkat menuju kota kenanganku selama S1: Surabaya.

Berangkatnya telat 30 menit, terus gimana dong?

Ya udah, mau diapakan. Alhamdulillah sih jalannya lancar dan kami juga sempat sholat Shubuh di Lamongan. Meski akhirnya setibanya di bandara Juanda molor empat puluh lima menit dari rencana awal.

Di Juanda
Bertemu dengan mamanya mbak Sufia, yang (maaf) nama beliau tak sempat kutanyakan saking gupuh-nya menunggu Fahrenzy Yona Aisha, FTSP ITS angkatan 2014 (adik tingkat semasa S1 yang pagi itu katanya mau mengantarkan interviewer LKMM TM-nya kembali ke Taiwan), for your information aja sih, dia sempat salah tunggu di terminal keberangkatan domestik.

Dan pada akhirnya setelah ritual foto-foto berikut...

Thanks untuk si tembem yang ada di foto ini, yang rela bangun pagi, belum mandi, nyeret adik kelasnya sejurusan buat nemenin ke Juanda, dengan insiden salah terminal, lalu tancap motor ngebut hanya demi beberapa pcs perangko, kasih cemilan dan say see you ke aku.

Dan makasih banget yang utama adalah untuk Papa, Mama, dan Zaky (kakak lagi standby kerja di Rumah Sakit) yang udah meninggalkan air mata di jaketku (ini mama) dan elusan di punggungku (ini papa) sesaat sebelum perpisahan kedua ku menuju Taiwan tahun ini.
...juga derai air mata penuh kesedihan khas mama (yang masih sama seperti tahun lalu), aku meninggalkan ruang depan Juanda menuju ke ruang tunggu di dalam. Oh iya, kenapa harus ketemuan dulu sama mamanya mbak Sufia? Karena memang di keberangkatan kali ini mbak Sufia dan mas Andri menitipkan pesan padaku untuk menemani mama/ibu mertua mereka ke Taiwan demi menjenguk putrinya yang sedang hamil tua.

Ah, aku kapan gitu ya? (eh, ini apaan deh -_-)

Hong Kong International Airport
"Mas, dulu alumni Material ITS kan ya? Mas Akbar bukan?"
"Eh, iya dek aku Taufik Akbar. Lha sampeyan namanya siapa? Alumni Material juga?"
"Iya mas, aku Ozha MT14. Pantesan aja tadi kaya familiar sama wajah sampeyan dari samping."
"Alhamdulillah, masih diinget adik tingkat."

Begitulah kira-kira percakapan antara alumni Teknik Material dan Metalurgi ITS yang telah memiliki gap usia sekitar tiga tahun saat bertemu di bandara di negeri lain. Tapi meski demikian kehangatannya masih terasa karena ada embel-embel MATRICE yang menyatukannya.

"Mau ke mana mas?"
"Aku mau ke Taiwan, kamu?"
"Sama, mas."
"Lho? Kamu kuliah di sana ya?"
"Hihihi, iya mas. Kalau mas?"
"Ada urusan kerjaan ini, besok ke Taipei terus ke Kaohsiung"

Percakapan-percakapan lain pun mengalir begitu saja di perjalanan kami menuju ke Prayer Room milik HKIA yang letaknya di dekat gate 42.


Next time kalau ke sana bisa mampir ya, bagi siapapun (Muslim) yang sedang membaca tulisan ini. Karena sayang kan ada tempat nyaman untuk sholat tapi nggak dipakai, dan kitanya malah milih "merasa boleh menjamak sholat", meskipun memang diperbolehkan untuk dilakukan saat bepergian semacam yang ada di cerita ini.

Taiwan, Akhirnya Aku Pulang
Hihihi, subjudulnya gitu banget ya? Maafkan, bukan karena aku sudah tak cinta Indonesia atau juga tak punya nasionalisme yang tertinggal dalam dada (tsaaah), tapi karena memang seperti itulah rasanya:

"Oh, sudah sampai bandara ini (Taiwan Taoyuan International Airport) lagi. Saatnya berkarya lagi dan beraktivitas seperti biasanya..."

Begitulah gumaman dalam hati saat itu. Aku tak paham mengapa demikian, sebab menurut testimoni beberapa kakak tingkat sih seharusnya saat kembali ke Taiwan pasca liburan summer pasti bawaannya males dan nggak rela ninggal rumah. Tapi entahlah, aku justru sebaliknya, apa memang ini bawaan dari "rencana"? (eh)

"Eh dek, sayang banget ya kita tadi nggak foto bareng untuk dokumentasi kalau pernah ketemu setelah sekian lama," kata mas Taufik Akbar via chat WA.
"Hahaha, nggak papa deh mas, mungkin lain kali," balasku.

Ya sudahlah, intinya kisah SVE17 ditutup lewat rilis terakhir kali ini. Dan semoga dengan ditutupnya kisah SVE17 ini menjadikan awalan yang indah untuk cerita-cerita selanjutnya yang akan rilis di blog ini kedepannya.

EPILOG
Udah, nggak usah pakai epilog ya, bye!!!

Monday, August 28, 2017

SVE17 1.1: Spin Off tentang Saudara tak Sedarah

PROLOG
Belum bisa move on dari pekan pertama nih ternyata, seri selanjutnya dari SVE17 masih berkutat pada sebuah spin off yang akan menceritakan tentang sebuah hubungan. Bukan hubungan yang seperti biasanya kalian kira, melainkan ikatan kekeluargaan yang mungkin bagi "sebagian orang" tak ada beda dengan pertemanan biasa.

Oh iya, itu kan bagi "mereka", mungkin akan berbeda denganku dalam hal pemaknaannya.

Perkenalkan, dua orang ini adalah my true ally selama empat tahun masa S1. Si 2712100070 (kiri) dan si 2712100050 (kanan) yang akan aku beberkan beberapa cerita tentang mereka di post kali ini.
Perjalananku dimulai sejak hari Selasa di pekan pertama setibaku di Indonesia. Surabaya, bertemu kawan-kawan lama, juga dosen yang sekarang menjadi kolega. Ah, sungguh nostalgia berirama indah dengan berbagai nada merdu yang cocok bagi para pecandu melankolia.

Berteman segelas teh hangat dan sebatang rokok yang ia selipkan di antara
telunjuk dan jari tengahnya, kami menikmati atmosfer silaturrahim
di rumah pertama yang akan selalu aku tuju ketika berkunjung ke Malang
Namanya Muhammad Yogie Latansa, pemilik NRP genap yang berselisih 30 orang denganku saat kuliah dulu. Dilihat dari urutan NRP-nya pun dapat dipastikan kami sama-sama diterima di jurusan Teknik Material dan Metalurgi (sekarang Departemen Teknik Material) FTI-ITS melalui jalur Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tulis tahun 2012. Entah sejak kapan kami saling mengenal, yang pasti jelas diawali dari satu tempat bersejarah bagi angkatan kami: food court Pakuwon City.

Masih ingat dengan tempat ini? Lima tahun lalu tempat ini jadi tempat gathering pertamanya calon generasi MATRICE ke-14. Di mana foto ini ku-capture sesaat setelah Frizka privately gave a good news about hari lamarannya yang berlangsung beberapa pekan lalu. @ Area Food Court Pakuwon City menjelang maghrib.
Itulah tempatnya, how nostalgic it is!!! Setidaknya bagi angkatan MT14.

Dan setelah beberapa bulan menghuni gedung perkuliahan yang sama, entah bagaimana mekanismenya Yogie dan aku seringkali hangout bareng. Saling akrab dengan sebutan "ndul" sejak maba, saling bayarin makan tanpa minta tukar, nitip beli jajanan tanpa embel-embel bayar, request antar ke Gr*media/Tog*mas/dll untuk hunting buku bareng tanpa sungkan, saling memberikan oleh-oleh tanpa diminta setibanya kami dari pergi ke luar kota, dan bahkan saling menemani di masa-masa transisi pendaftaran menuju jenjang selanjutnya (S2) pun telah kami lewati bersama. LIMA TAHUN, tak kurang dari enam puluh bulan kami telah menjalani relationship semacam ini. Didukung dengan penelusuran dan investigasi lebih lanjut bahwa ternyata orang tua kami (papaku dan ayah Yogie) mendiami gedung SMK yang sama hanya berbeda beberapa bulan dalam hal jenjang. Cocok, match like no other!

"Makan Zha, dihabiskan aja yang ada nggak papa! Nanti tante masak lagi"
"Itu lho ada bakso, di-pending dulu aja ngobrolnya, sana ambil mangkok!"
"Mau kopi apa teh, Zha? Mumpung dingin-dingin gini..."
"Duh, Ozha udah kesandung berapa kali aja disitu (penghubung antara ruang TV dan dapur rumah Yogie), kayanya perlu dikasih penanda tuh, Yah!"
"Ozha, Yogie, kalau keluar nanti pulangnya nitip perlengkapan punya dek Oca ya!"
"Kamu mandi duluan aja sana, Zha! Yang lain masih susah dibangunin ini lho..."
"Udah sholat kan ini tadi? Kalau belum sholat dulu sebelum tidur, jangan begadang, kamu capek!"

Semua kalimat dalam tanda kutip itu terlontar begitu saja dari mamanya Yogie setiap kali aku berkunjung ke rumahnya. Memang sangat terasa tak ada lagi sekat antara kawan dari anaknya atau anaknya sendiri ketika menginstruksikan sesuatu. Yang sekali lagi, entah sejak kapan hubungan semacam ini terjalin, kami tak paham tepatnya.

"Ozh, Eka lho ngene..."
"Lha, nek aku karo Tira biasane koyok ngene lho, Yog..."
"Kon pernah nggak khawatir karo pacarmu sampe koyok ngene?
"Menurutku sih wajar Yog, cewek kan butuh blablablabla...."

Curhat tentang pasangan masing-masing? Bahkan sejak masih bersama dengan pasangan yang sebelumnya (baca: setan *eh mantan maksudnya), kami pun saling mengetahui cerita masing-masing. Dari mulai cerita polesan, pencitraan, dan layak masuk instagram sampai behind the scene-nya pun kami tak ada tedeng aling-aling dalam berbagi kisah satu sama lain.

Ah, sudah begitu banyak cerita dan sampah-sampah yang saling kita tumpahkan. Dan bahkan tak jarang juga tanpa dikode, tanpa dikomando, dan tak ada yang janjian sama sekali, rasa rindu di antara kami muncul bersamaan. Literally BERSAMAAN, buktinya seringkali kami menerima sms satu sama lain dalam waktu yang bersamaan padahal lagi liburan kuliah (saat dulu masih populernya sms, sebelum BBM yang mengawali smartphone chat merajalela). Lalu apa isinya?

Tak begitu penting sih, paling juga: "Hei ndul, yaopo kabarmu?" atau semacamnya.

Susah memang untuk dideskripsikan sedekat apa kami, tapi setidaknya gambaran-gambaran peristiwa di atas sudah cukup menginterpretasikan kawan macam apa yang kutemui pertama kali di pekan pertama ini.

Partner in crime? Yes, after Yogie, she's my true ally in my whole bachelor's life
Nimas Faradyta, cewek yang sejak maba paham banget sama kisah kasih dan kisruh dari si #KotakAjaib, sampai-sampai di inner circle-nya yang lain dia mendapatkan label sebagai "Sahabat Kotak". Hahahaha, sampai ketawa sendiri ketika kudengar ceritanya bagaimana mendapatkan label semacam itu. Tak hanya kisah-kisah biasa yang kami bagikan, bahkan cerita kontroversial masing-masing yang belum layak publish pun kami sudah saling tahu duluan.

Dulu di angkatan kami sempat mendapatkan labelling cinlok terselubung, yang jelas-jelas kami paham aturannya: kami sudah punya pasangan masing-masing. Dan partner in crime shall be partner in crime, sampai akhir, sampai kami telah memilih jalan hidup masing-masing tepat di bulan ini: AGUSTUS 2017. Nimas yang akan segera menikah di 10 September nanti, dan juga aku yang telah mendeklarasikan keseriusan dengan seseorang asal Depok yang pada seri SVE17 kali ini juga akan sedikit aku ceritakan (mungkin).

Lalu, seperti Yogie tadi, pertanyaannya sama: hubungan seperti apa yang terjalin di antara kalian?

"Zha, nitip FRS-an ya! Kamu ambil kelas apapun aku ikut. Aku percaya lah sama pilihanmu."
"Nims, aku telat masuk kelas nih, bawain tasku dari sekre HMMT ke kelas dulu dong!"
"Staf-stafmu ke mana hei? Kok lama nggak kelihatan rapat? Bagi tugas yuk!"
"Kamu semester pertama yang cerewet ya, aku ntar gantian yang semester selanjutnya, biar staf-staf nggak bosen diomelin sama satu orang aja."
"Eh Zha, masa' iya kamu dikira blablablabla sama mereka lho!"
"Kemarin pas aku lewat ada yang ngomongin kamu kaya gini coba..."
"Mau dibawain apa nih? Aku lagi keluar lho!"
"Yuk anter ke toko buku! Ada yang mau aku cari nih..."
"Nih, buat kamu. Aku sengaja nggak bilang kalau nyari buku ini buat kukasih ke kamu sejak awal."
"Gimana persiapannya? 'mas'mu udah kelar kerjaan luar pulaunya?
"Tira udah kamu hubungin belum, Zha?"

Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan kami yang ketika di-reveal semuanya akan menghantui hidup kalian (para pembaca) selamanya, karena memang terlalu banyak hal-hal kontroversialnya. Dan lagi, nantinya menjadi tak private lagi di antara kami.

Hmm, setidaknya seperti itulah gambaran hubungan macam apa yang sedang kami jalani sampai saat ini. Serupa dengan Yogie tadi: hal semacam ini telah berlangsung selama LIMA TAHUN.

Dan kata orang, kalau persahabatan itu sudah berlangsung lebih dari 7 tahun, akan langgeng dan will be endless. Dan, langkah kita (Yogie, Nimas, dan aku) tinggal membuktikannya dua tahun lagi menjalani Long Distance Friendship semacam ini, sebelum pada akhirnya akan jadi endless.

Udah, cuma dua aja nih yang dijelasin?

Oh iya, ada lagi sih satu. Kalau yang ini mungkin bisa dibilang kita nggak deket-deket buanget yang ke mana-mana nempel kaya perangko gitu. Tapi setidaknya cukup lah untuk dideskripsikan sebagai kawan lama yang cukup dekat. Dan tanpa sengaja kami bertemu (masih dalam suasana SVE17 dengan tema silaturrahim) di pekan pertama ini.

Kalau yang ini udah pernah aku deskripsikan di akun instagram sih
Namanya Fadhila Avionela, dia ini salah satu saksi hidup yang sempat mengetahui seberapa "semampai"-nya aku waktu SMP. Dia juga sempat jadi partner organisasi selama aku jadi ketua OSIS SMP Negeri 1 Bojonegoro dengan tinggi di bawah rata-rata (waktu itu lebih tinggi dia). Dulu potongannya mulai rambut pendek ala-ala Dora sampai agak panjangan, terus memutuskan pakai kerudung sejak SMA.

"Ozhaaaaa, keluar dong!!!"

setidaknya itu kalimat yang pernah terlontar dari dia pas main ke rumahku bareng Janice pas SMP untuk pertama kalinya. Dan mengapa itu yang kutulis di sini? Karena kalimat itulah yang diingat mamaku sampai sekarang.

Sejak dulu sama saja, kalau udah ketemu obrolannya ngalor ngidul sampai lupa waktu. Bahkan saat di foto ini pun kami baru saja menyelesaikan perhelatan akbar ghibah ngobrol selama 5 jam nonstop. Entah yang tentang nostalgia masa SMP-SMA lah, tentang setan mantan lah, kehidupan masa kuliahnya, juga tentang next step yang sedang akan ia jalani. Disadari atau tidak memang secara tak langsung kami sering kontak-kontakan meski kondisinya aku sedang di Taiwan dan dia di Indonesia, entah via chat Line maupun DM instagram. Anyway, selamat untuk jenjang karir pekerjaan barumu ya! Semoga lekas menemukan pengganti dari si buluk dan pendek (ini aku mengutip kata-katamu juga lho ya, jadi jangan dikomplain, wkwkwk).

EPILOG
Cukup ya untuk spin off kali ini, doakan saja penulis ada mood tambahan untuk melanjutkan cerita dari series SVE17 sebelum pekan ini berakhir. Karena ternyata sepulang liburan riset harus dan wajib sudah berjalan dengan akselerasi maksimal. Sekian, dan selamat beraktivitas!!!

Wednesday, August 23, 2017

SVE17 1.0: Dua Tawaran, Sambutan, dan Silaturrahim

Akhirnya setelah sekian bulan aku meninggalkannya, aku kembali lagi.
Meski hanya sejenak aku menikmatinya: keindahan langit senja di Indonesia, dari atas langit Kalimantan.
PROLOG
Wah, sepertinya memang udah bukan hitungan hari lagi writer mencampakkan blog  unyu  yang baru aja bertransformasi color-theme ini ya? Sebulan penuh guys, kerasa nggak? Kalau aku sih, udah agak gatel-gatel gitu efek lama nggak ketik-ketik manja di tuts keyboard dan berbagi cerita. Jadi kali ini series-nya agak sok-sok misterius pakai singkatan dan juga versi gitu. Tapi maksud dari SVE17 ini nggak semisterius kelihatannya kok, karena kode itu hanya kependekan dari Summer Vacation Edition 2017. Dan untuk versinya nggak perlu bingung-bingung diterjemahin juga ya, karena itu hanya menandakan hitungan pekan. Jadi kalau ada kode 1 di digit sebelum titik itu artinya, cerita kali ini terjadi di pekan pertama. Dan angka di belakang titik itu maksudnya space yang disediakan kalau-kalau ternyata terpikirkan cerita lainnya (baca: spin off series) yang juga mungkin terjadi di pekan yang sama. Yaaa gitu deh...
Jadi, kalian siap untuk membaca kelanjutan langkah kaki sang #KotakAjaib?

Dan cerita tentang Going Merry dan Thousand Sunny pun berlanjut di posting kali ini. Bukan lagi menjadi narasi cerita, akan tetapi menjadi impact dari mengapa aku harus "pulang" dan rela meninggalkan rumah di Bojonegoro menuju Surabaya meski baru tiga hari lalu (saat itu) merasakan atmosfer hangatnya perhatian orang tua.

Jadi waktu itu hari Selasa (25/07), aku memutuskan untuk memacu motor kesayangan sejak SMA membelah jalanan Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Surabaya demi sebuah aktivitas (yang mungkin bagi beberapa orang dianggap nggap penting dan "apa banget") bernama silaturrahim ke jurusan (sekarang namanya departemen) tercinta, Teknik Material dan Metalurgi (sekarang namanya Teknik Material) ITS. Tujuan utama dari silaturrahim kali ini adalah tindak lanjut dari percakapan-percakapan dan kode-kode pertemuan dari bapak dosen pembimbing utama Tugas Akhirku yang tak lain dan tak bukan adalah Kepala Departemen Teknik Material (DTM) FTI-ITS periode berjalan. Mungkin beliau sudah kangen dengan anak didik bandelnya yang sering ndableg kalau diberi wejangan tentang risetnya saat S1. Hihihi, yang meski hitungannya berupa ke-ndableg-an, hal-hal itulah yang juga mengantarkanku untuk berhasil menancapkan tonggak riset material paduan Magnesium untuk biomaterial ortopedi di DTM. Terbukti untuk riset-riset selanjutnya tak sedikit adik-adik yang melanjutkan topik risetku.

Oke, flashback-nya lebih baik dicukupkan saja sebelum terkesan membosankan. Jadi tepat pukul 10.00 pagi aku telah tiba di kosan Suto Guswanda untuk meletakkan barang-barang bawaanku, karena memang selama beberapa hari ke depan rencananya aku menginap di kosannya. Setelah sebelumnya mengobati rasa rindu pada bangunan paling sejuk di seantero ITS: Masjid Manarul Ilmi, dengan sejenak bersujud di aula utamanya dan duduk di sandaran berbahan keras paling ergonomis di ITS: pilar masjid Manarul Ilmi.

Tak menyianyiakan waktu, segera setelah itu aku memacu motor menuju gedung departemen TM. Gedung yang lima tahun lalu sempat menjadi gedung paling angker selama menjadi mahasiswa baru, yang tanpa perlu diceritakan detail sepertinya kawan-kawan yang senasib seperjuangan denganku akan paham dengan sendirinya.

Di sana aku disambut baik sekali layaknya kawan lama, saudara, serta sahabat oleh civitas akademik DTM. Baik dari mas Basuki sang penjaga gerbang keluar masuk motor dan sepeda di jurusan (aku sebutnya gini aja ya, biar bisa bernostalgia dengan penamaannya), pak Anto sang penjaga furnace lab. Metalurgi, pak Moko sang pranata serba bisa, juga bapak-bapak lainnya. Tak lupa juga adik-adik angkatan 2013 yang masih berjuang dengan yudisium mereka (pekan itu), mereka semua menyambutku dengan hangat dan baik. Hingga tibalah saat di mana aku harus masuk ke ruangan sakral: area ruang dosen. Bagaimana bisa sakral? Iya lah, kita (mahasiswa) hanya bisa masuk ke sana jika mengurus berkas beasiswa, menyerahkan borang FRS dan ekivalensi, menemui dosen wali, lobbying untuk pengurusan praktikum adik-adik (saat menjadi asisten lab), bahkan sidang Tugas Akhir, serta urusan-urusan resmi lainnya. Ah, how nostalgic memories it is...

Di sana aku sekali lagi disambut dengan satu pertanyaan sejuta (umat) dosen, "Lho, Ozha lagi pulang? Gimana risetnya? Lancar kan ya?"

Dan hanya jawaban yang selalu sama dan default yang keluar dari mulutku, "Iya pak/bu, Alhamdulillah Lancar, makanya ini bisa liburan dan pulang." (if you know what I mean)

Hanya saja satu jawaban lain yang kukeluarkan jika beliau-beliau mulai menanyakan satu hal: "Kamu kapan lulusnya? Kembali kan nanti?"

"InshaAllah tahun depan untuk Master-nya pak/bu, mohon doanya. Kalau pertanyaan kedua itu mungkin akan (bisa) saya jawab pas saya selesai menemui pak Agung Purniawan nanti. Pak Agung wonten, pak/bu?" begitu jawabku.

Yang akan disusul dengan senyuman termanis beliau-beliau sambil berkata, "Ya sudah, semoga lancar ya di sana dan cepat kembali. Pak Agung ada di ruangan kok, dan lagi nggak sibuk. Segera ditemui saja!"

Singkat cerita pak Agung dan juga bu Diah Susanti menerimaku dengan ramah di ruangan beliau berdua (ruang Kepala dan Sekretaris DTM). Saat itu kami semua mengobrol ngalor ngidul dan berdiskusi tentang pertanyaan-pertanyaan yang sempat mengganjal di pikiran masing-masing. Berjam-jam tanpa sekat, kami berbincang bukan lagi dalam kondisi dosen-mahasiswa, akan tetapi lebih ke partner dan kolega. Tak hanya berbincang, bahkan seharian itu aku di-provide layaknya tamu oleh bapak ibu dosen. Mengapa kubilang tamu? Karena selain ditraktir makan, aku juga diajak berkeliling ITS bersama beberapa dosen dalam satu mobil.

Lalu topik pembicaraan seperti apa yang terjalin di sana?

Jelas, tak jauh-jauh dari nostalgia masa kuliah: saat di mana sekat dosen dan mahasiswa masih melekat di titel kami masing-masing, kondisi DTM dan ITS sekarang, keputusanku untuk lanjut PhD atau kerja di Taiwan dulu, tawaran kembali, serta saran-saran ke depan untukku dan rencana pembangunan/pengembangan DTM ITS.

Ah, sungguh sangat luar biasa. Pengalaman pekan pertama ini jelas sekali sangat berharga. Karena dengannya aku telah berhasil mendapatkan koneksi kuat (strong bond) dengan beliau-beliau para dosen yang selama delapan semester membimbingku dan memberikan banyak wawasan saat di jenjang S1. Bahkan tak hanya itu, aku mendapatkan labelling baru dari beliau-beliau selain "mahasiswa DTM yang telah lulus": yaitu partner aset.

Entah apa maksudnya, yang pasti intinya di momentum itu aku sangat menikmati update hubungan semacam itu, dosen-mahasiswa menjadi partner-kolega.

Lalu apa hubungannya dengan judul yang tersemat?

Oh, maksudnya di redaksional Dua Tawaran dan Sambutan? Sepertinya itu tak harus dijelaskan terlalu detail lah ya, yang pasti tawaran-tawaran itu dilontarkan oleh profesorku serta general manager dari perusahaan yang proyeknya sedang kukerjakan beberapa waktu lalu sebelum aku pulang ke Indonesia. Dan untuk sambutan, kukira jika kalian membaca dengan cermat di posting kali ini sejak awal pasti paham apa yang kumaksud.

Yah, nggak seru nih mainnya kode-kode...

Hahaha, tenang aja lah, suatu saat kodenya juga akan terpecahkan. Dan untuk mengobati rasa "ke-nggak seru-an" pembaca, berikut ini aku sematkan juga beberapa dokumentasi lain tentang silaturrahim yang terjadi di SVE17 1.0 kok, check this out!!!

Masih ingat siapa mereka? Beberapa hal tentang kami pernah kutuliskan secara gamblang pada satu posting yang nggak kalah bapering tentang REFORMASI. Tapi di foto ini beda, kami perwakilan tiga generasi pemandu LKMM TM ITS yang dipertemukan melalui hitsnya masalah-masalah yang terjadi di KM ITS pada masanya masing-masing.
Here we are: Berarti x Reformasi x Ekspresi
Foto sebelumnya belum ada Hamida, dan di sini dianya baru datang dan sudah ada beberapa dari kami yang pulang.
Ini sesi lain lagi dari silaturrahim pekan ini: with MT14 warkopers!!!
Bonus dari foto di atas: dua orang kawan yang memutuskan untuk melanjutkan studi Master mereka di kampus tecinta ITS, yang sebelum foto ini di-capture telah menjalani prosesi lari-lari dan ngantri untuk daftar ulang.
Welcome to the new world bro!!!
(Kiri: Kukuh Ardiansani Kurniawan, 2712100013; Kanan: M. Yogie Latansa, 2712100070)
Eh, ternyata ada kesempatan ketemu juga sama beberapa orang cewek-cewek hits-nya Divergent lhooo...
Selain itu juga ketemuan sama mas Azis (aka Brutuz) MT04, yang selain silaturrahim kami juga ngomongin proyek sosial berupa crowdfunding punya Ikatan Alumni Material ITS. Penasaran apa proyeknya? Cek foto abis ini ya...
Yuk donasi yuk!!!
EPILOG
Pekan pertama berakhir manis, karena labelnya memang silaturrahim. Lalu bagaimana dengan pekan kedua? Yuk kita nantikan kelanjutannya!!!

Thursday, April 20, 2017

Things I Randomly Learned

PROLOG
Banyak hal-hal kecil dan sederhana yang sering abai dari pemikiran "serius" kita, dari mulai pengalaman tentang bangun kesiangan, menunggu kendaraan umum, hingga harus berdiri di dalam kereta dan memperhatikan orang-orang di dalamnya, hal-hal remeh temeh tersebut bisa jadi berubah menjadi sebuah pengalaman unik, lucu, dan tak lagi bisa dipandang sebelah mata jika diingat-ingat kembali, pun juga dimaknai. Di tulisan kali ini, potongan-potongan cerita itu akan jadi sebuah kumpulan mozaik yang kucoba sajikan dalam kisah runtutan yang tak runtut.

Mozaik 1:
"Terlambat dan Manajemen Hati"
Malam itu aku mengerjakan sebuah rangkuman proyek yang harus kusetor pada profesor sebelum diminta (caraku selalu demikian, lebih baik menyetorkan laporan progress terlebih dahulu, biasanya H-1 hari sebelum deadline, daripada terlambat dan dikira mangkir dari tanggung jawab). Karena memang kebetulan esok harinya (saat deadline) aku tak akan bisa fokus dalam mengerjakan laporan progress karena suatu hal yang juga sama-sama urgent. Alhasil, kumulai mengerjakannya dari tengah malam (setelah rapat persiapan acara yang sangat amat penting), dan terkirim tepat pukul 04.30 waktu Taiwan. Tidur? Sebentar, menunggu masuk waktu Shubuh terlebih dahulu sepertinya akan sangat membantu mengurangi tingkat stress karena mangkir dari kewajiban beribadah kepada-Nya. Ya kali kan, dosa yang nggak kelihatan aja udah banyak, apalagi harus ninggalin Sholat. Masih "bersarung", mata ini tak bisa bertahan lagi untuk terus terjaga, dan menyerah pada rasa kantuk adalah jawaban terbaik saat itu.
Singkat cerita, rencana berangkat bersama rombongan yang akan menghadiri acara penting pagi itu harus diurungkan. Aku berangkat sendirian, bagaimana bisa? Ya, karena pukul 07.45 pagi aku baru terbangun dan melompat turun dari tempat tidur untuk mandi, pukul 07.48 aku sudah siap dan berlari menuruni tangga dormitory dan mengayuh sepeda menunju Yi Ren Hall, dan 07.50 tepat aku tiba di sana.

"Permisi, apa kamu tahu bus nomor 9025 yang seharusnya 07.50 tiba di NCU, tepatnya tiba di halte ini pukul berapa?" tanyaku pada sesama penunggu kendaraan umum yang mengantri di sana.
"Oh, kukira 07.40 tadi sudah berangkat, karena memang ini termasuk waktu weekend, jadi itu tadi bus terakhir yang lewat sini pagi ini." jawabnya ramah.

Ah, ternyata jurus mandi "3 menit paket lengkap"ku tak cukup cepat membobol jadwal bus 9025 pagi ini. Terpaksa, 132 dan kereta lah yang menjadi moda transportasiku demi mengejar ketertinggalan rombongan.

*skip cerita tentang lompat-lompat stasiunnya*

Pukul 10.15 smartphone-ku bergetar,
"Zha, cepetan kita hampir maju!" kata pesan tersebut.
"Masih 4 stasiun lagi, mbak, sabar ya!" balasku cepat.

Pukul 10.20 pesannya kembali muncul dari orang yang sama,
"Kamu di mana Zha? Kita maju sekarang lho,"
"Oh, yaudah, semoga lancar ya, aku masih 3 stasiun lagi sampai," balasku lega.

Eh, tunggu dulu, lega ya? Oh iya, perasaan lega lah yang kurasakan saat itu. Bukan karena niat untuk mangkir membaca ikrar atau apapun, hanya saja aku lega karena ternyata aku berhasil memanajemen hati untuk tak kecewa "kehilangan kesempatan untuk ada di momentum sakral yang harusnya penting itu", tak kecewa "kehilangan kesempatan untuk menyaksikan saat banner organisasi dibentangkan sebagai tanda peralihan kepengurusan", tak kecewa "kehilangan kesempatan untuk merasakan berdiri di depan banyak orang yang hadir saat itu, dan diperkenalkan sebagai bagian dari organisasi yang menyebut dirnya History Creator di kepengurusan ini. Ya, aku tak kecewa saat itu: ketika membaca pesan bahwa kesempatan-kesempatan itu gagal kudapatkan. Meski satu menit sebelumnya, hati ini masih berharap aku ada di sana, merasakan atmosfer dan kebanggaan tersendiri di momentum bersejarah itu.

Bagian kuanggap penting, karena pada dasarnya inilah pertama kalinya aku mengalami "sebuah kehilangan kesempatan berharga", dan logikaku mampu menang terhadap penyesalan yang sumbernya jelas dari "terbawa perasaan" saja. Ya, logikaku menang kali ini! Meski jelas, contoh yang kuberikan tentang keterlambatan tidaklah 100% bisa diterima dan dibenarkan. Tapi toh semua ada behind the scene-nya kan? Dan itu semua bukan 100% kehendakku juga untuk "berniat terlambat", meski hanya lima menit.

Mozaik 2:
"Kisah Cinta Romantis di Kereta"
Cuplikan kali ini merupakan flashback dari kisah yang sempat kulewati di mozaik sebelumnya. Kereta yang membawaku menuju Taipei berjalan di atas rel, suara derit rel dan roda kereta tak terlalu terdengar dari dalam, yang menjadi salah satu tipikal kereta di Taiwan. Aku bersandar di tiang dekat pintu. Mendengar percakapan orang di sekitarku tak lagi menjadi masalah, karena semenjak berada di sini dan tak begitu paham bahasa Mandarin membuatku cuek dan cenderung masa bodoh dengan apa yang kudengar. Terdengar seperti Anti Sosial memang, tapi yang kutahu ini adalah salah satu pembelajaran terbaik yang wajib dicoba siapapun untuk menghilangkan kecenderungan KEPO dengan percakapan orang lain: merantaulah ke tempat yang bahasanya tak begitu kau kenal!
Kondisi di dalam kereta saat itu ramai, beberapa muda mudi tak ragu mengumbar kemesraan mereka di depan umum, dari mulai pegang-pegangan, sampai adegan yang jelas ketika itu semua tersemat di film-film Indonesia pasti sudah di-skip atau minimal disensor oleh lembaga sensor. Aku yang melihatnya saja risih, apalagi orang-orang yang berada di samping mereka, untung saja di gerbong itu tak ada anak-anak. Tapi di samping itu semua, ada satu kisah cinta unik dan menginspirasi bagiku. Sejak awal kucoba menganalisis bahwa mereka adalah sepasang suami istri, dengan cincin motif dan model identik yang melingkar di jari manis masing-masing.

Tak ingin menyimpan inspirasi kecil ini untukku saja,
adegan perbincangan hangat mereka menjadi obyek menarik untuk diabadikan.
(abaikan hidung dan bibir yang muncul di pantulan pegangannya)

Ada banyak ekspresi yang saat itu tertangkap dalam amatanku, ekspresi serius sang istri saat mendengarkan sang suami berbicara, ekspresi senang sang istri saat melihat suaminya dengan perhatian membelai rambut istrinya yang menutupi wajah, di tengah obrolan dan goyangan kereta. Bahkan sesekali sang istri membetulkan topi suaminya yang (nampaknya) sedikit longgar. Ah, melihat mereka yang kuingat hanya mama dan papa, rindunya...
Bahkan tanpa mempertontonkan adegan dewasa, mereka telah mampu menghipnotisku, membuatku mau untuk mengalihkan pandangan dari layar smartphone yang dari tadi kupegang untuk melihat jam dan mengestimasi waktu. Menyaksikan mereka serasa waktu sejenak berjalan lambat, tak ada degup jantung yang memburu, ataupun perasaan takut terlambat yang tersirat. Adem, kalau bahasa Jawanya, harmonis sekali mereka, yang entah mengapa membuatku meredefinisi anggapanku sendiri tentang rasa cinta: bukan tentang bagaimana kemesraan diumbar dan dipertontonkan, melainkan dengan ungkapan perhatian dan kasih sayang sederhana yang tak dipaksakan. Tulus, tanpa beban, tak mengharap sorotan, "hanya ada aku dan engkau seorang".

Mozaik 3:
"Ikatan dan Pemersatu"
Nampaknya memang benar, teori atom yang menyatakan bahwa elektron-elektron di sekeliling nukleon tak akan pernah terlepas karena energi ikatan yang mempertahankan posisinya. Beda cerita jika berbicara tentang elektron-elektron itu tereksitasi atau tidak: yang nantinya menyebabkan mereka mendekat ataupun menjauh dari nukleon. (ah, ribetnya!!!) Aku yakin, pembaca banyak yang berpikir demikian...
Tenang, tenang, itu tadi hanya perumpamaan kok. Dan yang ingin kubahas di sini adalah tentang ikatannya. Ada yang bilang, simbol selalu mampu mempersatukan, siapapun, dan di manapun. Sama seperti label INDONESIA, di manapun berada, di belahan dan sudut bumi manapun selalu bisa memberikan telaga tersendiri bagi para musafir yang tengah mengalami dahaga pertemuan dengan saudaranya. Sama seperti kami: para "mantan" (atau halusnya sih dibilang Alumni) penerima beasiswa dari Djarum Foundation selama S1.

Kawan baru ketemu ini namanya Laskar, sama denganku, dia juga Beswan Djarum angkatan 30.
Dia beswan Jogja, aku beswan Surabaya, dan kami "baru" bertemu di Taiwan
Amazing, bukan? Selama setahun menjadi beswan Djarum dan melewati NB, CB, LD, dan mungkin beberapa kali menjadi LO adik-adik beswan Djarum 31, sama sekali kami belum pernah bertemu dan bercakap seakrab kemarin. Ceritanya memang unik, sama seperti cerita sebelumnya tentang perjalanan ke selatan Taiwan, Mushalla selalu membawa berkah tersendiri dalam mempertemukan. Maghrib, Mushalla NTUST menjadi destinasi tempat berbisik pada bumi untuk diperdengarkan ke langit. Istighfar, Tasbih, Tahmid, dan Takbir telah berhasil menggerakkan bibir ini setelah sholat.

"Mas? Beswan angkatan berapa ya?" tanyaku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Lho? Saya 30, mas, kalau mas? Kok tahu?" jawabnya tersenyum, menyambut jabat tanganku.
"Wah, aku juga angkatan 30, namaku Ozha. Aku beswan Surabaya," jawabku
"Alhamdulillah, ketemu temen di sini, namaku Laskar, beswan Jogja,"

Obrolan-obrolan nostalgia selama menjabat sebagai beswan Djarum menjadi pemersatu dan pengikat tersendiri di antara kami. Jujur saja, jaket biru-kelabu itu menjadi identitas tak terlupakan bagi kami, dan karena ikatan itu juga lah aku secara tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan es-ka-es-de kepada si pemakainya, yang tak lain adalah kawan seper-beswan Djarum-an angkatan 30.
Benar kan? Teori ikatan antar atom itu tak terbantahkan, karena hanya dengan ikatan itulah kami* akrab, di manapun, dan sejauh apapun kami dari tempat asal**.

*si pemilik atom-atom yang disematkan oleh-Nya di tubuh kami
**tanah air Indonesia

Mozaik 4:
"Kesamaan Background dan Obrolan Optimis tentang Indonesia"
Malam itu aku sengaja menginap di dormitory kawan-kawan NTUST. Malam Minggu ini rencananya kami (angkatan MT14 yang mendiami regional Taiwan) akan melakukan take video untuk memeriahkan Anniversary angkatan kami yang ke-4. Akan tetapi, karena memang masih harus menunggu beberapa kawan lain yang belum hadir di Taipei (kota untuk obyek pengambilan gambar kami), maka rencana itu ditunda esok hari. Alhasil, bermalam Minggu di area Gongguan menjadi agenda tak terencana, tapi terlaksana. (udah mirip labelling pas LPJ Himpunan belum? Hahaha)
Acaranya hari itu: beli martabak, jalan-jalan, dan duduk-duduk di taman dekat pintu keluar kampus National Taiwan University.

"Assalamu'alaikum!" seruku pada seseorang yang lewat di dekat kami malam itu.
"Wa'alaikumussalaam... Hei! Nang kene?" jawabnya.
"Iyo mas, dolan ae, nyambangi konco-konco, wes suwe nggak ketemu," balasku

Latar belakang dan beberapa cerita masa lalu yang hampir sama membuat obrolan semakin hangat. Bagaimana tak "hampir sama", kan memang mas Gita Novian adalah salah satu bagian dari keluarga MATRICE juga, meski berbeda angkatan denganku. Kisah demi kisah tentang penelitian, dunia kerja, trik-trik sepik profesor mengalir begitu saja malam itu. Sampai pada akhirnya menghasilkan sebuah statement tentang semangat kebangsaan dari kami,

"Memang apa sih yang kita cari jauh-jauh kemari kalau bukan untuk kembali dan membangun Indonesia?" tanyaku dengan tatapan menerawang ke langit.
"Tak ada lagi, pilihannya demikian, curi ilmu, perkaya diri dengan wawasan dan pengetahuan, kembali, dan bangun peradaban," ujarnya menjawabku (intinya demikian, aku lupa kata-kata tepat yang keluar darinya bagaimana)
"Oh iya, sampeyan nggak ingin cari kerja di sini?"
"Aku sudah pernah kerja, dan aku sudah paham bagaimana atmosfernya, aku ingin mengajar: jadi dosen!" tukasnya, "itu pun kalau dapat tempat cepat," imbuhnya.
"Kalau nggak cepat?" tanyaku.
"Banyak rencana dan jalan, asal niatnya tetap positif sih mengapa tidak dijalankan? Meski aku nggak bisa bilang sekarang."
"Ah iya, apapun rencananya, niatkan untuk ibadah dan mengharumkan nama bangsa Indonesia ya, mas!" ujarku.
"InshaAllah..." balasnya.

Terbukti kan? Malam itu bergelimang optimisme dan cita-cita mulia dari dua orang anak bangsa yang merantau ke sudut kecil salah satu entitas politik milik China.

Mozaik 5:
"Road to tanggal 20* yang ke-48"
Mozaik terakhir yang bertengger di tulisan kali ini tak banyak yang ingin kubahas, hanya secuil kata-kata untuk angkatanku tercinta, yang mungkin sudah jauh terpisah satu sama lain. Tapi sebelumnya mendingan aku cantumin beberapa chat di chatroom para tukang rusuh menyambut 20 April yang ke-48 ini deh,
________________________________________________
Member chatroom: Fadhil (koor Jogja dan sekitarnya), Syarif (koor Borneo), Nyoman Suprayojana (koor Bali), dayu (koor Jabodetabek), Hastya Anisa Rufaida (koor Jogja juga kali ya?), Widia Anggia Vicky (koor Surabaya dan sekitarnya), Azhar Basyir (editor andalan MT14), Gilang Maulana H (koor Jabodetabek juga), dan tentunya ada aku.
________________________________________________
22:00 Ozha Hernandha | 弗達斯: "Ini apa gaes?"
22:00 dayu: "Ini grup yg isinya pj region"
22:01 dayu: "Kemarin dari Jabodetabek ada saran buat photo collage gitu"
22:01 dayu: "Terus pengennya kita buat kata kata happy anniv"
22:07 Widia Anggia Vicky: "Kalo make kertas tiap orang riweuh"
22:07 Widia Anggia Vicky: "Yang simple aja"
22:07 Widia Anggia Vicky: "Kalo yg bawa tulisan sendiri2 susah keknya"
22:07 dayu: Yaudah, bebas aja konsepnya...
22:07 Widia Anggia Vicky: Apalagi kalo yg di tempat kerja
22:21 Syarif: "Terus terang ya rek..."
22:21 Fadhil: "Yang di jogja kantornya pada mencar day, syulit"
22:21 Syarif: "Kalo yg Borneo kayanya ga bakal jalan"
22:21 Syarif: "Soalnya anaknya cm 3, dan tempatnya mencar. Willi di Bpn kota, aku masih 10 jam dari Bpn, dan Dayat malah lebih dekat ke Malaysia, di Tarakan."
22:22 Syarif: "Dayat juauh"
22:22 Ozha Hernandha | 弗達斯: "Kalo usul dari aku guys, mendingan fotonya sebisanya aja, untuk print bisa diusahakan tulisannya apa font dsbnya. Kalo kondisi, mending ngumpul bareng di tempat yg jadi icon regional masing2 atau di manapun asalkan kumpul dan ngga memberatkan."
22:22 Fadhil: "Ini tema annivnya happy arseneversary kan? cc: @Syarif "
22:22 dayu: "Kok kasian, Sya"
22:22 dayu: "Kamu kesepian"
22:23 Syarif: "Temenin sini"
22:23 Fadhil: "Kan ultah yg ke 4 rip wkwk"
22:23 dayu: "Jemput Dayu, Sya"
22:23 Fadhil: "usul Ozha masuk"
22:23 dayu: "usul Ozha masuk"
22:24 dayu: "Tapi jangan lupa di kumpulinnya sebelum tgl 20 ya biar bisa diedit dulu 😂"
22:42 Nyoman Suprayojana: "Berdasarkan kreatifitas masing2 region aja, entah video ataupun foto"
22:43 dayu: "Setuju"
(meanwhile)
22:46 Gilang Maulana H: "Apa lagi ini, too much chat group tante"
(another meanwhile)
06:04 Hastya Anisa Rufaida: "Rame banget"
07:06 dayu: "Baca nis dari atas wkkk"
12:49 Hastya Anisa Rufaida: "Terlalu banyak daaay wakakk"
________________________________________________

Hingga akhirnya video dan foto-foto kumpul pun digarap masing-masing region, tak terkecuali regional terjauh dan paling terpencil: Taiwan.


Itu sih cuma video perjalanan mencari view aja, untuk main video-nya ada di sini nih:


Eits, tunggu dulu, ada juga tambahan ucapan dari regional Taiwan, mau tahu gimana ucapan dan doa-doanya? Lets check this out!!!


Udah?

Udah, asli aku speechless untuk ulang tahun kali ini. Kalau tahun lalu adalah ulang tahun terakhir saat kita kumpul terbanyak-terakhir di kampus sebelum semua pada lulus, tahun ini adalah tahun pertama kita merayakan Anniversary jauh-jauhan dan el-de-er-an. Duh, nano nano rasanya...

Yang pasti doa-doa baik yang terpanjatkan hari ini, untuk kita semua, adalah tulus dari hati kita masing-masing untuk saling menyemangati dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, menjadikannya jalan ikhtiar untuk meniti sukses masing-masing.


HAPPY ANNIVERSARY MT14


"Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, ingatlah 20 April..."

Satu hal yang bisa kita sikapi bersama dari mozaik ke-5 ini: Menjaga jarak adalah cara terindah untuk memupuk kerinduan, cara terbaik untuk memecah kejenuhan, dan cara tersukses untuk menumbuhkan rasa cinta. Dan disadari atau tidak, kita rindu satu sama lain...

Semoga sukses MT14!!!

*maksudnya tanggal 20 punya MT14

EPILOG:
Udah ah, capek, lelah, di tengah eksperimen yang masih stuck, cuma ingin menulis sebisaku aja untuk menyalurkan energi stress biar lebih positif aja. See you!!!

Saturday, April 18, 2015

Titipan Cinta untuk HMMT (edisi PMO 2015)

PROLOG
     Selalu seperti ini, baperan! Iya, baper (bawa perasaan), setiap apa-apa yang mau mencapai ujung selalu dibawa baper. Gimana enggak? Setahun lalu moment ini juga yang menggalaukan, pasca LKMM TM XIII FTI-ITS, aku mutusin ikut PMO HMMT gara-gara berniat “melanjutkan estafet kepengurusan HMMT”. Yah meski urung, setidaknya tetep aja kebawa aja bapernya (lagi).

    Kini giliran kami, para pengurus inti HMMT FTI-ITS, kabinet Totalitas 2014/2015 yang digawangi Ucup (Yusuf Sultoni) sebagai kahima terpilih, untuk menjadi SC (Steering Commitee) dan panitia inti dari pelatihan dan pembekalan formal terakhir bagi adik-adik MT15. Mereka yang saat ini menjadi staf tak ubahnya seperti kami tahun lalu, banyak yang harus dipelajari dan didapatkan, digali, dan dikantongi, terutama tentang organisasi, dan lebih spesifik lagi tentang HMMT. Tahun ini kami membaca peluang ke”baper”an di diri mereka (staf MT15). Dari hasil analisis ARM (Analisis Raw Material) staf dan dirapatkan berkali-kali, dengan mengadopsi beberapa materi LKMM TM ITS dan beberapa materi PW (Pengembangan Wawasan) yang kami fokuskan pada ke-HMMT-an, akhirnya kami memutuskan sebuah tema unik, CINTA: Ekspresi Totalitasku untuk HMMT. Seolah lempeng ya temanya? Nggak juga kok, di PMO kali ini kami memilih sepenuhnya pendekatan perasaan ke peserta. Dari mulai dasaran kami yang secara sepenuh hati dan totalitas memberikan yang terbaik bagi peserta sejak proses pengumpulan berkas hingga pelatihan, kami juga menghadirkan sebuah sesi khusus tanpa nama. Sebenernya sih judulnya “kontemplasi” tapi berujung pada rencana B yang kami (SC) buat, yaitu sesi Curhat. Apa saja isinya cukup antara kami saja yang tahu, yang pasti sesi itu berakhir hingga larut malam (dini hari).
     Sekilas sih tak ada yang spesial tentang itu semua, hanya sebuah pelatihan yang kami konsep, lalu kami berikan pada adik-adik kami. Cukup!
   Ya memang hanya itu tujuannya. Akan tetapi (aku bilang) efek sampingnya adalah, kami memberikan sebuah penanaman lebih kepada calon pemegang estafet HMMT ke depan untuk lebih mengerti tentang HMMT. Itulah yang menjawab mengapa kami harus repot-repot menghadirkan mas Muhammad Atha Illah sebagai pemateri. Secara pribadi aku bangga, staf-stafku yang notabene adalah para manusia “tidak suka” pelatihan mau mengikuti PMO ini. Dan dari sana timbul harapan besar pada mereka, juga kegundahan hati mereka sendiri, tentang jabatan, amanah, dan posisi strategis di HMMT. Aku membiarkannya demikian, karena memang rasa itu haruslah ada, demi keberlangsungan HMMT menuju generasi selanjutnya, dan untuk perputaran roda organisasi kebanggaan kami ini.
     Mungkin tak banyak yang bisa kami berikan, tapi setidaknay inilah curahat cinta kami kepada HMMT, juga kepada kalian para staf MT15. Semoga kita semua lancar dalam menjalani akhir kepengurusan ini. Semangaaaat!!!

EPILOG
     Mau tak mau kondisi ini akan selalu ada, kondisi di mana seorang kakak memberikan pembekalan formal terakhir pada adik-adiknya. Tapi ketahuilah, bahwa pembekalan formal bukan menjadi akhir dari komunikasi dan pembelajaran yang akan kami berikan kepada kalian, adik-adik staf HMMT FTI-ITS 2014/2015.

Thursday, April 10, 2014

Ikat Rambut, Pola Pikir, dan Generasi ke Empat Belas

PROLOG
Dua belas bulan yang lalu, tepatnya di salah satu tanggal istimewa bulan April 2013, aku berada di masa paling bahagia setelah melalui delapan bulan kebersamaan dalam masa terindah dengan MT14. Tersirat sebuah pemikiran kecil di sana, di sebuah moment terbaik itu ada sedikit pertanyaan. "Ya, sekarang aku sudah jauh berbeda dari masa SMA, delapan bulan dengan hasil luar biasa dengan endurance yang jauh berbeda dari masa labil sebelumnya, lalu akan jadi apa aku setelah ini? Okelah, masa-masa yang lebih indah pasca moment ini akan terlalui, tapi akan terasa percuma tanpa ada pembelajaran khusus di dalam diriku sendiri."
Lalu apa?

Dan semua tercetus begitu saja. Mungkin banyak yang bertanya, ada apa denganku dibalik niat terikatnya mahkotaku ala ala ponytail. Jujur aku membenci dan benar-benar memandang negatif cowok berambut panjang.
Lalu apa?
Ya jelas, aku ingin menghilangkan paradigma salah itu.

"Don't judge the book from the sight of its cover."
Meski tak begitu mirip dengan peribahasa aslinya, yang penting maknanya tetap sama, jangan pernah menghakimi orang lain, yang diibaratkan sebagai buku, hanya dari tampilan luarnya saja. Banyak sih orang yang selalu bilang begitu, tapi hanya sebagai PEMBENARAN, nyatanya yang mengucapkannya pun tak jarang mencela orang yang baginya "buruk" tampak luarnya.
Lalu apa?
Untuk itulah aku mencoba menjadi orang yang memiliki citra buruk dalam anggapanku. Bahwa cowok rambut panjang itu identik dengan "nakal", tak taat aturan, tak bisa menjaga kebersihan, dan segala bentuk keburukan-keburukan lainnya.
Lalu apa?
Aku ingin menjadi mereka si rambut panjang. Ingin merasakan bagaimana dipandang buruk orang lain, dari mulai dua puluh lima orang pertama yang memintaku untuk potong rambut, dan aku masih ingat betul siapa-siapa mereka, lalu dibilang "menjijikkan" oleh salah seorang cewek di angkatan, ada lagi yang mengatakan "sok" dengan adanya rambutku yang terikat rapi di belakang kepala, dan segala macam perlakuan negatif yang lain.
Lalu apa?
Aku ingin mematahkan semua paradigma burukku tentang "si gondrong", jadi aku tak peduli apa kata kalian. Jadi maafkan aku jika beberapa bulan yang lalu kata-kata kalian hanyalah angin lalu buatku.
Lalu apa?
Ya, dan dua belas bulan ini aku berhasil mematahkannya.
Cowok rambut panjang itu "tak selalu" negatif. Aku nggak "nakal", aku taat aturan kok, lalu aku juga sangat menjaga kebersihan, dan aku masih bisa menjadi contoh dalam perlakuan bagi adik-adikku (setidaknya di organisasi luar HMMT, karena memang posisinya di HMMT aku belum punya adik).
Lalu apa?
Jangan tanya dulu, aku akan melanjutkan. Satu lagi anggapan buruk orang lain yang tak kalah menyakitkan jika didengarkan oleh orang gondrong seantero Indonesia. Bahwa gondrong itu terkesan tak berpendidikan, dan jika dibandingkan, tak pantas untuk duduk berdampingan dengan orang-orang hebat. Ya setidaknya itu kata-kata lugu dari seseorang yang secara langsung berkomentar di hadapanku. Tanpa menjawab, aku tersenyum kecil dan pergi.
Lalu apa?
Sst, jangan lanjut bertanya dulu. Aku akan melanjutkan, setelah aku tersenyum meninggalkan orang itu aku sedikit berpikir ulang dan membayangkan flashback saat aku duduk bersama calon orang-orang hebat Fakultas Teknologi Industri bergelar "Mahapatih FTI" di LKMM TM XIII FTI-ITS 2014. Aku merasa asing memang, karena itu awal kali aku duduk di sebuah pelatihan dengan ikat rambut di kepala, dan mungkin juga itulah yang terakhir. Yang aku anggap bisa mematahkan celotehan "orang" yang menganggap cowok gondrong itu terkesan tak berpendidikan, aku menemukan satu keunikan lagi di dalam rahim tempat lahirnya forum komunikasi MERPATI itu. Salah seorang pemandu Merah Putih ada yang berambut gondrong juga.
Lalu apa?
Ya jelas, kesan tak berpendidikan tak lagi dapat dilekatkan dengan "gondrong", dan lagi dia berhasil menginspirasi kami disana. Bapak forkom PASOPATI itu jauh dari kesan orang yang tak hebat. Karena dari awal mahasiswa baru hingga kini, aku masih menganggap mas-mas mbak-mbak pemandu itu KEREN, utamanya pemandu LKMM TM. Ya sedikit membahas terlalu teknis sih, tapi tak apalah, itu contoh kecilnya.
Lalu apa?
Hmm, apa lagi ya? Banyak yang dapat dipetik dari uji cobaku selama dua belas bulan itu.

"Kebanyakan manusia hidup dengan anggapan sebagai kesimpulan akhir premis yang mereka ciptakan, bukan dengan hipotesis, metodologi, langkah kerja, dan kesimpulan valid mereka." - Seorang ayah terbaik

Aku mencoba mengesampingkan ego untuk membenci orang gondrong dengan mencoba menjadi mereka adalah contoh kecil yang dapat diambil. Lebih dari itu ada sebuah anggapan yang telah lama usang dan sering jadi bahan renungan, tapi terlupa untuk diterapkan.

"Jangan mencubit jika tak ingin dicubit, jangan menyakiti jika tak ingin disakiti."

Pernah dengar ini? Aku tak ragu bahwa kalimat ini sudah "tak layak" lagi dijadikan quote fenomenal. Banyak yang sudah mendengarnya, tapi lupa untuk menerapkannya.
Lalu apa?
Apa bagaimana yang dimaksud?
Lalu apa? Apa kaitan ke"gondrong"anmu dengan itu semua?
Jelas, bagi yang meresapi dari awal membaca coretan-coretan ini, aku ingin menghubungkan sebuah anggapan besar yang menjadi paradigma dasar dari manusia yang selama ini terlupa.

Kita sering terlalu mengedepankan egoisme, emosi, dan hal-hal tak valid lainnya yang terbawa oleh segumpal daging dalam dada yang sering menyebut dirinya hati. Aku tak bilang hati itu salah dan logika itu benar. Hanya saja, saat ini lebih sering manusia mengedepankan insting untuk mengerti orang lain. Tanpa harus menanyainya lebih lanjut dan mengetahui lebih dalam, mereka sudah bisa menyimpulkan bagaimana orang itu hanya dengan observasi tak logis yang dilakukan. Tanpa bercuap-cuap dari hati ke hati mereka telah berani dengan gamblang mendeskripsikan orang lain dengan kecondongan arah ke perasaan.
Lalu apa?
Jelas itu kesalahan besar. Berapa kali miss komunikasi menjadi dasaran masalah sepele yang berujung menjadi kasus genosida besar-besaran dalam sebuah tawuran? Jelas-jelas hal itu salah dan masih dianggap keren karena bisa menganalisis orang lain hanya dengan sekali lihat, dengan dalih insting yang berbicara. Tapi tak sadarkah bahwa itu salah satu akhlaqul madzmumah? Su'udzon, berprasangka buruk pada orang lain, dengan dalih sekali lagi insting.
Hal ini lah yang sekali lagi ingin aku sampaikan, sering orang bisa berbicara JANGAN MEMANDANG BUKU HANYA DARI HALAMAN MUKANYA SAJA, tapi tak jarang pula dia hanya bisa mengenal orang lain dengan memandang kulit luarnya saja, penampilannya saja, tanpa mengetahui lebih jauh bagaimana orang itu, untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sedang ia "nilai" dari sudut pandang penampilan luar saja.
Lalu apa?
Sekali lagi aku coba hubungkan, aku sekarang sama sekali tak ada anggapan negatif tentang cowok gondrong, karena aku pernah mendalaminya dengan berada di posisi mereka.
Lalu apa?

"Jangan mencubit jika tak ingin dicubit" adalah istilah yang paling tepat untuk orang-orang yang lebih sering berprasangkan dan MEMBICARAKAN ORANG LAIN dengan orang lain tanpa berbicara langsung dengan orang yang dibicarakan. Bahwa dibenci itu sakit, maka jangan membenci. Dan yang paling menampar lagi buatku saat itu adalah sebuah pernyataan langsung dari sesama gondrong, bahwa jadi cowok gondrong yang dianggap buruk itu sakit, makanya jangan pernah menganggap buruk orang gondrong. Yang aku perluas lagi dengan sebuah pernyataan singkat namun bermakna,

"Jika tak mampu memberi jangan merampas, jika tak bisa berbagi tawa, jangan pernah menjadi penyebab tangis, dan jika tak sanggup mengobati jangan pernah coba untuk melukai."

Yakinlah!!! Jika semua orang memiliki toleransi sebesar ini pada kehidupan orang lain, tak akan pernah ada kata FORUM atau RAPAT yang MOLOR, tak akan pernah ada MISI yang TAK SELESAI, dan lagi tak akan pernah ada PERKELAHIAN, KETIDAKCOCOKAN, dan MISS KOMUNIKASI akibat MENGEDEPANKAN EMOSI.
Lalu apa?
Ya, memang heterogenitas adalah biasa, tetapi yang tak biasa adalah ketika kita tak bisa menerima perbedaan yang dibawa orang lain untuk ada dan bersanding bersama kita. Karena manusia kuat adalah manusia yang mampu bertahan menerima rasa sakit, tapi manusia hebat adalah manusia yang mampu mengesampingkan kepentingan emosional pribadi demi kepentingan khalayak yang jauh lebih penting.

EPILOG
Terima kasih MT14, bersama kalian delapan bulan membawaku memiliki pemikiran kecil ini, membawaku ke jalan yang lebih baik dengan lebih bisa memberikan ruang toleransi bagi orang lain, menghargai heterogenitas, dan berhenti untuk berprasangka tanpa ada tindakan nyata untuk mengetahui siapa, apa, dan mengapa.
Dan inilah produk terbaik dari proses bersama dengan generasi MATRICE ke empat belas, sebuah cerita tentang ikat rambut, pola pikir, dan keluarga.
Karena kita ada untuk saling menguatkan, dari mulai kita bersama membentang kain hitam MATRICE dengan pembacaan nama-nama, hingga nanti saat ajal datang menjemput masing-masing dari kita.

*Menyambut moment 1st Anniversary MT14*

#KotakAjaib

Wanna support???