Description

"Who you are, depends on what do you think about GOD and yourself."

#KotakAjaib
Copy-Paste boleh, asal cerdas! Jangan lupa cantumkan sumbernya ya...
http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/
Showing posts with label English. Show all posts
Showing posts with label English. Show all posts

Friday, October 13, 2017

Bio-inspired Materials and Technology: About TRUST, PASSION, and HARD WORK

PROLOG
Yeay, suka banget deh sama tanggapan pembaca dari tulisan terakhir tentang Marriage, baru dua hari dirilis aja responnya udah macem-macem, ada yang chat kelewat curhat, ada yang DM nyasar ke diskusi "berbobot", dan bahkan ada yang ngomong langsung terkait responnya terhadap tulisan dua hari kemarin. Anyway, terima kasih atas support kalian (para pembaca) buat penulis amatiran ini ya, guys.

Kali ini aku cuma ingin berbagi pesan-pesan inspiring yang secara panjang lebar diselipkan selama mata kuliah Bio-inpired Materials and Technology oleh sang profesor di sela memberikan materinya pagi tadi. Sebelum keburu lupa dan menguap begitu saja, lebih baik kuketik saja malam ini.

"Thanks for choosing this class everybody, I never push you to stay here since the initial meeting. You just come and sit here until these continuous weeks for your own will, right?" ujarnya membuka ceramah panjang lebar setelah adanya insiden yang cukup memalukan untuk diceritakan. Tapi tenang, bukan tentang aku atau kawan-kawan Indonesia yang ada di kelas ini kok. So, just calm down. We're not making a shame to our beloved country.

<<<skip cerita memalukannya ya>>>

Jadi intinya hari ini tiba-tiba Prof. Tu Lee ngasih aturan unik yang beliau berlakukan di dalam kelasnya (setelah insiden memalukan itu):
1. Saat mengerjakan apapun, jangan pernah takut salah! Karena kita datang ke dalam sebuah forum diskusi adalah untuk memperkaya diri dengan pengetahuan, bukan untuk saling membanggakan apa yang sudah kita miliki. Jika ingin berkontribusi lebih di dalam forum diskusi, BELAJARLAH LEBIH GIAT menyampaikan pendapat, agar pendapatmu bisa dipertanggung jawabkan!!!
2. Dalam menggali ilmu pengetahuan sekarang ini telah banyak sekali sumber bantuan, tak peduli rekan satu laboratorium, rekan sekelas, Google (ini beliau sebut untuk mewakili internet), dan bahkan saya (profesor) sendiri. "You're free to ask me everything, and I won't take a fee," kelakarnya saat itu. Jadi jangan pernah berhenti mencari bantuan!!!
3. Kamu manusia, kamu makhluk sosial, jadi jangan tertutup apalagi malu untuk mencari tahu apa yang belum kamu tahu!
Dan sebenarnya tiga pesan itu saling berkelindan serta tak bisa dipisahkan satu sama lain, yang secara tersirat mampu menggambarkan keramahan yang ditawarkan institusi pendidikan (universitas) itu sendiri.

Eh, mengapa bisa demikian?

Karena ketika kita gali lebih jauh dari tiga aturan yang dikatakan Prof. Lee tadi, itu semua berhubungan langsung dengan tema menarik tentang keberadaan universitas yang dapat diulas lebih lanjut (salah satunya lewat tulisan kali ini). Universitas, tak peduli di manapun tempatnya, selalu menawarkan keramahan tersendiri bagi penghuninya.

Wait, keramahan seperti apa yang dimaksud?

Jadi begini, ketika kita berikan sebuah perbandingan antara studi lanjut (baik S2 maupun S3, ataupun postdoctoral sekalipun) dengan bekerja (karena ranahku di engineering, maka aku akan memberikan gambaran tentang menjadi engineer) di perusahaan, ditinjau dari gaji/pendapatan maka mereka berdua sangatlah tidak sebanding. Selaras dengan apa yang Prof. Lee katakan, "In a university, in your master or PhD program now, I bet you're get not much money in monthly, right?" yang saat itu jelas sekali diikuti dengan anggukan seisi kelas. Karena pada dasarnya kami semua, 12 orang (3 orang Indonesia, 3 orang Vietnam, 1 orang Mesir, dan sisanya Taiwan) yang mengambil mata kuliah itu, adalah penerima beasiswa baik master maupun PhD di NCU.

Memang, ketika ditinjau lebih lanjut, montly scholarship yang kami terima untuk S2 di sini adalah NT$10.000 dan S3 sekitar NT$15.000 (bisa lebih tergantung dari kinerja, statement ini berani kusebutkan karena kawan PhD satu ruangan labku menerima lebih dari NT$15.000 karena kinerjanya di atas rata-rata). Tapi bandingkan dengan kerja di perusahaan, "you know? A graduated master student, as an employee here (maksudnya di Taiwan), he/she can get at least NT$40.000 and of course it's bigger than yours now," kata Prof. Lee sekali lagi.

Tapi sekali lagi bukan sebatas acuan profit-oriented atau salary-centered yang ingin ditekankan dalam tulisan tentang institusi pendidikan yang kusodorkan pada kalian, dari pesan-pesan profesor yang berhasil kurekam hari ini. Karena memang ketika kita kaji lebih lanjut, universitas, tak peduli di manapun tempatnya, selalu menawarkan keramahan tersendiri bagi penghuninya.

Masih menjawab pertanyaan yang sama dengan sebelumnya, ada 3 hal khusus yang bisa kuulas. Pertama, universitas adalah tempat yang memberikan kemudahan mendapatkan pengetahuan tekstual: bagaimana tidak? Pada umumnya banyak profesor yang selalu siap sedia membimbing kita ketika kita mengalami kegalauan dalam mendaki puncak ilmu pengetahuan, belum lagi akses jurnal, paper, dan juga buku-buku yang sangat susah dicari oleh para R&D di perusahaan, sangat mudah ditemukan ketersediaannya di lingkungan universitas (statement ini terbukti dengan pengalaman pribadiku. Beberapa hari lalu, kakak tingkatku saat S1 dulu, yang sedang bekerja di salah satu perusahaan menghubungiku untuk mencari referensi demi menunjang pengembangan R&D perusahaannya); selanjutnya tentang memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri: di sini sebenarnya ada hubungannya dengan yang ke-3, jadi alangkah lebih baik jika kugabungkan saja; yaitu universitas juga tempat paling pemaaf di dunia (setelah keluarga), meski low-money: di universitas kita diijinkan untuk salah berkali-kali, gagal berkali-kali, dan juga memperbaiki pekerjaan kita berkali-kali.

"Asal ada kemauan dan kesungguhan yang ditunjukkan dalam berusaha dalam mengerjakan eksperimen, di sana akan selalu ada jalan yang dibukakan profesor untuk membantu terlaksananya eksperimen kita dalam hal apapun (termasuk financial problem)," ini opini pribadiku ya.

Fungsi yang berlaku dalam proses ini hanyalah irisan dari fungsi waktu yang menjadi targetan pribadi kita, dengan fungsi hasil yang bisa kita usahakan secara maksimal dan sesuai kemampuan kita, fleksibel bukan? Sebagai contoh: jika kemarin kasusku (dengan kondisi sama persis) terjadi saat bekerja di perusahaan, bisa jadi aku terancam dipecat karena dianggap merugikan mereka berkali-kali. Bagaimana tidak? Kegagalanku (kudefinisikan sebagai ketidak-tercapaian target yang kutentukan sendiri dan disepakati dengan profesor, meski deviasinya kecil) dalam eksperimen sejak setahun lalu bisa jadi terhitung lebih dari 20 kali. Bayangkan saja jika di perusahaan, gagal mencapai target sekali saja mungkin sudah diomelin atasan, ya nggak?*
*pertanyaan bercetak tebal terakhir ini kutujukan untuk orang yang sering mengeluh dengan target pekerjaan yang kesulitan ia capai, serta orang-orang yang sering mengeluh padaku tentang atasannya yang lebih sering menuntut ini-itu daripada melakukan pembimbingan ^_^ (ya iyalah atasan di perusahaan mana ada membimbing kaya dosen/profesor)

"That's why you're paid higher in a company, than here (maksudnya ini ngomongin universitas). Generally, they want you to do more and make a profitable move for them. They don't care about your depression, your lack of knowledge, and maybe your far-from-good-life anymore. Because what they gave to you is a compensation from your works," imbuh Prof. Lee lagi.

Disadari atau tidak memang benar, mayoritas perusahaan masih banyak yang hanya mengejar profit dibandingkan harus mengurus ketidak-bisaan pegawainya dalam menjalankan tugas, padahal juga demi kemajuan perusahaan nantinya. Istilahnya: "kamu diterima di sini (perusahaan) sesuai kualifikasi yang dibutuhkan, kamu menyanggupi dengan kompensasi gaji sekian, ya sudah, kerjakan sebaik mungkin pekerjaanmu untuk memenuhi target perusahaan!" apalagi kalau sudah tiba-tiba atasan bilang: "ya gimana caranya kamu harus bisa, bagaimanapun itu tanggung jawabmu!" checkmate. Kita tak akan pernah bisa menolak, karena memang begitulah adanya (ini pengalaman yang kudapatkan dari hasil curhatan-curhatan para mantan (eh) maksudnya beberapa kawan yang bergelut di perusahaan).

Kompleks ya? Padahal cuma ngomongin studi lanjut (di universitas) dan kerja (di perusahaan).

Hahaha, ya begitulah. Setiap hal yang kita coba pikirkan lebih mendalam akan selalu berujung pada hal-hal kompleks. Oh iya di dalam tambahan petuahnya, Prof. Lee mengatakan bahwa universitas juga menyuratkan beberapa hal filosofis yang lebih mendalam dibandingkan dengan bekerja "terlalu dini" (di perusahaan), dalam hal menghadapi realitas kehidupan.

The first one is TRUST
Mengapa rasa percaya?

Sebenarnya meski di perusahaan juga jelas ada pembelajaran tentang kepercayaan, tapi entah mengapa pastinya tak akan diberikan seramah ketika kita berada di universitas. Dan lagi, di dalam sebuah proses mencari jati diri dan labeling terhadap diri kita masing-masing saat menempuh studi lanjut, kita semua memerlukan sebuah kepercayaan. Ambil contoh simple deh, seorang dokter tak akan didatangi pasien jika dia tidak dipercaya bisa menjadi perantara kesembuhan suatu penyakit, seorang penjual nasi goreng tak akan dibeli dagangannya jika kelezatan rasa masakannya tidak dipercaya oleh pelanggan, begitu juga riset yang kita lakukan tak akan bisa dipercaya oleh para reviewer atau juga masyarakat (ketika telah diterapkan) jika dalam prosesnya ditemukan sebuah mekanisme rekayasa/upaya pembohongan terhadap data yang dihasilkan, serta masih banyak contoh-contoh lainnya.

"Can I trust you?" tanya profesor tiba-tiba.
Jujur saat profesor menanyakan hal ini di depan kelas tadi aku senyum-senyum sendiri, seolah familiar* dengan struktur kalimat pertanyaan semacam itu.
*Penasaran familiarnya di mana? Cek ke sini atau ke sini ya!

Pertanyaan itu bermakna satu: KEPERCAYAAN YANG DIBERIKAN PADAMU ADALAH SEBUAH TANGGUNG JAWAB YANG AKAN KAMU BUKTIKAN BISA TERLAKSANA
"It prove anything," imbuhnya.

"Then, if you've said YES clearly, next question shall be: Do you need the trust?" dan sekali lagi kami ber-12 secara refleks mengangguk.

"Ok, the last: How do you gain the trust?"

Dan ini pertanyaan inti yang sejujurnya perlu pemikiran panjang ketika akan menjawabnya. Yang jelas mendapatkan kepercayaan itu tak mudah, perlu pembuktian bertahun-tahun, membutuhkan waktu yang lama dan intensitas usaha yang tak sedikit.

Bahkan profesor menambahkan, "It always takes time to be a trusted person, but if you do a wrong thing, thus in no time you can be fired from a trust label itself."

That second thing called PASSION
"Passion always connected with happiness, especially who's already found them in here (di universitas, maksudnya semacam menjadikan riset, eksperimen, menulis jurnal, dll sebagai passion). I've a passion in encourage people, I'm also passioning in research and writing paper, that's why now I'm a professor," ujarnya sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Memang sih, tak ada yang bisa menentukan tentang passion yang kita miliki. Karena yang tahu tentang diri kita ya jelas kita sendiri. Untuk itulah pada kata kedua ini melibatkan diri kita dalam menemukan jati diri, melibatkan pemikiran kita dalam menggali potensi yang kita miliki, dan melibatkan hati kita dalam merasakan "cocok-tak cocok" dari apa yang sedang kita kerjakan. Tentu saja dalam menemukan passion ini kita tak bisa sembarangan mengambil hanya permukaan-nya saja dari sebuah pengalaman, karena dalam proses penemuan passion, secara default seharusnya kita telah paham apa yang kita tinggalkan dan yang akan kita pilih selanjutnya: itulah yang dinamakan MEMPERTIMBANGKAN DENGAN MATANG.

"Sometimes maybe you feel guilty about your process, or maybe you feel don't get anything when you're finding your real passion. But trust me! You never lose anything from your experiences, it always has an interesting story to share and something worth to comprehend," kata profesor menggebu-gebu.

Last but not least is WORK HARD*
*or maybe we can say it as struggle

"Then, after you've found your passion. Do your best for that! WORK HARD for your passion until it becomes your way to success. But if you still need more time to find your passion, keep searching and struggling until you found it!" imbuhnya lagi.

Ya, untuk yang terakhir ini aku speechless, karena semua pesannya benar. Meski tantangannya jelas bahwa dalam bekerja keras menemukan passion ada kalanya perhitungan dan persiapan kita tak selalu berguna.

Nah, jadi bagaimana dong?

Ya sesuai pesan profesor, ada baiknya kita terus bekerja keras, terus memperhitungkan, merencanakan, dan mempersiapkan apapun untuk masa depan kita. Tak peduli kapan dan di mana passion dan kerja keras kita akan bermuara (maksudnya di bidang apa) nantinya.

"Life's not always predictable, that's why we only can study about bio-inspired materials and technology, but can't 100% replicate what's nature: the living thing or biological creature did. And let me tell you a secret!"

Dan mendadak kami terdiam (atau tepatnya bengong), "as an engineer, please don't always predict anything! Including your spouse-soon-to-be, because it shall be an unpredictable thing. Like me and my wife now, I never imagine committing my life to her, not cheating her with another, and do everything in my whole age with her until the rest of my life."

Hahaha, dan ujung-ujungnya profesor curhat juga di penutupnya. Ya, begitulah kira-kira apa yang beliau sampaikan secara panjang lebar hari ini. Oh iya mirip tulisan kemarin, di akhir tulisanku kali ini aku juga akan mencoba mengingatkan diriku sendiri, juga pembaca sekalian bahwa di dalam setiap pemilihan apapun di dalam hidup ini jangan pernah 100% memilih tanpa pijakan campur tangan Allah SWT. Yang ketika kukorelasikan dengan tulisanku dari awal sampai akhir, baik dalam memilih jalur studi lanjut, bekerja (di perusahaan atau lainnya), melanjutkan jalan memilih passion maupun menetap untuk mendalami lebih jauh di passion tertentu, ingatlah selalu:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 216)
EPILOG
Dan penutup untuk tulisan kali ini adalah: selamat memaknai segala sesuatu di manapun dan kapanpun juga. Karena kita tak pernah tahu pembelajaran hidup macam apa dan seperti apa yang akan kita dapatkan ketika kita berada di suatu tempat atau waktu tertentu. Jadilah gelas setengah isi yang siap menerima pembelajaran dalam bentuk apapun!
Selamat ber-Jumat malam...

NOTE: Prof. Tu Lee ini adalah Head of Chemical and Materials Engineering Department, National Central University Taiwan, yang baru diangkat tahun ini. Thanks for your encouragement, Prof!!!

Wednesday, July 5, 2017

Karena Pelangi Tak Hanya Ada di Matamu

PROLOG
Sesendu sore di hujan musim panas, menjadi candu, meski sejujurnya tak berada pada tempat yang semestinya.

Perjuangan dan harapan untuk menghadapi satu demi satu tantangan "awal" telah usai. Dua semester telah terlewati dengan begitu banyak dinamika dan ketidakstabilan kondisinya. Mulai dari betapa senangnya dapat melanjutkan studi di negeri orang, hingga terbersit sebuah rasa "tak nyaman" dari sekedar tak mengikuti prosesi pemindahan tali topi wisuda. Ya, setidaknya beberapa orang yang menyemangatiku bilang itu hanya "sekedar", jadi bukan aku sendiri yang mendefinisikannya demikian.

Dua bulan awal menikmati masa "jalan-jalan", adaptasi sana-sini hingga pada akhirnya terjun ke dalam sebuah arus deras sebuah sungai pengetahuan. Yang karena deras arusnya, hingga saat ini belum banyak yang mampu bertahan sampai akhir saat berlayar mengarunginya. Tujuh bulan berikutnya, tak banyak yang berubah, hanya pengetahuan-pengetahuan dasar yang harus kupelajari dari awal tanpa ada penuntun jalan yang benar-benar bisa diandalkan.

Sendirian?

Ya, aku seorang diri membentangkan layar, aku pun seorang diri dalam mendorong kapal menuju derasnya arus sungai. Bahkan, untuk menentukan arah pun aku seorang diri. Gagal, layarnya terkoyak, dan pada akhirnya harus karam di antara bebatuan, setelah bertarung selama sembilan bulan.

Bingung?

Yap, hujan masih turun, dan mendung masih menyelimuti langit.

Sembilan bulan diselimuti gundah, ragu, antara ingin lanjut dengan idealisme, atau harus sejenak menepi untuk membangun kapal baru dengan sistem berbeda, dengan pengetahuan navigasi dan amunisi yang lebih mumpuni dibanding sebelumnya.

Sepekan, dua pekan, cukup lah!

Aku menyerah dengan keadaan, hingga akhirnya kutemukan sebuah naskah yang belum kafi dan masih membutuhkan banyak telaah.

Lalu?

"Captain! I found this..." kataku membawa gulungan naskah tersebut.
"Do you think that's good?" jawabnya singkat
"Please wait for my explanation about this!" ujarku mantap

Tampaknya penjelasanku memukaunya, terpancar rasa harap di matanya. Akan tetapi sepertinya naskah itu belum mampu memperbaiki kapal lamaku dalam waktu dekat, karena apa-apa yang kubutuhkan tak tersedia di dalam barak amunisi.

"We can order from another camp if you want," ujarnya menenangkanku.
"When will we do that?" tanyaku antusias
"As soon as possible, after you do this quest!" imbuhnya segera.

Tak berapa lama, aku dipertemukan dengan sekumpulan armada sebuah kapal yang tak tahu arah. Dan mungkin lebih tepat kami menyebutnya armada yang terarah, tapi tanpa navigator.

"I hope you can help them!" ujarnya memberi saran.
"But, my ship has wrecked just now. How can you suggested me to join another's so easily?" bantahku
"Only for one month as a navigator, and we'll see what can you do with your future experience after you come back then." jawabnya.

Aku tak lagi berargumen, karena banyak pertimbangan membuatku berpikir akan lebih baik jika aku mengasah beberapa kemampuan dasar yang belum sempat aku maksimalkan dari pelayaranku sebelumnya. Dan mungkin "misi lain" ini akan memberikanku "sesuatu" pada akhirnya.

Sepekan, dua pekan, tiga pekan...

"Hi, Capt! I've done with my quest, I'm ready for fix my shipwreck, and also I'm ready to do the next mission," kataku setelah tiga pekan lalu sempat terombang ambing di salah satu bagian terderas dari arus sungai ilmu pengetahuan yang tengah kuarungi.
"Did you see their ship?" tanya sang kapten menunjuk kapal yang baru saja kutempati tiga pekan lalu.
"Absolutely, they have a good basic, many kinds of ammo can support their needs. That's a good ship and absolutely looks bigger than mine," jawabku.
"Hello Captain, We thought this guy is your best crew. And as a present, we want to give our ship to him. He can decide his crew by your suggestion, and sail it by some direction himself," kata seorang awak kapal yang beberapa pekan ini merekrutku menjadi navigator.
"Oh sure, he's a captain now!" ujarnya pada mereka. "And I'm going to give you a fresh-good crew for your first support!" tambahnya dengan menatapku.

Masih tak paham, karena kurasa ada hal yang aneh di dalam percakapan itu.

"What are you all meaning here?" tanyaku memastikan "sesuatu".
"..." para awak kapal terdiam.
"That's a present for you! You'll be a captain for your next ship, and you can sail it as soon as possible whenever you're ready. Just leave you Going Merry a little bit rest, and go with that Thousand Sunny." ujar sang kapten menegaskan.

Pikiranku campur aduk, aku yang sebelumnya hanya menjadi navigator di kapal itu tiba-tiba diberikan sebuah kebebasan untuk menjadikannya milikku, melakukan apa yang kumau, dan bahkan menentukan arah layarnya. Tapi kali ini berbeda, aku tak perlu membentangkan layarnya seorang diri, ada seorang awak yang diberikan oleh sang kapten.

"I know, this time's your free-work month. But, please before you go home, tell everything about your new Thousand Sunny to him!" ujarnya menunjuk seorang awak bernama Ensin. Yang kutahu dia adalah awak baru yang masih asing dengan dunia pelayaran semacam ini, meski background-nya memiliki banyak singgungan dengan apa yang tengah kami (sang kapten dan tim) lakukan.

"Ok, good luck for your new ship! And prepare some enough ammo before sail next month, after you came back here..." imbuh sang kapten.
"Thank you, prof Captain. I'll do!!!"

Hingga tibalah saat di mana pekan pelatihanku bagi awak baru. Ensin adalah orang yang cukup cepat belajar, banyak hal dasar yang sebenarnya telah ia kuasai, hanya saja mungkin membutuhkan sedikit "pembiasaan".

Terlalu banyak badai yang telah kulalui selama sebelas bulan ke belakang, menjadi ujung godam untuk menempa sebuah "bidang keras" pun sudah berkali-kali kulakukan. Babak belur, gagal, dan beberapa kali pulang (dari berlayar) tanpa hasil pun sering terjadi.

Lalu, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?

Ah, pikiranku menerawang pada satu percakapan yang kulakukan dengan sang kapten beberapa hari setelah momentum penyerahan Thousand Sunny tempo hari. Diskusi yang biasanya hanya berlangsung beberapa belas menit, berubah menjadi hampir satu setengah jam, hanya karena satu topik yang telah ia ulang berkali-kali selama dua bulan ke belakang. Dan sayangnya, masih kuabaikan...

"Hi, did you expect something when I call you here?" ujarnya tiba-tiba.
"No, I didn't expect anything."
"I just want to straight forward to you, once again, after several times I've did." lanjutnya.
"....." di sini aku terdiam, karena aku tahu betul ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Have you think about my order?"
"Not yet, I want to finish this sailing first! Although actually I really want to get it, but not in this fast." jawabku.
"Oh, is it still the same? Please listen to me more carefully!"
"....." aku diam, menatapnya tanpa makna.
"I proposed to you in many times for this thing because I believe you, I know about your quality and also your ability. I offer you to be my ally in the future, you can have one of my areas if you want. And I'll assure you to have a good life. But, please just stay here as my ally after you finished this sailing as my crew. Not more than 4 years, and you also can fix your Going Merry. Beside you can sail with your new Thousand Sunny." terangnya panjang lebar.
"I still can't decide my plan for that, prof Capt! Really, I still have a year left sailing as your crew here. Maybe I'll think it later." jawabku singkat.
"Oh, ok. I appreciated your answer. But, please remember, I'm regarding that you're the best crew here, moreover than my current ally. And that's why I offered you in many times to be my ally soon."
"I'll think about it next time. Then, can I come to my ship now?"
"Sure, do your best for your sail!!!" ujarnya, sesaat sebelum aku meninggalkan tempatnya bernaung.

Wow, sebelas bulanku bukan hal yang sia-sia ternyata, apresiasi besar hadir di balik segala hal "kurang menyenangkan" yang terjadi. Babak belurku, karamnya Going Merry-ku, dan bahkan perpindahanku dari Going Merry menuju Thousand Sunny, semuanya memang memiliki maknanya masing-masing.

Lalu, kejutan macam apa lagi yang menungguku nanti?

Entahlah, mungkin hanya usaha keras dan sebuah keyakinan doa yang bisa membimbingku untuk segera tahu bagaimana gambaran akhirnya. Ya, kuharap ini segera berakhir dengan manis.

EPILOG
Di balik hujan dan badai, selalu ada sinar mentari yang menanti. Dengan seberkas cahaya jingga yang di kala senja menjadi sebuah siluet indah sang awan.
Ya, sangat indah...

Langit senja di area tempat Going Merry sempat karam
dan digantikan oleh Thousand Sunny
Dan jika beruntung, mungkin saja badai dan hujan akan mengantarkan kita pada cantiknya segores pelangi senja jauh di langit sana...

Ini hanya ujung indahnya, entahlah bagaimana penampakan lengkung sempurnanya...
Yang meski hanya nampak segores saja me-ji-ku-hi-bi-ni-u -nya
mampu membius siapa saja yang sedang gundah gulana,
hingga mau tak mau menyunggingkan senyum bahagia mereka.
Ya, tak hanya ada di matamu saja, karena di langit senja dalam derasnya arus sungai ilmu pengetahuan ini aku juga bisa menyaksikannya: PELANGI.

__________________________________________

Additional tribute post, I present this post to one of PENTOL KOREK CHUNGLI member yang terbang ke Indonesia untuk melanjutkan kehidupan nyatanya di tanah air mulai malam ini.

Nah yang pakai topi ini nih yang pulang ke Indonesia malam ini. Namanya mbak Zetta Rasullia Kamandang, pssst ga boleh naksir ya, doi udah ada yang booking
Yang fotoin mas Maystya nih, dan di moment ini member-nya cuma kurang Elsya dan Mr. L. Tri Wijaya, mereka berdua lagi pulang summer vacation di Indonesia.
PENTOL KOREK CHUNGLI ft. mas Feisal scene 1

PENTOL KOREK CHUNGLI ft. mas Feisal scene 2

PENTOL KOREK CHUNGLI ft. mas Feisal scene 3

PENTOL KOREK CHUNGLI ft. mas Feisal scene 4
Ok, see you when we meet in the different better place ya, mbak Zet!!!
Sukses sama semua yang sedang diusahakan...

Saturday, March 8, 2014

The Comparison Between the Benefits and Problems which Emerge from Online Social Media: Facebook and Twitter

A. Prologue
    If we talk about social media, we can’t stand without Facebook and Twitter. Why I can say like that? It because both of them  is the popular social media in this era. But I don’t make any sense about promotion about its. So, lets we start this essay with those social media. Then we make an assumption about another social media is as same as the function of Facebook and Twitter. And lets expand our way of think about this topic, and  then make the clear conclusion in the end.
Facebook
    Facebook is an online social networking service. Its name stems from the colloquial name for the book given to students at the start of the academic year by some American university administrations to help students get to know one another. Facebook was founded in February 2004 by Mark Zuckerberg with his college roommates and fellow Harvard University students, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz and Chris Hughes. The founders had initially limited the website’s membership to students of the university of Harvard, but later expanded it to colleges in Boston area, the Ivy League, and Stanford University. It gradually added support for students at various other universities before it opened to highschool students, and eventually to anyone ages 13 and over. Facebook now allows anyone who claims to be at least 13 years old to become a registered user of the website. According to a May 2011 Consumer Reports survey, there are 7.5 million children under 13th with accounts and 5 million under 10th, violating the site terms of service.
    (http://wikipedia.org/)
We can see that fact, one of the popular social media, Facebook has a big problem about the membership. It has over 5 million accounts under 13th which is violating it site term of service. How about the information filter can work in that conditions? We’ll explain next.
    At first, I’ll take a look into the benefits of this social media. Facebook has the greatest amounts of members in the world. From America, Europe, Asia, Australia, until Africa, it has a great amounts of members spread. It make some reason how the information from another world side can broadcasted to the other side of the world, how the products which sold by the American bought by the Asian, and many other questions can answered by Facebook.
Twitter
    And the next, lets see about the other popular social media, twitter. Twitter is an online social networking and microblogging service that enables users to send and read “tweets”, whichare text messages limited to 140 characters. Registered users can read and post tweets but unregisterd users can only read them. Users access twitter through the website interface, sms, or mobile devices app. Twitter Inc. was created in March 2006 by Jack Dorsey and by July 2006, the site was launched. The service rapidly gained worldwide popularity, with 500 million registered usersin 2012, who posted 340 million tweets per day. The service also handled 1.6 billion search queries per day.
    (http://wikipedia.org/)
Another explanation about this social media is “twitter as same as SPAM site of the internet”. Because it possible for the users to make uninteresting informations here. With 140 characters, it can’t make some clear informations, so the users make some tweet-flood on timeline. For a few users, it can be bothering. So, twitter have it suggestion “follow your interest”.
    In this part, i’ll try to take a look about the beneficial properties of this social media. Same with the facebook before, twitter also has a great amounts users. So it possible to the users excange the informations around the world. Not only in social, but also in politics, economics, cultures, and the other informations. But there’s another problem here, may you  hear or look about tweet-war? What’s that? May it affect the social relationship for each users? We’ll answer it together.
    
B. Problems and Its Explanation with the Benefits of Facebook and Twitter
    From the explanation about two popular social media above, we can focused in the problem which is influenced to the social relationship among the users. I’ll try to make an analogy in order to simplify the problems. Facebook has many benefits that can be look only in one sided eye, I won’t describe what’s the benefits here. I just want to make some pattern of the answer about the problems which influenced by Facebook to the users. Facebook has many users under 10th, that can controlled by itself. The adult materials like porns, social news, which is not for children exchange in this social media everytime. In that uncontrollable part, the parents whom have a busy time everyday can’t make a guidance to their child. So, it possible to the under 10th users will get some adult informations that can harassing and violating their views or their thinking. How about their future? Maybe it will answered after the effects of this phenomenon appear to us in the next decade.
    Then for the next social media, called “the SMS site of the internet”, twitter. Twitter is really different from Facebook, because of its exclusivity in characters. It only provide 140 characters for each post, so it like send the SMS from the internet, but more public then the real SMS. The serious problem of this social media is called tweet-war. Why do I call it the serious problem? Because it can make direct influence of social relationship between the users who did the tweet-war. What is tweet-war? Tweet war is the war which declared by the two or more users that make something by allusion in order to tease or harass, and maybe violate someone or other users. Because war is not about bombs and rockets. It’s about words (http://edition.cnn.com/).
    Many public figure or celebrity around the world trapped some case with the law because of tweet-war. Tweet-war often emerges from a little “spicy” words. After it tweeted from a user, it will appear to the timeline, then another user who know the purpose of the tweet or know about the “spicy” tweet for, answer it with another “spicy” tweet. And it reply one another until tha war declared from here. Sometimes tweet-war was forgetting by the users if in the real life it doesn’t become a problem. But tweet-war often become a real life problem, which is influence the social relationship of the users. That problem can’t only meet in those two popular social media, because it can appear everywhere in the virtual world.
    At the other part of the social media, like what I wrote above. Social media have many benefits for its users. It can be the effective information exchanger around the world. We can exchange information about social, economics, politics, culture, and many other. We also can transform our social media become an online catalog for our product and make an online shop. This called e-commerce way to get profit. So, the social media is a promotion media for our commercial products. And there’s many other benefit that can’t explained for details here, because of this wide world of the virtual world called World Wide Web will connect many people around the world and make many way to get the benefit from social relationship in social media services.

C. Social Media Influence for the Society
    In the other side of those online social networking services, they transform the global community behaviour. Not like the label, social media or social networking, the online ways make a new form of interaction between people around the world. I ever read some statement, “Virtual world is make the long distance become close, but it also make something near us become so far”. Can you describe what the purpose of that statement? If you can’t, I’ll try to make some analogy to explain that statement. When you go browsing some information with your device (it can be laptop, smartphone, tablets, etc) you can meet with some people in another place, but sometimes you forget with your friends around you. You prefer to keep browsing and chatting than make a discussion about your lesson with a person near you, with your friends or your family.
    
D. Conclusion
    Social media or social networking services have many benefit to become the information exchanger, and also become the way to accelerate the exchange of information around the world. But, it has another bad influence to the social relationship in the society or global community.
It will bear some negative bahaviour, like an individualism person, make a people become antisocial in their real life, and prefer an online primary life than socialize with another people in their real life. If it continued, we can’t see some group of people in the society discuss about something together in some place, but we’ll discover them discuss something from their private place in front of their communication devices, in the online ways. I can say like this from the fact which shown today.

Wanna support???