Description

"Who you are, depends on what do you think about GOD and yourself."

#KotakAjaib
Copy-Paste boleh, asal cerdas! Jangan lupa cantumkan sumbernya ya...
http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/
Showing posts with label rangkuman. Show all posts
Showing posts with label rangkuman. Show all posts

Tuesday, April 17, 2018

Highlight Pulang Tak Terduga: Edisi "Marriage is always Win"

PROLOG
Waaah, kasihan banget kamu blog! Beberapa minggu ini ditinggalin penghuninya ya? Bahkan tukang kebunnya pun nggak datang. Tuh, terasnya pada kotor, lantainya berdebu, kacanya kusam juga, asal selang air kerannya nggak buntu dan kotor sih ya...

13 Maret
Hari ini spesial banget sih, karena novel trilogi perdana besutan nama pena yang 5 tahun ke belakang baru tercipta (itu pun masih dihina-dina dengan sebutan-sebutan nyinyir ala-ala), #KotakAjaib. Judulnya ACHRODIAG, nggak nyangka banget sih sebenernya cerita tentang Arrez, Feno, Bobby, dan Zera bakal terbit secepat ini, mengingat cerita jatuh-bangun, tertulis-terhapus, dan lain-lainnya sejak 2012.

(click to enlarge)
Then, cukup dulu basa-basinya untuk tanggal ini. Karena tentang ini akan ada section lainnya untuk diceritakan lebih lengkapnya. Tunggu juga seri kedua dan ketiganya nanti ya!!!

Seminggu Menjelang Pulang
Masih di bulan yang sama dengan terbitnya ACHRODIAG. Kabar tentang tanggal pernikahan kakak yang tercetus begitu saja di akhir bulan Januari lalu memang sedikit banyak berpengaruh besar terhadap rencanaku di awal Spring semester kali ini. Bagaimana tidak, karena kondisi hectic semester akhir studi master-ku kali ini sedang tidak bisa ditinggal, apalagi jarang dibelai.

Singkat cerita satu minggu menjelang 29 Maret lalu menjadi hell-week tersendiri, karena kondisi mental dan fisik yang harus beradu dengan argumentasi perizinan pulang oleh professor belum diterima. Padahal tiket sudah terbeli dan bahkan dalam bentuk pulang-pergi (two way ticket). Alhasil, ada banyak pilihan cara yang bisa dilakukan mantan mahasiswa kampus "teknik" perjuangan (yang belakangnya Sepuluh Nopember lho ya, bukan yang lain) ini untuk mengambil hati professor. Salah satunya dengan memberikan sogokan progress yang sedikit overload dari biasanya. Dengan konsekuensi tubuh dan pikiran yang harus diuji lebih ketahanannya. Lari ke gedung Engineering 1-3-5 secara marathon sehari lima kali juga sudah biasa. Berangkat pagi pulang dini hari pun tak sungkan dilakukan. Demi apa? Demi memperjuangkan bertahannya nama di Kartu Keluarga (ini hiperbolik sih).

"Hi Prof, May I come to your lab today?"
"Again? For what?"
"I want to discuss my plan with you for two days forward."
"Just come now!"

Dan argumen tentang progress sintesis pun berakhir dengan senyum gembira professor hari itu, karena dalam kurun waktu kurang dari satu minggu ternyata sintesis bahanku berhasil untuk 5 resep dari total 6 (yang satu masih gagal).

"Then, what's your plan for tomorrow (27/03)?"
"I will do Raman and DLS for all of my samples."
"Have you booked the instrument? I hear your friends don't get the allowance this week."
"Hehe, I think the power of networking shall be working here. I already message another professor who has Raman Instrument. Also, I already booked DLS from the Environmental department, my Vietnamese friend was helped me yesterday."
"Wow, that's good! Ok, please continue your work..."

Udah ya, mekanisme pengujiannya gimana ngak usah didetailkan. Intinya H-1 keberangkatan ke Indonesia ada percakapan singkat tapi epic antara kami berdua.

"So, here's my future plan, Prof!"
"Hmmm, ok. You already write your plan after gave me great progress this week. I can't tell anything but just go! Please come back on time, like what you write there, on your slide..."

Pulang
Dua puluh sembilan Maret, akhirnya pesawatku take off dari Taoyuan International Airport pukul 10.30 Waktu Taiwan.

Seperti biasa, senja di atas langit Kalimantan.
(sengaja gambarnya gini biar fullscreen di smartphone)

Tiba pukul 18.30 waktu Surabaya (WIB), disambut dengan senyuman mama dan papa, juga Zaky. Then what? Ya pulang, mau ngapain lagi.

3-4 April
Agenda di dua tanggal ini sama sekali tak terencana sempurna, tapi berhasil dieksekusi dengan luar biasa. Dengan bantuan Kun Fayakun tentunya.

Di kantor GNFI, nganterin novel perdana, ditunjukkan sudut-sudut "ruang positif" milik mereka langsung oleh founder-nya. Kurang eksklusif apa lagi coba?
  1. Antar undangan nikah kakak ke bapak & ibu kos selama 3 tahun masa kuliah, yang baiknya udah kaya saudara jauh dan baru ketemu lagi setelah terpisah lama. ✓
  2. Silaturrahim ke bapak ibu dosen DTM ITS (termasuk di dalamnya ketemu kawan-kawan MT14 yang lanjut S2, adik MT15, MT16, dan MT17 yang dulu pernah sosialisasi sekali-dua kali pas masa kaderisasi mereka, juga mampir ke markas para grader Metalurgi, beserta say hi dan bersalaman dengan pranata-pranata lab yang dulu sering banget direpotin semasa pengerjaan Tugas Akhir) ✓
  3. Mampir untuk pertama kalinya ke kantor Good News From Indonesia, bahkan sampai mas Akhyari Hananto (sang founder), yang saat itu seharusnya masih di Jogja, mempercepat jam kepulangannya. Sekalian nganter novel baruku sih :) ✓
  4. Pillow talk bareng Kukuh dan Yogie semalam sebelum kembali ke Bojonegoro ✓

Menjelang Hari-H
Jemput Tira Kurnia Saputri di stasiun Bojonegoro, yang datang barengan keluarganya. How lucky I am, bahkan usahaku untuk pulang demi nikahan kakak pun disambut baik sama kamu dan keluargamu yang datang jauh-jauh dari Depok ke Bojonegoro. Dan lagi, kaya yang kamu bilang bahwa ini adalah pengalaman pertama kalinya mama-bapak-Adin naik kereta sejauh ngelewatin tiga provinsi. So thank you ya :*

Delapan April Dua Ribu Delapan Belas
Udah ah, untuk ini highlight-nya pakai foto-foto aja ya. Intinya ini hari-H nikahan Hardhika Rian Wardhany Hernandha (Herdha), kakak perempuan satu-satunya dari Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha (Ozha, si anak bungsu).

Di prosesi ini, papa yang se"kuat itu" aja nangis pas jadi wali, baper maksimal cuy!!!
Masih di hari yang sama, dari kiri: Tira, mas Dhega, kak Herdha, me. Maafkan ke-absurd-an kualitas fotonya ya, ini aja fotoin dari komputer tukang fotonya. Efek kebelet nulis padahal belum dapet fotonya nih, nanti diubah kalau sempat ya :)
Kiri ke kanan: me, her, Eka, Yogie
Pose pertama

Pose kedua

Pose ketiga, bareng Fahry (adik sepupu yang udah ganteng, pinter, dan jarang banget ngerengek meski masih delapan bulan)
Pinter banget kan, curi-curi kesempatan kangen-kangenan di sela-sela acara nikahan. Hahaha, maklumin lah ya, dari sejak kenal "nggak sengaja" untuk pertama kali di 2012 (masih sama-sama punya pacar), bikin komitmen di 2015, sampai detik ini kita cuma ketemuan live enam kali. Gimana nggak pejuang LDR banget tuh? Dari mulai jaraknya sejauh Depok-Surabaya (UI-ITS) atau Depok-Bojonegoro, sampai sekarang jadi Indonesia-Taiwan. Mohon doanya agar dikuatkan dan dilancarkan sampai hari-H kita ya (lho?). Boleh lah curi-curi minta doanya dari para pembaca juga :)

Nah ini nih, salah satu pasangan inspiratif (bapak-ibu kos selama masa S1) yang pernah ngalamin LDR Indonesia-Australia juga, sampai akhirnya si bapak nyusul ibu buat memperjuangkan gelar master-nya sampai lulus di negeri Kanguru.
The Last
Waktunya pulang...

Kiri ke kanan: Yogie, me, Vini "opin", yang merelakan bangun pagi hanya demi mengantarkan seonggok daging bernyawa ini.

Nah, di pose kedua ini ada drama yang tak diceritakan. Tapi dramanya bukan diantara kita bertiga.
Penasaran apa dramanya?
Dramanya adalah: GAGALNYA PERTEMUAN "anak ayam" DIVERGENT UNTUK MENGANTAR ABAHNYA KEMBALI KE PERANTAUAN. Yah, meski batal ketemu langsung, thanks a lot untuk Regita, Silvia, Zumar, dkk, yang sudah mengusahakan pertemuan dengan abahnya. Semoga kalian sukses terus ya, nak...

Delay
Sore sampai malamnya di Hong Kong, akibat delay cuaca ala-ala
Take Off HKG - TPE
Bener-bener serasa pesawat pribadi deh malam itu
Then, pada akhirnya aku sampai di bandara Taoyuan International Airport lagi tepat di penghujung tanggal 14 April 2018. Dan wajah pertama yang hadir di pintu keluar adalah sesosok room-mate ketigaku selama di NCU, yang perawakannya sebenernya pantes kalau sholeh, meski dia memilih untuk menjadi terlampau m*sum, KLIK DI SINI.

EPILOG
Udah ah, highlight pekan pulangnya sekian dulu aja ya. Maaf kalau sedikit absurd dan nggak jelas. Ya mau gimana lagi, ini nulisnya aja curi-curi waktu nyusun draft thesis. Mohon maklumnya ya :*

Finally, happy wedding buat kakak. Bahagia selalu ya, doa-doa baikku inshaAllah selalu tercurah di manapun berada buatmu dan keluarga...


#KotakAjaib

Friday, March 23, 2018

Proud to see "Made in Indonesia"

PROLOG
Melabeli diri sebagai Indonesia bagi kita dalam hal banyaknya keberadaan pekerja migran di luar negeri sepertinya sudah tak asing lagi di telinga. Atau bahkan bisa jadi malah telah mengerak menjadi trademark. Nah, kali ini di tengah jeda progress laboratorium yang sedang mulai naik-naiknya, aku sengaja kepo-kepo beberapa hal terkait Indonesia yang lain dari pada labelling biasanya. Hal-hal apa tuh? Yuk disimak...

============================
Disclaimer:
1. Jangan berharap ulasannya banyak ya, karena kepo-keponya singkat tanpa (terlalu banyak) riset mendalam sebelum menulisnya, jadi modalnya cuma jalan-jalan ke Family Mart dan berselancar di dunia maya.
2. Tulisan ini dibuat atas inisiatif penulis sendiri menyebarkan kabar positif ke-INDONESIA-an, sama sekali bukan media promosi atau sebagai bentuk afiliasi dari pihak manapun. Meski pada akhirnya ada pihak yang diuntungkan, ya itu anggap saja sebagai amal jariyah bagi penulisnya. Selebihnya, terserah penyikapan para pembaca saja.
3. Dan lagi, jika tinggal di luar negeri kemudian dicap "tak memiliki nasionalisme", mari perluas lagi definisi nasionalismemu, karena mencintai INDONESIA dari luar sini juga sama istimewanya dengan mencintai INDONESIA saat berada di dalam batas teritorialnya.
============================

Nah, di kesempatan kali ini aku ingin merepost tulisan dari beranda LINE messenger (yang sepi peminat) sejak tahun lalu, ditambah upaya tambahan informasi hasil jalan-jalan di minimarket dalam kampus (National Central University, Taiwan). Tulisan kali ini berfokus pada bagaimana cara berbagi semangat positif ke-Indonesia-an melalui tulisan hasil kepo-kepo secara singkat dari sebuah perusahaan Indonesia yang sayapnya ternyata sudah lebar ke mana-mana.

Apa sih namanya? coba ditengok dulu lah gambarnya 😉

Kertas untuk keperluan menimbang bahan di laboratorium (source: kamera penulis)

Jadi tepatnya hari Senin (27/3/2017), yang jadi hari pilihanku untuk membuat adonan slurry—bahan setengah jadi dari campuran material-material untuk katoda baterai, bentuknya mirip lumpur, teksturnya antara cair atau lengket—eh btw jangan fokus ke slurry-nya ya, biar aku aja yang bingung ngurusin mereka untuk bahan thesis, kalian jangan! Tak akan kuat...

Seperti biasa, aku mengawali ritual pembuatan slurry dengan pasang sarung tangan, menyiapkan sendok untuk berbagai macam bubuk campurannya, tissue, dan juga kertas timbang. Tak ada yang spesial di awal, hanya sekilas melirik label yang ada di plastik kertas timbang, di sana terbaca PARISINDO PRATAMA. Ada sedikit sense of want to know more waktu itu, tapi "ah sudahlah, selesaikan dulu saja kerjaan ini," pikirku. Dan akhirnya, semua berakhir biasa, dan bahkan tentang urusan kertas timbang tadi sempat terlupa.

Karena memang aktivitas semester kedua (tahun lalu) kali ini tak lagi sesantai sebelumnya. Yang kukira hari-hariku pasca NCU ICD 2017 akan sepi dan hampa di lab-lab saja, ternyata tak demikian adanya, sebab ada 'mainan' baru bersama mahasiswa-mahasiswa super lainnya untuk berhimpun dalam organisasi nomor wahid bagi pelajar di Taiwan. Hingga tiba di hari ini, Kamis (30/03/2017), kembali kuutak-atik slurry untuk material lainnya, sebagai pembanding material sebelumnya.

"Lha, mau nulis tentang ini kemarin lupa..." gumamku setelah menyelesaikan pembuatan slurry tercinta.

Tulisan kali ini tak diambil (terlalu) serampangan, melainkan asli hasil kepo dari beberapa Company Profile (CP) perusahaan. Awalnya melihat imbuhan INDO membuatku penasaran.

"Ini yang buat perusahaan Indonesia?" gumamku.

Sampai pada akhirnya gugel pun jadi gerbang rujukan penelusuran sebelum tiba di web dan pdf CP masing-masing perusahaan terkait. Kira-kira begini bunyi kutipan dari CP tersebut:

CP 1:
PT. Parisindo Pratama has been in the paper industry for more than 24 years. As time went by, it has proven itself to be a trustworthy, competent and reliable company. The company was established in 1983, manufacturing specialty paper in Indonesia. In 1987, it embarked on a new journey on manufacturing commercial production of specialty paper. Since then, PT. Parisindo Pratama is only going from strength to strength.
(source: https://www.parisindopratama.com/about%20us.htm)

CP 2:
P.T. Warga Djaja adalah Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang sudah berdiri sejak Tahun 1960, P.T. Warga Djaja merupakan Perusahaan yang cukup berpengalaman dan dapat dipercaya dalam bidang usaha yang berhubungan dengan Kertas, Tekstile dan Sticker. Pada awalnya kami berperan sebagai distributor kertas dan tekstil yang sebagian besar berasal dari Jepang. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, pada tahun 1970 kami ditunjuk menjadi distributor tunggal dari P.T. Century Textile untuk memasarkan produk-produk mereka di dalam negeri. Seiring dengan berjalannya waktu, kami menyadari bahwa kami tidak bisa terus bergantung produk import yang jumlah dan jenisnya terbatas. Kesimpulan itulah yang mendorong manajemen P.T. Warga Djaja untuk mengakuisisi pabrik kertas P.T. Parisindo Pratama yang terletak di Gunung Putri Bogor pada tahun 1987. Pabrik kertas ini dipilih karena kemampuannya untuk memproduksi berbagai macam kertas khusus seperti kertas Greaseproof, kertas Glassine dan juga kertas Concorde. Hasil produksi kertas dari P.T. Parisindo Pratama telah berhasil dipasarkan tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri seperti Filipina , Malaysia , Singapura , Taiwan , Korea ,Vietnam, Pakistan , Australia , dllnya. Keberhasilan P.T. Parisindo Pratama ternyata menarik perhatian dari Lintec Corporation , produsen sticker terbesar dari Jepang yang saat itu sedang mencari partner lokal untuk mendirikan pabrik di Indonesia. Akhirnya pada tahun 1994, P.T. Parisindo Pratama dan Lintec Corporation Japan mendirikan P.T Lintec Indonesia yang memproduksi Sticker. P.T. Warga Djaja sebagai pemegang saham P.T. Parisindo Pratama pun ditunjuk sebagai salah satu distributor utama untuk memasarkan produk-produk P.T. Lintec Indonesia di dalam negeri.
(source: http://www.wargadjaja.com/in/wargadjaja)

WOW!!!

Sudah jauh-jauh merantau kemari ternyata memang jodohnya tetap INDONESIA, dan ternyata rasa bangga menjadi bagian dari negera kepulauan ini memang nggak bisa dilunturkan dengan "sekenanya". Lumrah sih, memang sejak dua puluh tiga tahun lalu (tahun 2017) kan aku makan-minumnya juga dari tanah dan air INDONESIA.

Dan ini lagi nih bonusnya. Baru aja kejadian sore tadi (23/03/2018), tepatnya saat masuk ke deretan etalase baterai di Family Mart bersama kawan berkebangsaan India.

"Hi Ozha! Did you know? This product's made in Indonesia..." ujarnya sambil memegang sebuah baterai koin bermerek Energizer.

"Oh ya?" batinku. Sambil mengambil hape dan memotret baterai tersebut.

Baterai koin untuk jam tangan, dan alat-alat elektronik lainnya, bertuliskan made in Indonesia yang bertengger di etalase salah satu minimarket di Taiwan (source: kamera penulis, atas seizin kasir minimarket)
Akhirnya aku kembali menajamkan insting kepo untuk berselancar di dewa mesin pencari: gugel. Dan akhirnya kutemukan bahwa ternyata memang P.T. Energizer Indonesia telah mengekspor banyak sekali produk-produk baterai. Based on Bloomberg, ternyata perusahaan ini telah memulai debutnya sejak tahun 2000. Ada 9-20 produk baterai yang diekspor oleh perusahaan ini ke berbagai negara (setidaknya menurut web ini dan web ini).

WOW!!!

Bahkan tercatat ada sekitar 950an pengiriman produk baterai dari Indonesia ke USA dalam kurun waktu 8 bulan (Maret-November 2017), dengan sekali pengiriman sekitar 3037 kg produk baterai.*
*hasil kepo singkat selama berselancar di dunia maya

Tuh kan, kebayang dong betapa kerennya negara kita? Padahal baru dilihat dari dua produk aja (efek penulis males menggali lebih produk-produk lainnya aja sih -_-)

Jadi intinya, bagi para pesimistis yang sering nyinyirin negerinya sendiri dengan slogan-slogan nggak karuan semacam "kirain Indonesia cuma bisa bikin sandal jepit doang" atau nyinyiran-nyinyiran tak elok lainnya, think again, guys! Ini nih, produk kebutuhan laboratorium dan produk energy storage aja kita sampai bisa ekspor lho, kurang sangar apa lagi negeri kita?

Thus, adakah alasan bagi kita untuk tak bangga menjadi INDONESIA?

Apapun alasannya, bentuknya, caranya, dan pandangannya, jangan pernah pesimis dengan INDONESIA. Karena negeri sebesar INDONESIA dengan berbagai macam kabar positif yang dimilikinya, sangat tak indah jika kalian memberinya "bungkus" dengan label-label buruk hasil masturbasi pemikiran kalian sendiri. Yuk selalu berkabar positif tentang INDONESIA di manapun berada!!!

EPILOG
Banyak sekali hal-hal yang membuat kita bangga menjadi Indonesia, lalu kira-kira apa yang bisa membuat Indonesia bangga memiliki kita? Mari kita renungkan bersama...

Monday, January 29, 2018

Kamu Generasi Milenial? Yuk Baca Pesan Ini, Nomor 6 Bikin Cepat Move On!

PROLOG
"Manusia-manusia dalam satu generasi (yang ditentukan dalam rentang tahun dan masa tertentu) akan memiliki kemiripan satu sama lain." - Mannheim, 1927 
Lalu, bagaimana dengan kelompok manusia di generasi lain?
Ya sesuai dengan kemiripan "golongan" generasi mereka sendiri, untuk itulah penggolongan semacam ini ada...





Mannheim berhasil membuat sebuah ulasan unik tentang manusia. Terutama yang berkaitan dengan hubungan antargenerasi yang dihadapi, dari sudut pandang The Problem of Generation, sebuah esai yang di-republish oleh Paul Kecskemeti di 1972 (tautan bacaan lengkapnya ada di prolog). Ulasan esai ini pada akhirnya menjadi pijakan bagi sebagian sosiolog untuk membagi-bagi generasi berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Yang pada akhirnya secara garis besar pembagian tersebut berujung pada istilah-istilah unik bagi sekumpulan manusia-manusia dalam rentang waktu tertentu, contohnya sebagai berikut:
  1. The Lost Generation - The Generation of 1914 (1890-1915)
  2. The Interbellum Generation (1901-1913)
  3. The Greatest Generation (1910-1924)
  4. The Silent Generation (1925-1945)
  5. Baby Boomer Generation (1946-1964)
  6. Generation X - Baby Bust (1965-1979)
  7. Xennials (1975-1985)
  8. Generation Y - The Millennials - Gen Next (1980-1994)
  9. iGen - Gen Z (1995-2012)
  10. Gen Alpha (2013-now)
(Based on Western Cultural Generation, tahun berwarna merah memiliki time merging)

Tapi meskipun daftar itu adalah secara garis besar, tetap saja tak ada kesepakatan satu sama lain antarpeneliti, karena masing-masing peneliti memiliki acuannya masing-masing. Seperti halnya acuan geografis benua, kondisi politik, dan kondisi-kondisi yang dapat membuat perbedaan-perbedaan lainnya. Sehingga akhirnya ada simplifikasi lain yang mereduksi beberapa generasi yang memiliki time merging menjadi satu kesatuan generasi. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh redaksi Tirto dalam salah satu artikel mereka:
  1. Generasi Era Depresi (1920-1938)
  2. Generasi Perang Dunia II (1939-1945)
  3. Generasi Pasca-PD II (1946-dst)
  4. Generasi Baby Boomer I
  5. Generasi Baby Boomer II
  6. Generasi X (1965-1979)
  7. Generasi Y - Milenial (1980-1994)
  8. Generasi Z (1995-2012)
(Berdasarkan artikel Tirto tentang Gen Z, di mana untuk tahunnya penulis coba telusuri sendiri dan menyematkan berdasarkan cocoklogi dan mix and match, karena pada artikel Tirto di tautan tersebut tidak memberikan keterangan rentang tahunnya)

Ini salah satu contoh infografis yang penulis comot dari Tirto untuk mempermudah pemahaman pembaca
Nah, banyak banget kan klasifikasinya?

Itulah mengapa ilmu (baik sains maupun sosial) itu sifatnya nisbi, karena ketika satu variabel, time frame, subyektivitas pengamat, dan faktor-faktor lainnya diubah atau ditambah, akan ada hasil-hasil yang berbeda dalam paparannya.

Oke, oke, setelah kita tahu generasi-generasi tersebut beserta rentang tahunnya lalu apa?

Nah, ini alur pertanyaan yang bagus. Belakangan ini seringkali kita temui berbagai macam artikel yang menerangkan dan mendeskripsikan bagaimana kondisi-kondisi dan tipikal para generasi. Dari yang obyektif, based on paper dan penelitian, sampai pendapat-pendapat subyektif para pakar dadakan yang ingin eksis dengan argumentasi seadanya (dan mungkin pembuat tulisan ini juga salah satunya, blame me! I always open with it ^_^). Lalu ada juga yang menghubungkan tingkah polah para generasi dengan tindak-tanduk mereka di masa depan, jenis pekerjaan apa yang cocok dan menunjang, hingga nasib mereka ke depannya ditinjau dari segi kepemilikan rumah-ketersediaan uang pensiun-dan banyak lagi. Dan percaya atau tidak artikel-artikel semacam itulah yang membuat kenyataan ramalan-ramalan dan forecast tersebut menjadi nyata.

Ah masa' sih?

Logika ini persis seperti kepercayaan manusia terhadap ramalan bintang (horoskop/astrologi). Di mana manusia lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya. Contoh: Orang yang lahir di bulan Maret-April, oh bisa jadi bintangnya Pisces. Then, si pemilik bulan lahir itu membaca kelanjutan ramalan tentang finansial. Suatu ketika di sana tertulis: "minggu ini kamu akan mengidap kanker (kantong kering)". Bagi orang-orang pemilik bintang Pisces (dan terlalu mempercayainya) akan gelisah dan mencoba menghubung-hubungkan kehilangan dompetnya dua hari setelah mereka membaca artikel horoskop tersebut terhadap isi horoskop. Mereka terburu-buru depresi dengan kebingungan yang ia timbulkan sendiri karena terbawa suasana ramalan bintang. Yang meskipun pada akhirnya di akhir pekan berikutnya si dompet akhirnya ketemu di tumpukan baju yang belum dicuci sejak sebulan lalu. Ah, tapi dasar si pemercaya ramalan ini sudah terlanjur membaca ramalan di pekan berikutnya (sejak pekan lalu) yang mengatakan: "minggu ini kamu akan menerima rejeki nomplok". Alhasil penemuan dompet akibat kecerobohannya sendiri pun dianggap rejeki nomplok dan visualisasi dari BENARnya ramalan/artikel yang ia baca.

Meski itu tadi hanya visualisasi simpel terhadap kondisi manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya. Begitu pula tentang tulisan yang banyak sekali bertebaran tentang para generasi ini.

Kalau tadi contohnya adalah tentang horoskop, kali ini penulis mencoba mencari visualisasi lain yang related to Generation X-Y-Z. Kali ini berdasarkan cocoklogi yang diulas oleh para jurnalis situs Fortune, di mana para generasi Milenial disamakan dengan golongan tua Silent Generation (Generasi era Depresi). Mengapa demikian? Karena dua generasi ini memiliki kondisi yang sama saat pertumbuhan mereka. Yaitu tumbuh di tengah-tengah era kejatuhan, meski secara perlahan-lahan menjadi saksi pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Sama seperti kakek buyutnya dulu, para generasi Milenial ini berpengalaman dalam menghadapi krisis finansial sejak kecil hingga beranjak dewasa. Hal itu yang menyebabkan generasi Milenial lebih banyak berpikir bahwa menjalani kehidupan untuk mengamankan kondisi finansial dan menjaga alur pendapatan-pengeluaran agar tak terlalu fluktuatif adalah suatu kebutuhan utama. Mereka (atau juga penulis, yang notabene juga anak Milenial) lebih suka melakukan penghematan lebih dari perhitungan "nabung ideal". Meski bedanya dengan Silent Generation adalah: generasi Milenial lebih mengutamakan tingkatan edukasi mereka. Sehingga dalam sejarah, generasi Milenial menjadi kaum paling terdidik (setidaknya di Amerika).

Bagi para manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya, secara langsung berpikir dan melakukan cocoklogi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Sebut saja generasi Milenial Indonesia, mereka (atau kita) langsung meletakkan landasan pikir pada krisis moneter '98 yang juga menjadi awalan tumbuhnya Reformasi di Indonesia. Ya, itu bisa jadi masuk ke dalam klasifikasi era kejatuhan. Hingga akhirnya generasi Milenial Indonesia berangan-angan lagi: saat masa kecil lebih cenderung berusaha menerima keadaan perekonomian orang tua (tak banyak menuntut) dan lebih banyak menabung dari uang jajan ketika menginginkan sesuatu. Berbeda dengan 'generasi lain' yang kebanyakan 'berekspektasi lebih' terhadap kehidupan enak yang serba instan.

Tuh kan, lewat visualisasi barusan saja, penulis sudah sedikit terpengaruh dengan artikel ulasan para jurnalis Fortune. Dan sebagai tambahan (dalam kalimat bercetak tebal), penulis juga akhirnya sedikit mendiskreditkan generasi lain sesuai ulasan para jurnalis HuffingtonPost, USAToday, juga Time. Wow, sudah tahu kan sebegitu kuatnya pesan-pesan yang tersampaikan lewat tulisan yang implicitly persuasive semacam itu? Terutama yang berusaha memanfaatkan kelemahan manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya.

Jadi, sekarang terserah kita. Ingin terus disetir dengan ramalan-ramalan dan forecasting media tentang apa yang harus dan akan kita lakukan, baik yang mengambil keuntungan dari perbedaan generasi, golongan darah, horoskop, suku, ras, keyakinan, dan penggolongan-penggolongan lainnya, atau 1) terus belajar dan bereksperimen dengan hal-hal yang telah tersedia di sekitar kita; 2) mengolahnya menjadi informasi berharga dan berguna untuk; 3) menentukan langkah-langkah terbaik apa yang akan kita lakukan selanjutnya, bukan berdasarkan labelling generasi atau penggolongan-penggolongan semu lainnya yang pada akhirnya; 4) membimbing kita semua pada kesuksesan menurut pemahaman dan cara otentik kita sendiri dan; 5) menemukan betapa pentingnya "mengunyah permen karet dan meniupnya menjadi gelembung balon secara mandiri, dibandingkan dengan meniup gelembung balon permen karet hasil kunyahan orang lain" sehingga; 6) kita bisa memberikan wawasan berharga kepada generasi selanjutnya: bahwa menjadi otentik, adaptif, dan tak terpengaruh klasifikasi semu tentang Generasi adalah kunci sukses yang sebenarnya!!!

EPILOG
Semua bisa sukses, semua bisa menjadi apa yang dia mau. Asal mereka memiliki kemauan dan selalu mengasah kemampuan. Keep authentic, adaptive, and forget about labelling!!!

_________________________________
Disclaimer: sumber-sumber dari tulisan opini ini bisa ditemukan di tautan-tautan yang bertebaran di dalamnya. Dan untuk kebutuhan pemahaman, silakan gali lebih dalam sumber-sumber lain yang menurut kalian layak dijadikan bahan pertimbangan.

Sunday, December 17, 2017

FIGHT vs US

PROLOG
Scrolling phone scrolling phone scrolling all the way~~
Sejujurnya tulisan ini hadir karena pengalihan rasa jenuh dari rewriting draft novel yang kemarin barusan ketemu backup-nya.

Jadi ceritanya beberapa minggu ke belakang ini sering banget ditanyain sama temen-temen yang pada dasarnya nggak deket-deket amat. Karena yang deket biasanya udah paham satu sama lain tanpa nanya. Tentang "kalian LDR jauh banget gitu pernah bertengkar ga sih?" terus "kalau bertengkar gitu biasanya ngapain biar baikan?" Hahaha, dan voila penulis iseng, yang isi tulisannya kadang un-faedah, tapi orangnya baik hati ini mencoba sedikit menuliskannya untuk sekedar ngisi waktu yang nggak luang-luang banget (sok banget euy!).

Ngomongin tentang bertengkar, ribut, cekcok, dan semacamnya, kayanya untuk kamus hubunganku "kali ini" nggak pernah jadi fenomena yang mayor deh. Karena apa? Ya karena landasan utama hubunganku "kali ini" adalah TRUST (<< ini tautan buat yang penasaran maksudnya TRUST itu apa dan bagaimana), bukan love atau yang lain.

Oh iya, kenapa kupakai istilah "kali ini"? Sebab pada dasarnya hubunganku yang sekarang ini adalah hubungan yang kesekian kalinya setelah hitung-hitungan cinta monyet dan kekhilafan-kekhilafan seorang insan manusia yang tak terhitung jumlahnya. Yang kalau diinget-inget lagi memang hubungan dengan cara seperti ini tak akan pernah cocok dengan si mantan terakhir yang kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya setelah pengakuan bahwa "aku gak bisa LDR-an". Yang entah dulu itu maksudnya ngode nyuruh daftar kuliah deket-deket aja atau gimana. Entahlah, yang jelas itu sudah menjadi bagian dari masa lalu yang nggak jauh dari khilaf, masa di mana hamba yang terlanjur kecemplung ke dunia Teknik Material dan Metalurgi (setelah berulang kali ditolak Fakultas Kedokteran) malas meladeni kodean-kodean macam itu (dan berujung mending putus aja). Yang otomatis menjadikan label mantan calon dokter tersemat begitu saja, dan secara default setelah kuakhiri hubungan dengan si mantan, label mantan calonnya dokter juga tersemat. (Eh, btw ini guyonan yang baru aja semalem diomongin sama si doi yang sekarang).

Aih, udah cukup lah ya menceritakan sebab musabab aku menyebutkan hubunganku yang sekarang dengan "kali ini". Oke, dan back to topic! Kalau ditanya tentang kepernahan kami bertengkar atau tidak, jawabannya literally NO. Karena yang kita lakukan biasanya kalau ada perbedaan sudut pandang dan persepsi adalah berdiskusi, sedikit berdebat, tapi nggak sampai gontok-gontokan apalagi saling memaki (ala-ala kids zaman now). Hal-hal itu paling nggak pernah kami lakukan selama lebih dari tiga puluh satu bulan ini sepakat untuk saling mengenal lebih jauh, baik satu sama lain maupun antarkeluarga.

Nah terus pertanyaan kedua nih, susah jawabnya karena di pertanyaan pertama kami tak pernah mengalaminya. Tapi karena kondisinya penulis lagi agak luang, jadi dicoba menggeser pertanyaannya aja ya biar bisa dijawab. Jadi kumodifikasi aja pertanyaannya jadi: "kalau lagi beda pendapat biasanya ngapain biar baikan/persepsinya selaras lagi?"

Then, jawabannya sangat sederhana! Kami telepon, video call, dan membicarakan semuanya dari A sampai D. Kenapa ga sampai Z? Karena biasanya tiga sampai empat langkah penyelesaian dan upaya penyamaan persepsi yang dilontarkan satu sama lain saat kita ngobrol tentang beda persepsi (yang sedang berlangsung) aja, kami udah saling mengerti. And finally berujung pada kondisi saling mengalah dan minta maaf satu sama lain. That's it! Se-simple itulah kami.

Sejujurnya pernyaataan reaksi yang terlontar dari beberapa orang yang pernah mendengar jawaban ini secara langsung adalah: "Yah nggak seru banget! Padahal justru seninya hubungan itu di berantemnya, itu jadi semacam MSG dan garamnya hubungan." yang biasanya kusenyumin aja biar dianya puas dan berhenti ngoceh lebih lanjut ngurusin hubungan orang.

Then, now I said to you all, sekalian aja mumpung lagi nulis topik yang sama kan ya? Hahaha. Jadi di balik senyumku itu, jawabannya gini: "Mungkin bagimu, bagi kalian yang beranggapan sama dengan si penutur statement di atas, berantem adalah bumbu dalam hubungan. Tapi beda dengan kami, miss di zona waktu serasa WIB dan WITA aja sudah cukup membuat kami repot, belum lagi di perbedaan peak hour pekerjaan masing-masing, itu semua sudah cukup jadi bumbu bagi kami. Lalu, apakah ada alasan selain mengoleskan selai manis dalam hubungan yang berjalan dalam kondisi sejauh 2380 mil (3831 kilometer) ini? Kurasa tidak!"

Dan yang perlu digaris bawahi lagi adalah: selama punya hubungan (dari mulai pertama kali pacaran ala abege labil sampai sekarang punya hubungan menjelang serius) aku sama sekali belum pernah marah besar banget sama si doi (termasuk mantan). Jadi kebayang lah ya, sesabar apa sih penulis absurd ini kalau punya pasangan? Hahaha, ini nggak promo kok, sama sekali nggak. Karena toh kalau ada yang minat, nanti (pas udah nikah) otomatis harus dapat ijin dari istri pertama dulu kalau mau menjalankan sunah Rasulullah SAW bab itu.
^_^

EPILOG
Udah ya, daripada ngomongnya makin ngelantur, lebih baik diakhiri saja tulisan (yang sekali lagi) kembali absurd. Selamat menikmati detik-detik menjelang berakhirnya weekend!!!

Kalaupun ada yang ngambek paling juga dia, aku nggak pernah. Tapi pasti ujung-ujungnya dianya meleleh sama jokes-jokes receh pencair suasana ala aku, hihihi...
__________________________
Additional response dari dia nih:
"Karena pada dasarnya kita udah bukan anak ABG lagi yang kalau ada apa-apa harus berantem cekcok panjang lebar sampai berbusa. Dan lagi kita sama-sama udah melewati masa itu lama banget (sekarang udah 20 tahun ++). Banyak hal yang lebih penting dari meributkan hal-hal yg sebenernya kita udah tau letak masalahnya dimana, begitu pula penyelesaiannya (hahaha, sok bijak banget ga sih?). Tapi bukan berarti kisah kita nggak ada micin-micinnya kan, mas?. Dan bener kata kamu (di atas) perbedaan peak hour work yg bener-bener bikin kita kadang stuck. Nggak ngerti lagi harus gimana hahaha. Satu-satunya cara memanfaatkan waktu Ozha Time (kalau di aku) dan Tira Time kalau di kamu"

Sunday, December 3, 2017

Video Abstrak dan Penjelasan Absurd-nya

PROLOG


Kesel ya sama video barusan? Maaf ya efek kegabutan menunggu proses di sela ball milling dan penyaringan material akhirnya muncul ide iseng merekam dan meng-edit video semacam itu.

Oh iya, jadi awalnya (di penyaringan sample pertama) cuma mikir kalau proses penyaringan ini mirip sama kemunculan bintang-bintang di langit malam pas tiba-tiba polusi cahaya di sekitar kita lenyap secara periodik (tsaaah, apa banget sih?). Ssst, FYI aja sih, ini benar-benar terjadi lho saat tiba-tiba lampu jalan di area sekitar kampusku mati satu per satu pas menjelang pagi, terutama area di dekat jogging track menuju Engineering building 5 (buat yang pengen tahu aja sih).

Eh, ketahuan anak malam banget ya sampai tahu prosesi kaya gitu (-_-v)

Akhirnya di proses penyaringan sampel kedua, video ini dibuat. Intinya sih nggak banyak, opening peringatan Warning itu sebenarnya muncul setelah masuk tahap editing (pas banget kepikiran waktu Adobe Premiere udah kebuka). Mengapa demikian? Karena lewat video singkat barusan, bisa banget lho jadi pelajaran untuk siapapun yang ingin lebih menghargai "proses" dalam mencapai sesuatu dibanding hanya mengejar harapan semu untuk cepat-cepat sampai tahap "hasil" (ala Kids Jaman Now banget, yang kalau kena masalah dikit langsung ada aja ide "konyol" pelariannya). Nah, sebelum berlanjut ke penjelasan kompleksnya, aku akan memberikan fakta singkat tentang sesuatu yang mungkin kita anggap sepele tetapi bahkan sekaliber WHO pun dibuat kebingungan dengannya.

Fakta apa sih?

Lebih tepatnya fakta yang sudah diolah menjadi data-data siap "telan" sih. Nih salah satu contohnya: di tahun 2014, Shekhar Saxena, Direktur Kesehatan Mental WHO saat itu, mengungkapkan, "Bunuh diri adalah sebuah kasus kesehatan masyarakat yang luar biasa. Ada satu kasus bunuh diri setiap 40 detik – itu adalah jumlah yang besar“ (dikutip dari situs Deutsche Welle yang dirilis pada September 2014). Belum lagi ini nih, pengakuan Menteri Kesehatan negeri Sakura mengatakan bahwa pada tahun 2016 lalu di Jepang tercatat angka kematian akibat bunuh diri mencapai 21.897 orang. Jumlah tersebut menurun dari catatan di tahun 2011 dan 1994 yang menembus angka lebih dari 30.000 orang. Meskipun mengalami penurunan, angka kematian akibat bunuh diri di Jepang masih tercatat sebanyak 17,3 per 100.000 warga di tahun 2016. Dan capaian itu masih menempatkan Jepang sebagai negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Sedangkan di Amerika Serikat, angka kematian akibat bunuh diri tercatat sekitar 13 per 100.000 orang per tahun, dan di Inggris angkanya tercatat di bawah 10 per 100.000 (dicuplik dari berita Internasional Kompas[dot]com yang dirilis pada Maret 2017). Wow angka-angkanya fantastis ya?

Salah satu yang ingin kukaitkan antara video abstrak semenit tadi dengan sebegitu banyak data-data kasus bunuh diri tersebut adalah kenyataan bahwa era saat ini banyak sekali manusia-manusia yang lebih suka berpikir "praktis" tanpa pertimbangan matang. Mungkin akibat hidup di jaman ini udah kelewat serba instan kali ya, sampai-sampai penyelesaian permasalahan, penanggulangan stress, dan juga pencarian jawaban dari keruhnya kehidupan adalah hal-hal yang untuk orang-orang jaman dulu mungkin tidak terpikirkan sebagai TREND yang bisa dengan mudah diaplikasikan, karena yang penting SELESAI CEPAT (meski mungkin sementara).

Contohnya?

Narkoba, miras, nyimeng, ngelem, seks pra-nikah, dan bahkan sampai bunuh diri. Tuh, semuanya pelarian yang seolah "nikmat" bukan? Meski mungkin efek tenang dan "nikmat"nya hanya sesaat, kecuali bunuh diri.

Di dalam video semenit itu ada satu pesan singkat tapi sarat makna menurutku. Bukan karena aku yang buat ya, tapi karena memang jika dimaknai lebih dalam begitulah adanya. Di awal, saat tulisan WARNING muncul kita tak bisa melihat apapun kan? Semua tampak sama, coklat, dengan pantulan dari hal-hal yang ada di atas permukaannya. Setelah ditunggu, sedetik, dua detik, akhirnya muncul setitik putih (yang tak lain adalah bola-bola yang digunakan untuk ball milling di proses sebelum penyaringan). Makin lama titik putih itu semakin jelas, semakin nampak bentuk bolanya, bahkan semakin banyak.

Wow, itulah ke"nikmat"an yang kita cari, itu tujuan yang kita idamkan setelah menunggu proses penyaringan sekian detik!!!

Eits, tunggu dulu. Yakin sampai di situ saja? "Bahkan solvent-nya aja belum benar-benar habis, bersabarlah dulu," begitulah kata bisikan-bisikan sekitar (eh, kok jadi serem sih?) Bukan, bukan memberikan kesan seram begitu maksudnya, hanya saja setelah kita perhatikan lebih lama lagi, sama: ditunggu sedetik, dua detik, akhirnya muncul kembali setitik putih (yang tak lain adalah bola-bola Aluminum Oxide dengan ukuran lebih kecil). Nah, dan beberapa saat kemudian ternyata dasar saringan tersebut telah nampak sepenuhnya, dengan bubuk coklat-gelap-basah yang memenuhinya.

Lalu?

Yang jelas sekali, bahwa bubuk coklat-gelap-basah itulah tujuan utama dari proses penyaringan itu, sebelum akhirnya di-drying semalam sebelum di-heat treatment. Mungkin yang kita anggap sebagai "penyelesaian cepat" dari suatu persoalan terkadang tak benar-benar penyelesaian yang tepat. Karena terkadang perlu ada satu syarat lain yang bernama SABAR untuk mencapai sepenuhnya penyelesaian dan jawaban suatu permasalahan. Bukan sekedar "selesai cepat" yang kita butuhkan untuk mencapai garis finish kebahagiaan dalam hidup, akan tetapi lebih jauh lagi adalah seberapa tepatkah penyelesaian yang kita terapkan untuk mencapai garis finish?

Dan lagi, untuk mendapatkan sebuah pelarian atau penyelesaian permasalahan yang muncul di keseharian kita, kucoba memberikan sebuah visualisasi sederhana seperti ini:
Memang mati itu pasti, tapi apakah harus "mati saat ini" (dengan bunuh diri) untuk mendapatkan ketenangan abadi? Memang merasakan "nikmat" itu pasti, tapi apakah harus sex dini (sebelum menjadi suami-istri) atau narkoba (dan juga zat-zat lain pembuat kecanduan sejenisnya) yang akan menjadi media terbaik untuk merasakannya?
Toh, masih banyak pelarian lainnya kan? Bahkan ketenangan batin, kesehatan jiwa, dan juga kestabilan pikiran bisa didapatkan dengan cara-cara asyik yang lebih berdampak positif dengan efek yang lebih permanen, bukan begitu?

EPILOG
Oke, mungkin udah kepanjangan nih. Jadi sekian dulu ya coret-coret absurd tentang video abstrak semenit tadi. Untuk coret-coret lainnya, tentunya yang lebih terkonsep dan tak seabsurd ini, harap ditunggu saja momentum rilisnya ya! Selamat menikmati penghujung hari Minggu...

#KotakAjaib

Monday, November 27, 2017

Wahai Para Pencari Gelar Akademik...

*sangat direkomendasikan untuk dibaca via browser PC, karena jika via handphone ditakutkan banyak format yang tak terbaca jelas dan mengurangi makna tulisan*

PROLOG
Halo para pegiat literasi, baik para penulis maupun pembaca, terutama pembaca setia blog ini (sok yes banget nih author-nya, kaya ada yang mau baca tulisannya aja -_-). Udah beberapa hari blog ini nggak meng-up tulisan-tulisan pemantik emosi jiwa seperti biasanya nih (eh). So that's why, kali ini penulis hadir dengan salah satu topik fresh from the oven tentang disorientasi dari PPGA (Para Pencari Gelar Akademik). Kira-kira apa sih yang akan diulas? Hihihi, tenang aja ini cuma opini kok. Di awal aku state dulu aja deh, bahwa apa yang aku tuliskan di sini adalah murni opini dan hasil olah pikir logis-obyektif dari penulis (karena pada dasarnya memang penulis tidak berhubungan langsung dengan tokoh-tokoh yang muncul di tulisan kali ini) yang bersumber dari maraknya berita-berita tak sedap yang ber-seliwer-an di dunia maya. Then, untuk kelanjutan serta perkembangan terhadap yang bersangkutan bagaimana silakan ditelusuri sendiri saja dengan modal keingintahuan masing-masing. Untuk apa? Tentunya untuk bisa diambil pelajarannya, tanpa mendiskreditkan kemampuan asli mereka.

Setahun lebih menjadi PPGA di negeri orang tentunya banyak sekali yang dirasakan, entah atmosfer perbedaan budaya dengan tanah air Indonesia, perbedaan bahasa komunikasi sehari-hari, maupun proses interaksi dengan manusia-manusia antar-bangsa, yang diakui atau tidak, jelas memengaruhi kondisi pola pikir. Dari mulai pembuktian dari sebuah anggapan naif masa kuliah tentang "yang penting itu ilmunya, bukan nilainya" hingga kondisi di mana ada "kesempatan hiperbolik" saat ditanya oleh sebagian orang di tanah air tentang apa yang aku lakukan saat menjadi PPGA.

Oh iya, sebelum kulanjutkan cuap-cuapnya, alangkah lebih baik jika kudefinisikan dulu saja mengapa judulnya menyinggung tentang Para Pencari Gelar Akademik (PPGA). PPGA di sini kudefinisikan sebagai para penuntut ilmu yang telah melepas masa pendidikan dasar (yang standarnya sekarang adalah dua belas tahun = SD, SMP, SMA, atau yang setara).

Nah, lalu mengapa definisinya cetek sekali, hanya Pencari Gelar Akademik? Bukankan kita belajar itu mencari ilmu? Bukan hanya gelar akademik, kan?

Hahaha, tenang. Di judul ini aku hanya mencoba menuangkan sebuah istilah realistis (yang kadang keblinger juga jadi pemikiran praktis) bahwa dalam kondisi mendapatkan ilmu atau tidak serta memahami atau belum tentang apa yang tengah/telah dipelajari, itu bukan jadi soal, toh kalau selesai ujian skripsi/tugas akhir/tesis/disertasi/dll dan dinyatakan lulus oleh dosen penguji/profesor, gelar akademik jelas akan mengikuti sebagai embel-embel tambahan di nama kita kan? Entah nantinya dimanfaatkan sebagai "tanggung jawab moral" yang positif dalam pembangunan bangsa dan negara (wih, tinggi banget bahasamu, thor!!!) atau hanya sekedar gegayaan untuk disematkan dalam undangan nikahan (please this is not an offense for anyone, I'm just realized this kind of thing's real in our society).

Oke, yuk kita lanjutkan bahasannya.

Jadi di atas telah kusinggung tentang sebuah anggapan naif masa kuliah tentang "yang penting itu ilmunya, bukan nilainya" hingga kondisi di mana ada "kesempatan hiperbolik" saat ditanya oleh sebagian orang di tanah air tentang apa yang aku lakukan saat menjadi PPGA. Then, mari kita ulas satu per satu.

Anggapan Naif itu Terkadang Memang Naif
Ada yang bertanya apa makna NAIF? Silakan googling atau buka saja Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk melihat lebih lanjut makna dari kata itu.

Jadi siapa yang belum pernah dengar petuah naif bijak:

"Dalam mencari ilmu itu yang penting itu ilmunya, bukan (nominal) nilainya."

atau yang sejenisnya? Tentunya semua pelajar pernah mendengar/membaca petuah-petuah semacam itu bukan? Yang realita sesungguhnya, petuah itu muncul sebagai manifestasi dari upaya menenangkan perasaan seseorang yang secara random (nominal) nilainya tidak semenakjubkan kemampuannya hanya karena faktor X (yang banyak sekali) di luar kuasa yang bersangkutan, sehingga menyebabkan hasil akhir/nilai yang diperoleh dalam proses menuntut ilmu itu tidak sebanding dengan harapannya (seseorang yang memasuki kondisi terdeviasi dari harapan awalnya).

Sering bukan kita mendapati kondisi deviasi semacam itu?

Ya, untuk itulah petuah naif bijak itu muncul.

Tapi jika dikaitkan dengan kondisi real dari sebuah perjuangan menjadi scholarship-based-PPGA di negeri orang (terutama dengan perbedaan bahasa pengantar (bukan English) yang sangat amat menyiksa), dengan sebuah target fix dari Departemen bahwa no good mark = no scholarship. Maka (nominal) nilai adalah hal mutlak yang diperlukan untuk bertahan hidup. Entah bagaimanapun caranya, tanpa nilai baik, kita tak akan pernah bisa melanjutkan untuk menguras ilmu yang ingin kita dapatkan (di sini).

Jadi, solusinya?

Belajar, pahami, dan terapkan dalam ujian secara maksimal.

Kalau masih gagal?

Tandanya proses yang kita lakukan dari "belajar, pahami, dan terapkan" masih perlu ditingkatkan. Tapi ada alternatif lain sih untuk menghindari kegagalan, seperti yang telah diterapkan oleh kawan-kawan satu laboratoriumku dalam menghindari kondisi "gagal" itu menjadi the real failed, yaitu dengan lebih aware dengan kemampuan di mata kuliah yang diambil.

Maksudnya gimana tuh?

Oke, jadi ilustrasinya gini:
___________________________________________________
Di suatu semester yang indah, ada satu mata kuliah yang bisa dibilang sangat menggalaukan. Bagaimana tidak, dari quiz ke-1 hingga ke-3, tak ada satupun mahasiswa di kelas yang lulus, bahkan mencapai rata-rata pun tidak. Karena pada dasarnya mata kuliah ini menyandarkan pada "hafal rumus" beserta turunannya. Hingga tibalah saatnya mid-term (ujian tengah semester) yang bisa dibilang adalah saat-saat yang mengguncang, karena penentuan nilai ujian ini adalah 30% dari keseluruhan nilai akhir.

Lalu, hasilnya?

Dua dari empat mahasiswa internasional (penghuni labku) gugur dan melakukan aksi membuang mata kuliah tersebut (drop mata kuliah) dari daftar semester itu. Karena hasil mid-term mereka yang diakui sendiri "sangat tidak mungkin untuk lulus". Yang secara otomatis risikonya adalah mereka berdua harus mencari mata kuliah lain untuk memenuhi kuota SKS lulus mereka, di semester depan.

Nah, kamu masuk di antara mereka berdua kah?

Nope, aku bersyukur di mid-term dan final exam masih masuk dalam nilai rata-rata atas kelas. Dan dengan modal nekat serta masih menggantungkan harapan besar pada satu final project yang bernilai 30%, kulanjutkan mata kuliah itu hingga akhir semester. Alhamdulillah hasilnya tak mengecewakan, at least doa orang tuaku masih mampu membujuk Allah SWT. untuk meng-khilaf-kan profesor dalam memberikan nilai terbaik (yang cocok buatku) dalam versinya.

JADI INTINYA, MAINKAN SAJA TRIK KHUSUS (tentunya yang halalan thoyyibah) UNTUK LOLOS DARI JEBAKAN GAGAL DALAM MATA KULIAH. Boleh yang nekat dan modal doa ala aku, atau yang spekulatif ala dua kawanku tadi.
___________________________________________________

Tuh, terbukti bukan bahwa petuah/anggapan naif itu terkadang memang naif? Karena pertaruhan nilai menjadi modal awal kelanjutan jenjang pendidikan PPGA di negeri non-English-based ini. Tapi pastinya, meski harus kejar (nominal) nilai jangan sampai melupakan pemahaman ya!!!

Kesempatan Hiperbolik yang Terbuka Lebar
Nah, sebenarnya ulasan di sub-topik sebelumnya hanyalah pemanasan saja. Karena klimaksnya ada di bagian ini. Masih ingat dengan cerita unik tentang mahasiswa kita (yang menuntut ilmu) di Eropa berinisial DH dengan segudang prestasi "indah"nya? Atau dengan kisah miring mahasiswa kita di negeri Jiran yang berjuluk Krimi dalam kumpulan tweet ini? Atau satu lagi, dokter luar biasa berinisial TI yang menurut postingan ini memiliki banyak kejanggalan cerita? Atau selain itu ada juga sih pembahasan lokal oleh kawan-kawan sekitar tentang mahasiswa keren berinisial YDP yang tak kalah fenomenal juga, yang berpotensi ditakutkan jika gaya hiperbolik-nya berlanjut akan bernasib seperti tiga contoh sebelumnya.

Menjadi PPGA, terutama di negeri orang (luar Indonesia), apalagi yang telah masuk dalam jenjang Graduated Program (pasca S1), adalah sebuah kesempatan luar biasa yang patut dibanggakan disyukuri.

Mengapa demikian?

Lho, masih dipertanyakan? Jadi begini, kira-kira berapa banyak sih kids jaman now generasi milenial yang memiliki mimpi untuk berkuliah di luar negeri, atau setidaknya menjadi penakluk benua lain dalam hal keilmuan? Aku yakin sangat banyak! Dengan mempertimbangkan syaratnya yang tak mudah, berkasnya yang tak sedikit, serta prosesnya yang jelas tak semulus paha ayam siap saji yang kulit crispy-nya telah dikelupas, alasan-alasan itu kurasa sudah sangat cukup menerangkan bahwa predikat PPGA luar negeri adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri. Belum lagi yang berhasil tergabung dalam kampus tersohor, yang merupakan impian setiap orang, TU Delft misalnya (kalau ini sebenarnya kampus impian penulis). Atau yang paper-nya lolos dalam jurnal dengan track record pemilik impact factor "dewa", semacam NATURE misalnya (yang ketika berkaca pada jurnal Nature Materials saja IF-nya bisa jadi tembus 39++ di tahun 2016).

Tuh, bayangkan betapa kerennya mereka-mereka itu! Yang secara normal pun, tanpa harus bertindak hiperbolik, memiliki kesempatan luar biasa untuk menjadi fenomenal.

Akan tetapi entah mengapa di zaman ini orang-orang lebih cenderung untuk memilih jalur instan untuk menjadi tenar, sekedar demi mendapat mention sebagai "sang penakluk", "Habibie masa depan", dan sebagainya. Mengapa tak menjadi biasa saja? Mengapa tak "keren" sesuai prosedur saja? Atau jika memang terlalu kebelet "penghargaan", usahalah sedikit lebih keras! Yakin kok, dengan modal menjadi PPGA luar negeri, di kampus tersohor, paper lolos di jurnal bagus, dengan disokong sedikit usaha yang lebih keras saja hasilnya akan memiliki impact jauh di atas rata-rata PPGA lain yang tak seberuntung kalian. This is FACT.

Tapi kan budaya hiperbolik yang kau sebut tentunya juga tak muncul tiba-tiba kan? Ada sebab musababnya bukan?

Ya, jelas kelakuan hiperbolik ini muncul "bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan". Itulah mengapa dalam bagian ini kutuliskan sebagai Kesempatan Hiperbolik yang Terbuka Lebar setelah kita menjadi PPGA (utamanya di luar negeri).

Jadi menurutmu faktornya apa?

Hmm, ini sulit, karena pada dasarnya aku hanya mampu menganalisis dari sudut pandangku sendiri sebagai orang ketiga yang tak memahami latar belakang orang-orang yang ngebet tenar tadi. Tapi setidaknya kucoba tuliskan faktor-faktor yang menurutku sangat berpotensi menimbulkan kesempatan hiperbolik itu keluar secara tiba-tiba atau ditunjukkan oleh seseorang.

1. Faktor Inner Circle
Di faktor yang pertama ini aku jelas menyoroti lingkungan kehidupan dari PPGA. Dalam hal ini adalah keluarga, sahabat, hingga teman-teman dekatnya. Menurut pandanganku, tindakan pencitraan hiperbolik ini tak akan muncul jika PPGA memiliki inner circle yang mampu menjadi "tempat sampah" sekaligus "chamber of secret".

Maksudnya?

Maksudnya adalah, jika inner circle dari PPGA terbiasa untuk menerapkan "budaya apresiasi" yang seimbang (pujian dan kritikan selalu seiring sejalan diberikan padanya tanpa tedeng aling-aling), menurutku PPGA tak akan pernah sekali-kali mencoba untuk memanfaatkan kesempatan hiperbolik yang ada. Lalu untuk chamber of secret yang kumaksud di sini adalah mengikuti pola filosofis dari ruang rahasia dalam serial novel Harry Potter karya J. K. Rowlings. Di mana inner circle (sebagai chamber of secret dari PPGA) akan selalu available jika dibutuhkan, baik untuk mendengar keluh kesah saat risetnya sedang tak memenuhi target, meminta saran jika kesulitan untuk mengomunikasikan sesuatu kepada profesor, atau juga membutuhkan apresiasi ketika dia mencapai prestasi tertentu yang membanggakan. Kupikir inner circle yang baik akan selalu mampu menjadi supporting system yang (dengan caranya sendiri) mampu memberikan inspirasi pada PPGA agar apa yang ia lakukan selalu mengarah pada kondisi atmosfer positif sesuai dengan jalan yang ia pilih sebagai researcher*.
*note: menurutku PPGA yang telah melewati masa S1 dapat dikategorikan sebagai peneliti/researcher baik dia menekuni bidang sosial maupun sains dan teknologi.

2. Faktor Kurangnya Pengalaman GAGAL
Dalam faktor kedua ini, kucoba untuk mempersempit scoop. Jika di faktor pertama tadi lebih ke menuntut pada lingkungan, sekarang di faktor ini aku memberikan ruang untuk para PPGA agar berintrospeksi diri. Karena menurutku, kesempatan hiperbolik itu tak akan pernah dimanfaatkan oleh PPGA jika dia telah mengantongi banyak sekali pengalaman gagal.

Wait, mengapa demikian?

Ya iya lah, kalau PPGA sudah kenyang, atau setidaknya sudah pernah merasakan pahitnya gagal dalam berusaha, tak ada lagi celah untuk berlaku sombong memanfaatkan kesempatan hiperbolik. Analoginya begini: menulis sebuah tulisan scientific berupa paper itu tak mudah, belum lagi jika dalam bahasa Inggris, harus melewati tahapan proof reading yang otomatis harus sesuai dengan bahasa keilmuan. Paper yang telah siap dipublikasikan, akan melalui tahap submit dan review dari redaksi jurnal yang menjadi tujuan sebelum nantinya ada proses revise atau reject. Bahkan menurut Jeff Grigston dan Ben Mudrak dalam tulisan ilmiahnya di 2016 yang berjudul The State of Authorship: Maximizing Impact with the Time and Money You Spend sebuah paper membutuhkan setidaknya 250-350 hari perjalanan, sejak di-submit hingga published (jika prosesnya lancar).

Wow, panjang bukan? Itulah mengapa untuk menjadi "keren" sangatlah tak mudah, berapa banyak PPGA yang gagal lebih dari sekali dalam melakukan publikasi ilmiahnya? Sangat banyak! Bahkan masih menurut Jeff Grigston dan Ben Mudrak, ada banyak sekali PPGA yang tak lebih dari 8 hari publikasinya ditolak hanya karena ketidaksesuaian format (mengalami desk rejection).

Kupikir gambaran itulah yang seharusnya dicermati bagi PPGA di manapun berada. Bahwa keberhasilan yang telah diraih bisa jadi belum apa-apa, apalagi jika keberhasilan tersebut diperoleh tanpa melalui proses gagal dulu, masih ingat pepatah "roda kehidupan itu berputar"? Nah, dari situlah seharusnya kita tidak memanfaatkan kesempatan hiperbolik saat berada di puncak roda, toh masih ada kesempatan berada di lembah kegagalan terbawah kan?

3. Faktor Kedekatan Individu dengan Tuhan-Nya
Nah, sudah paham polanya? Di tulisan kali ini aku menggunakan model reducing area. Jika di faktor pertama lebih ke arah mengambing hitamkan lingkungan (inner circle), di faktor kedua lebih ke arah hubungan PPGA dengan pengalaman yang didapatkannya, maka di faktor ketiga ini aku memperkecil kembali scoop-nya pada perhelatan batin.

Intinya nggak banyak sih yang ingin kusampaikan di faktor ketiga ini, karena pada dasarnya setiap orang yang semakin dekat dengan sang penciptanya pasti menghindari melakukan hal-hal buruk. Dengan alasan praktisnya mungkin adalah: takut dosa. Akan tetapi lebih dari itu, alam bawah sadar orang waras akan secara otomatis bisa memikirkan dampak seperti apa yang akan terjadi jika kebohongan kesempatan hiperbolik yang dimiliki oleh setiap PPGA (khususnya yang berada di luar negeri) akan ketahuan TAK SE-HIPERBOLIK apa yang telah disampaikannya lewat self-marketing yang dilakukan.

EPILOG
Akhir kata, selamat menjalani hari-hari sebagai PPGA di manapun kalian berada. Ingatlah selalu bahwa kejujuran dan integritas adalah dasar bagi setiap keberhasilan dan hal-hal positif yang nantinya akan kita bawa ke tanah air, demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Sampai jumpa di ulasan lainnya...
#KotakAjaib

Thursday, November 9, 2017

Another Point of View about "Sepuluh Nopember" Spirit: BMI Juga Pahlawan

PROLOG
Saat tulisan ini diketik sejujurnya aku sedang dalam keadaan random dan tak terlalu bersemangat berbagi curahan hati dan olah pikiran seperti biasanya. Sehingga hampir saja tulisan kali ini tersemat di media lain, tentunya selain di blog yang usianya sebentar lagi genap 10 tahun ini, anyway media lain itu bisa saja di GNFI, time-LINE, atau juga tempat-tempat lain yang bisa jadi lokasi bertenggernya karya corat-coretku. Tulisan kali ini tak terlalu banyak mengulas hasil perenungan dan pembelajaran dari kehidupan sehari-hari yang terjadi akhir-akhir ini, akan tetapi lebih ke arah penyesuaian sudut pandang dari sebuah momentum yang tepat sekali terjadi esok hari (saat baris ini diketik, jam digital di laptopku menunjukkan pukul 23:32 waktu Taiwan, tentunya pada tanggal 9 November 2017).

Sepuluh November 2017, sejak beberapa tahun terakhir ini aku terkesan dengan satu tanggal ini, bagaimana tidak, kampusku sebelumnya (saat S1) memiliki nama yang dijiwai dari semangat yang identik dengan tanggal ini, apalagi memang hari jadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember memang ditetapkan pada tanggal 10 November, 57 tahun yang lalu. Belum lagi ditambah dengan anniversary Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi (HMMT) FTI-ITS, yang menjadi salah satu tempat pendewasaan jiwa organisasiku selama S1, ditetapkan di tanggal yang sama 17 tahun lalu. Jadi, tahu kan betapa spesialnya sepuluh November buatku?

Nah, kali ini sepuluh November sedikit kuarahkan pada sebuah makna lain tentang kepahlawanan. Sebenarnya "pengarahan" makna ini timbul, salah satu faktornya adalah karena diskusi online antara Kawan GNFI dengan mas Bagus D. Ramadhan (GNFI writer) beberapa hari lalu. Yang pada akhirnya ternyata menelurkan sebuah konsep memperingati Hari Pahlawan 10 November dengan gerakan karya serentak mengusung hashtag (tagar) #DiaJugaPahlawan.

Lalu apa sih maksud dari #DiaJugaPahlawan ini?

Maksudnya adalah untuk memaknai Hari Pahlawan kali ini, kita mencoba untuk sejenak berpikir anti-mainstream dengan menggali sosok-sosok pahlawan lain dari yang selama ini kita ketahui: pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, dan pahlawan-pahlawan lainnya. It's ok jika memang peringatan 10 November adalah sebuah semangat menggelora yang digawangi oleh jasa para pahlawan dan arek-arek Suroboyo dalam upaya mengusir para penjajah, yang berujung pada tewasnya Brigjend. A. W. S. Mallaby saat itu. Akan tetapi, ketika kita menilik lebih jauh tentang apa itu pahlawan, banyak sudut pandang yang patut dipertimbangkan keberadaannya. Salah satunya adalah point of view dari PAHLAWAN itu sendiri. Analogi paling sederhana yang bisa aku sajikan adalah: bisa saja bagi salah satu pihak, si A dianggap pahlawan, akan tetapi justru di sisi lain si A ini dianggap orang biasa saja dan tak berperan apa-apa, ya kan? Nah, pola pikir seperti itulah yang saat ini coba kami (Kawan GNFI) netralisir, bahwa setiap orang memang memiliki sosok pahlawannya masing-masing, dan pada akhirnya kita semua juga patut untuk menghargai pahlawan versi masing-masing orang. Karena pada dasarnya kepahlawanan macam apapun jika tujuannya demi memberikan kontribusi bagi negeri tercinta (Indonesia), tentu efeknya tak akan pernah melenceng jauh dari sebuah upaya menyebarkan Good News From Indonesia.

So, kali ini aku ingin mengangkat sosok fenomenal yang berasal dari luar Indonesia.

Lho, katanya pahlawan Indonesia, kok malah dari luar negeri?

Weits, tunggu dulu dong, daripada menerka-nerka dengan pertanyaan semacam itu, lebih baik mari kita saksikan bersama video berikut ini!


Nah, di dalam cuplikan tak lebih dari semenit itu kita bisa lihat bersama beberapa fakta yang hadir tentang Buruh Migran Indonesia (BMI). Yap, merekalah yang kumaksud tentang sosok fenomenal yang berasal dari luar negeri. Label mereka lebih sering digeneralisir dengan sebutan diaspora Indonesia. Meskipun makna diaspora sesungguhnya tak hanya didominasi oleh BMI saja, melainkan juga termasuk di dalamnya pelajar/mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri, ex-WNI, dan bahkan juga para keturunan WNI yang hidup di negara lain.

BMI yang selama ini mungkin lebih banyak diberitakan hal-hal negatifnya saja di dalam negeri, entah dari sisi penyiksaan majikan, kasus kaburan dan perizinan ilegal, dan bahkan hal-hal tak mengenakkan lainnya, ternyata dari sisi yang lain mereka memiliki potensi besar untuk bisa menyandang predikat pahlawan, khususnya pahlawan devisa bagi Indonesia.

Bagaimana bisa?

Ya, meski ranking-nya tergusur (dari tahun lalu hingga awal tahun ini) dari posisi dua ke posisi enam, akan tetapi ternyata pemasukan devisa negara Indonesia yang berasal dari BMI sangat tak bisa dipandang sebelah mata: 140 triliun rupiah. Walaupun besaran itu tentunya lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan negara Indonesia yang berasal dari sektor Kelapa Sawit (239 triliun), Jasa Pariwisata (190 triliun), Ekspor Tekstil (159 triliun), Ekspor Migas (170 triliun), dan Ekspor Batubara (150 triliun). Nominal-nominal tersebut didapatkan dari pengolahan data Badan Pusat Statistik serta Kementerian Perindustrian di tahun 2017.

Wow, 140 triliun lho, nominalnya tak sedikit ya ternyata?

Iya lah, maka dari itu BMI (atau sebagian orang masih sering menyebut mereka dengan TKI: Tenaga Kerja Indonesia) adalah salah satu sumber pendapatan negara yang besar. Bahkan, jika kita kembalikan ke diri kita masing-masing untuk berintrospeksi, "kamu sudah menyumbang apa saja untuk Indonesia? Sampai kadang terbersit pikiran merendahkan BMI dan membandingkan mereka dengan kedudukan para pekerja kantoran/industri di dalam negeri" (note: anggapan semacam ini seringkali terucap baik tersirat maupun tersurat dari celotehan orang-orang yang masih berpikir bahwa menjadi BMI/TKI hanyalah sebuah status sosial yang tak bisa dibanggakan). Padahal banyaknya BMI/TKI yang berasal dari suatu daerah seringkali dikaitkan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Karena apa? Ya karena (bagi orang yang mengetahui) justru dengan hasil keringat BMI/TKI inilah terkadang suatu wilayah dapat memiliki insight yang lain tentang pola pikir untuk kemajuan dan modernisasi ke arah yang positif.

Wah iya ya, keren banget mereka! Kalau gitu aku juga mau jadi BMI/TKI ah...

Hahaha, boleh-boleh saja beranggapan dan berkeinginan demikian. Tapi kembali lagi, menjadi tenaga kerja di tanah asing tidaklah mudah. Butuh kesiapan finansial, mental, dan juga fisik yang tak biasa. Karena pada dasarnya menjadi BMI/TKI memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menjadi pioneer bagi WNI lainnya yang ingin mengikuti jejaknya.

Maksudnya?

Pertanyaan bagus, jadi begini: jika ternyata keberhasilan sekelompok orang menjadi BMI/TKI di suatu negara justru menyebabkan peningkatan keinginan jadi BMI/TKI menjadi lebih tinggi di negara asalnya, sebut saja menjadi inspirasi bagi banyak orang lainnya, justru hal tersebut bisa dibilang sebuah efek yang terdeviasi.

Duh mumet bro!

Oke oke, jadi sederhananya begini, menjadi BMI/TKI digawangi oleh sebuah keinginan meningkatkan kesejahteraan, kesejahteraan yang secara praktis dan oportunis dapat dimaknai sebagai kesejahteraan pribadi dan keluarga. Akan tetapi jika kita menampik anggapan praktis dan oportunis itu tadi, seyogyanya menjadi BMI/TKI ini adalah sebuah tantangan unik. Tantangan untuk mengumpulkan modal sebelum nantinya kembali ke Indonesia, di sisi lain juga menyerap sebuah pola pikir maju yang (mungkin) belum dimiliki masyarakat dari suatu daerah untuk selanjutnya diadopsi dan dikembangkan menjadi sebuah lahan wirausaha dan jalan berdikari bagi BMI/TKI tersebut di lingkungannya, setelah kontrak kerja sebagai BMI/TKI habis dan mengharuskan mereka kembali ke tanah air.

Oh ya, ya, ya...

Tuh, beban moral dan tanggung jawabnya besar kan? Maka dari itu, yuk kita hargai pahlawan devisa kita ini. Kerja kerasnya untuk keluarga, lingkungan, dan bahkan negeri tercinta patut kita apresiasi sebesar-besarnya. Untuk itulah di hari pahlawan 10 November kali ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada para BMI/TKI di seantero bumi dengan sedikit mengulas tentang jasa-jasa mereka untuk ibu pertiwi.

EPILOG
Selamat hari pahlawan 10 November!!!

Dari aku,
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
TKI*) di salah satu pulau kecil yang menjadi entitas politik milik Republik Rakyat Tiongkok, yang masih terus menuntut ilmu dan belajar memaknai kehidupan lewat setiap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

*)TKI: Tenaga Kerja Intelektual

Wanna support???