Description

"Who you are, depends on what do you think about GOD and yourself."

#KotakAjaib
Copy-Paste boleh, asal cerdas! Jangan lupa cantumkan sumbernya ya...
http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/
Showing posts with label Posting Pertama. Show all posts
Showing posts with label Posting Pertama. Show all posts

Tuesday, April 17, 2018

Highlight Pulang Tak Terduga: Edisi "Marriage is always Win"

PROLOG
Waaah, kasihan banget kamu blog! Beberapa minggu ini ditinggalin penghuninya ya? Bahkan tukang kebunnya pun nggak datang. Tuh, terasnya pada kotor, lantainya berdebu, kacanya kusam juga, asal selang air kerannya nggak buntu dan kotor sih ya...

13 Maret
Hari ini spesial banget sih, karena novel trilogi perdana besutan nama pena yang 5 tahun ke belakang baru tercipta (itu pun masih dihina-dina dengan sebutan-sebutan nyinyir ala-ala), #KotakAjaib. Judulnya ACHRODIAG, nggak nyangka banget sih sebenernya cerita tentang Arrez, Feno, Bobby, dan Zera bakal terbit secepat ini, mengingat cerita jatuh-bangun, tertulis-terhapus, dan lain-lainnya sejak 2012.

(click to enlarge)
Then, cukup dulu basa-basinya untuk tanggal ini. Karena tentang ini akan ada section lainnya untuk diceritakan lebih lengkapnya. Tunggu juga seri kedua dan ketiganya nanti ya!!!

Seminggu Menjelang Pulang
Masih di bulan yang sama dengan terbitnya ACHRODIAG. Kabar tentang tanggal pernikahan kakak yang tercetus begitu saja di akhir bulan Januari lalu memang sedikit banyak berpengaruh besar terhadap rencanaku di awal Spring semester kali ini. Bagaimana tidak, karena kondisi hectic semester akhir studi master-ku kali ini sedang tidak bisa ditinggal, apalagi jarang dibelai.

Singkat cerita satu minggu menjelang 29 Maret lalu menjadi hell-week tersendiri, karena kondisi mental dan fisik yang harus beradu dengan argumentasi perizinan pulang oleh professor belum diterima. Padahal tiket sudah terbeli dan bahkan dalam bentuk pulang-pergi (two way ticket). Alhasil, ada banyak pilihan cara yang bisa dilakukan mantan mahasiswa kampus "teknik" perjuangan (yang belakangnya Sepuluh Nopember lho ya, bukan yang lain) ini untuk mengambil hati professor. Salah satunya dengan memberikan sogokan progress yang sedikit overload dari biasanya. Dengan konsekuensi tubuh dan pikiran yang harus diuji lebih ketahanannya. Lari ke gedung Engineering 1-3-5 secara marathon sehari lima kali juga sudah biasa. Berangkat pagi pulang dini hari pun tak sungkan dilakukan. Demi apa? Demi memperjuangkan bertahannya nama di Kartu Keluarga (ini hiperbolik sih).

"Hi Prof, May I come to your lab today?"
"Again? For what?"
"I want to discuss my plan with you for two days forward."
"Just come now!"

Dan argumen tentang progress sintesis pun berakhir dengan senyum gembira professor hari itu, karena dalam kurun waktu kurang dari satu minggu ternyata sintesis bahanku berhasil untuk 5 resep dari total 6 (yang satu masih gagal).

"Then, what's your plan for tomorrow (27/03)?"
"I will do Raman and DLS for all of my samples."
"Have you booked the instrument? I hear your friends don't get the allowance this week."
"Hehe, I think the power of networking shall be working here. I already message another professor who has Raman Instrument. Also, I already booked DLS from the Environmental department, my Vietnamese friend was helped me yesterday."
"Wow, that's good! Ok, please continue your work..."

Udah ya, mekanisme pengujiannya gimana ngak usah didetailkan. Intinya H-1 keberangkatan ke Indonesia ada percakapan singkat tapi epic antara kami berdua.

"So, here's my future plan, Prof!"
"Hmmm, ok. You already write your plan after gave me great progress this week. I can't tell anything but just go! Please come back on time, like what you write there, on your slide..."

Pulang
Dua puluh sembilan Maret, akhirnya pesawatku take off dari Taoyuan International Airport pukul 10.30 Waktu Taiwan.

Seperti biasa, senja di atas langit Kalimantan.
(sengaja gambarnya gini biar fullscreen di smartphone)

Tiba pukul 18.30 waktu Surabaya (WIB), disambut dengan senyuman mama dan papa, juga Zaky. Then what? Ya pulang, mau ngapain lagi.

3-4 April
Agenda di dua tanggal ini sama sekali tak terencana sempurna, tapi berhasil dieksekusi dengan luar biasa. Dengan bantuan Kun Fayakun tentunya.

Di kantor GNFI, nganterin novel perdana, ditunjukkan sudut-sudut "ruang positif" milik mereka langsung oleh founder-nya. Kurang eksklusif apa lagi coba?
  1. Antar undangan nikah kakak ke bapak & ibu kos selama 3 tahun masa kuliah, yang baiknya udah kaya saudara jauh dan baru ketemu lagi setelah terpisah lama. ✓
  2. Silaturrahim ke bapak ibu dosen DTM ITS (termasuk di dalamnya ketemu kawan-kawan MT14 yang lanjut S2, adik MT15, MT16, dan MT17 yang dulu pernah sosialisasi sekali-dua kali pas masa kaderisasi mereka, juga mampir ke markas para grader Metalurgi, beserta say hi dan bersalaman dengan pranata-pranata lab yang dulu sering banget direpotin semasa pengerjaan Tugas Akhir) ✓
  3. Mampir untuk pertama kalinya ke kantor Good News From Indonesia, bahkan sampai mas Akhyari Hananto (sang founder), yang saat itu seharusnya masih di Jogja, mempercepat jam kepulangannya. Sekalian nganter novel baruku sih :) ✓
  4. Pillow talk bareng Kukuh dan Yogie semalam sebelum kembali ke Bojonegoro ✓

Menjelang Hari-H
Jemput Tira Kurnia Saputri di stasiun Bojonegoro, yang datang barengan keluarganya. How lucky I am, bahkan usahaku untuk pulang demi nikahan kakak pun disambut baik sama kamu dan keluargamu yang datang jauh-jauh dari Depok ke Bojonegoro. Dan lagi, kaya yang kamu bilang bahwa ini adalah pengalaman pertama kalinya mama-bapak-Adin naik kereta sejauh ngelewatin tiga provinsi. So thank you ya :*

Delapan April Dua Ribu Delapan Belas
Udah ah, untuk ini highlight-nya pakai foto-foto aja ya. Intinya ini hari-H nikahan Hardhika Rian Wardhany Hernandha (Herdha), kakak perempuan satu-satunya dari Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha (Ozha, si anak bungsu).

Di prosesi ini, papa yang se"kuat itu" aja nangis pas jadi wali, baper maksimal cuy!!!
Masih di hari yang sama, dari kiri: Tira, mas Dhega, kak Herdha, me. Maafkan ke-absurd-an kualitas fotonya ya, ini aja fotoin dari komputer tukang fotonya. Efek kebelet nulis padahal belum dapet fotonya nih, nanti diubah kalau sempat ya :)
Kiri ke kanan: me, her, Eka, Yogie
Pose pertama

Pose kedua

Pose ketiga, bareng Fahry (adik sepupu yang udah ganteng, pinter, dan jarang banget ngerengek meski masih delapan bulan)
Pinter banget kan, curi-curi kesempatan kangen-kangenan di sela-sela acara nikahan. Hahaha, maklumin lah ya, dari sejak kenal "nggak sengaja" untuk pertama kali di 2012 (masih sama-sama punya pacar), bikin komitmen di 2015, sampai detik ini kita cuma ketemuan live enam kali. Gimana nggak pejuang LDR banget tuh? Dari mulai jaraknya sejauh Depok-Surabaya (UI-ITS) atau Depok-Bojonegoro, sampai sekarang jadi Indonesia-Taiwan. Mohon doanya agar dikuatkan dan dilancarkan sampai hari-H kita ya (lho?). Boleh lah curi-curi minta doanya dari para pembaca juga :)

Nah ini nih, salah satu pasangan inspiratif (bapak-ibu kos selama masa S1) yang pernah ngalamin LDR Indonesia-Australia juga, sampai akhirnya si bapak nyusul ibu buat memperjuangkan gelar master-nya sampai lulus di negeri Kanguru.
The Last
Waktunya pulang...

Kiri ke kanan: Yogie, me, Vini "opin", yang merelakan bangun pagi hanya demi mengantarkan seonggok daging bernyawa ini.

Nah, di pose kedua ini ada drama yang tak diceritakan. Tapi dramanya bukan diantara kita bertiga.
Penasaran apa dramanya?
Dramanya adalah: GAGALNYA PERTEMUAN "anak ayam" DIVERGENT UNTUK MENGANTAR ABAHNYA KEMBALI KE PERANTAUAN. Yah, meski batal ketemu langsung, thanks a lot untuk Regita, Silvia, Zumar, dkk, yang sudah mengusahakan pertemuan dengan abahnya. Semoga kalian sukses terus ya, nak...

Delay
Sore sampai malamnya di Hong Kong, akibat delay cuaca ala-ala
Take Off HKG - TPE
Bener-bener serasa pesawat pribadi deh malam itu
Then, pada akhirnya aku sampai di bandara Taoyuan International Airport lagi tepat di penghujung tanggal 14 April 2018. Dan wajah pertama yang hadir di pintu keluar adalah sesosok room-mate ketigaku selama di NCU, yang perawakannya sebenernya pantes kalau sholeh, meski dia memilih untuk menjadi terlampau m*sum, KLIK DI SINI.

EPILOG
Udah ah, highlight pekan pulangnya sekian dulu aja ya. Maaf kalau sedikit absurd dan nggak jelas. Ya mau gimana lagi, ini nulisnya aja curi-curi waktu nyusun draft thesis. Mohon maklumnya ya :*

Finally, happy wedding buat kakak. Bahagia selalu ya, doa-doa baikku inshaAllah selalu tercurah di manapun berada buatmu dan keluarga...


#KotakAjaib

Thursday, November 9, 2017

Another Point of View about "Sepuluh Nopember" Spirit: BMI Juga Pahlawan

PROLOG
Saat tulisan ini diketik sejujurnya aku sedang dalam keadaan random dan tak terlalu bersemangat berbagi curahan hati dan olah pikiran seperti biasanya. Sehingga hampir saja tulisan kali ini tersemat di media lain, tentunya selain di blog yang usianya sebentar lagi genap 10 tahun ini, anyway media lain itu bisa saja di GNFI, time-LINE, atau juga tempat-tempat lain yang bisa jadi lokasi bertenggernya karya corat-coretku. Tulisan kali ini tak terlalu banyak mengulas hasil perenungan dan pembelajaran dari kehidupan sehari-hari yang terjadi akhir-akhir ini, akan tetapi lebih ke arah penyesuaian sudut pandang dari sebuah momentum yang tepat sekali terjadi esok hari (saat baris ini diketik, jam digital di laptopku menunjukkan pukul 23:32 waktu Taiwan, tentunya pada tanggal 9 November 2017).

Sepuluh November 2017, sejak beberapa tahun terakhir ini aku terkesan dengan satu tanggal ini, bagaimana tidak, kampusku sebelumnya (saat S1) memiliki nama yang dijiwai dari semangat yang identik dengan tanggal ini, apalagi memang hari jadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember memang ditetapkan pada tanggal 10 November, 57 tahun yang lalu. Belum lagi ditambah dengan anniversary Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi (HMMT) FTI-ITS, yang menjadi salah satu tempat pendewasaan jiwa organisasiku selama S1, ditetapkan di tanggal yang sama 17 tahun lalu. Jadi, tahu kan betapa spesialnya sepuluh November buatku?

Nah, kali ini sepuluh November sedikit kuarahkan pada sebuah makna lain tentang kepahlawanan. Sebenarnya "pengarahan" makna ini timbul, salah satu faktornya adalah karena diskusi online antara Kawan GNFI dengan mas Bagus D. Ramadhan (GNFI writer) beberapa hari lalu. Yang pada akhirnya ternyata menelurkan sebuah konsep memperingati Hari Pahlawan 10 November dengan gerakan karya serentak mengusung hashtag (tagar) #DiaJugaPahlawan.

Lalu apa sih maksud dari #DiaJugaPahlawan ini?

Maksudnya adalah untuk memaknai Hari Pahlawan kali ini, kita mencoba untuk sejenak berpikir anti-mainstream dengan menggali sosok-sosok pahlawan lain dari yang selama ini kita ketahui: pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, dan pahlawan-pahlawan lainnya. It's ok jika memang peringatan 10 November adalah sebuah semangat menggelora yang digawangi oleh jasa para pahlawan dan arek-arek Suroboyo dalam upaya mengusir para penjajah, yang berujung pada tewasnya Brigjend. A. W. S. Mallaby saat itu. Akan tetapi, ketika kita menilik lebih jauh tentang apa itu pahlawan, banyak sudut pandang yang patut dipertimbangkan keberadaannya. Salah satunya adalah point of view dari PAHLAWAN itu sendiri. Analogi paling sederhana yang bisa aku sajikan adalah: bisa saja bagi salah satu pihak, si A dianggap pahlawan, akan tetapi justru di sisi lain si A ini dianggap orang biasa saja dan tak berperan apa-apa, ya kan? Nah, pola pikir seperti itulah yang saat ini coba kami (Kawan GNFI) netralisir, bahwa setiap orang memang memiliki sosok pahlawannya masing-masing, dan pada akhirnya kita semua juga patut untuk menghargai pahlawan versi masing-masing orang. Karena pada dasarnya kepahlawanan macam apapun jika tujuannya demi memberikan kontribusi bagi negeri tercinta (Indonesia), tentu efeknya tak akan pernah melenceng jauh dari sebuah upaya menyebarkan Good News From Indonesia.

So, kali ini aku ingin mengangkat sosok fenomenal yang berasal dari luar Indonesia.

Lho, katanya pahlawan Indonesia, kok malah dari luar negeri?

Weits, tunggu dulu dong, daripada menerka-nerka dengan pertanyaan semacam itu, lebih baik mari kita saksikan bersama video berikut ini!


Nah, di dalam cuplikan tak lebih dari semenit itu kita bisa lihat bersama beberapa fakta yang hadir tentang Buruh Migran Indonesia (BMI). Yap, merekalah yang kumaksud tentang sosok fenomenal yang berasal dari luar negeri. Label mereka lebih sering digeneralisir dengan sebutan diaspora Indonesia. Meskipun makna diaspora sesungguhnya tak hanya didominasi oleh BMI saja, melainkan juga termasuk di dalamnya pelajar/mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri, ex-WNI, dan bahkan juga para keturunan WNI yang hidup di negara lain.

BMI yang selama ini mungkin lebih banyak diberitakan hal-hal negatifnya saja di dalam negeri, entah dari sisi penyiksaan majikan, kasus kaburan dan perizinan ilegal, dan bahkan hal-hal tak mengenakkan lainnya, ternyata dari sisi yang lain mereka memiliki potensi besar untuk bisa menyandang predikat pahlawan, khususnya pahlawan devisa bagi Indonesia.

Bagaimana bisa?

Ya, meski ranking-nya tergusur (dari tahun lalu hingga awal tahun ini) dari posisi dua ke posisi enam, akan tetapi ternyata pemasukan devisa negara Indonesia yang berasal dari BMI sangat tak bisa dipandang sebelah mata: 140 triliun rupiah. Walaupun besaran itu tentunya lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan negara Indonesia yang berasal dari sektor Kelapa Sawit (239 triliun), Jasa Pariwisata (190 triliun), Ekspor Tekstil (159 triliun), Ekspor Migas (170 triliun), dan Ekspor Batubara (150 triliun). Nominal-nominal tersebut didapatkan dari pengolahan data Badan Pusat Statistik serta Kementerian Perindustrian di tahun 2017.

Wow, 140 triliun lho, nominalnya tak sedikit ya ternyata?

Iya lah, maka dari itu BMI (atau sebagian orang masih sering menyebut mereka dengan TKI: Tenaga Kerja Indonesia) adalah salah satu sumber pendapatan negara yang besar. Bahkan, jika kita kembalikan ke diri kita masing-masing untuk berintrospeksi, "kamu sudah menyumbang apa saja untuk Indonesia? Sampai kadang terbersit pikiran merendahkan BMI dan membandingkan mereka dengan kedudukan para pekerja kantoran/industri di dalam negeri" (note: anggapan semacam ini seringkali terucap baik tersirat maupun tersurat dari celotehan orang-orang yang masih berpikir bahwa menjadi BMI/TKI hanyalah sebuah status sosial yang tak bisa dibanggakan). Padahal banyaknya BMI/TKI yang berasal dari suatu daerah seringkali dikaitkan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Karena apa? Ya karena (bagi orang yang mengetahui) justru dengan hasil keringat BMI/TKI inilah terkadang suatu wilayah dapat memiliki insight yang lain tentang pola pikir untuk kemajuan dan modernisasi ke arah yang positif.

Wah iya ya, keren banget mereka! Kalau gitu aku juga mau jadi BMI/TKI ah...

Hahaha, boleh-boleh saja beranggapan dan berkeinginan demikian. Tapi kembali lagi, menjadi tenaga kerja di tanah asing tidaklah mudah. Butuh kesiapan finansial, mental, dan juga fisik yang tak biasa. Karena pada dasarnya menjadi BMI/TKI memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menjadi pioneer bagi WNI lainnya yang ingin mengikuti jejaknya.

Maksudnya?

Pertanyaan bagus, jadi begini: jika ternyata keberhasilan sekelompok orang menjadi BMI/TKI di suatu negara justru menyebabkan peningkatan keinginan jadi BMI/TKI menjadi lebih tinggi di negara asalnya, sebut saja menjadi inspirasi bagi banyak orang lainnya, justru hal tersebut bisa dibilang sebuah efek yang terdeviasi.

Duh mumet bro!

Oke oke, jadi sederhananya begini, menjadi BMI/TKI digawangi oleh sebuah keinginan meningkatkan kesejahteraan, kesejahteraan yang secara praktis dan oportunis dapat dimaknai sebagai kesejahteraan pribadi dan keluarga. Akan tetapi jika kita menampik anggapan praktis dan oportunis itu tadi, seyogyanya menjadi BMI/TKI ini adalah sebuah tantangan unik. Tantangan untuk mengumpulkan modal sebelum nantinya kembali ke Indonesia, di sisi lain juga menyerap sebuah pola pikir maju yang (mungkin) belum dimiliki masyarakat dari suatu daerah untuk selanjutnya diadopsi dan dikembangkan menjadi sebuah lahan wirausaha dan jalan berdikari bagi BMI/TKI tersebut di lingkungannya, setelah kontrak kerja sebagai BMI/TKI habis dan mengharuskan mereka kembali ke tanah air.

Oh ya, ya, ya...

Tuh, beban moral dan tanggung jawabnya besar kan? Maka dari itu, yuk kita hargai pahlawan devisa kita ini. Kerja kerasnya untuk keluarga, lingkungan, dan bahkan negeri tercinta patut kita apresiasi sebesar-besarnya. Untuk itulah di hari pahlawan 10 November kali ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada para BMI/TKI di seantero bumi dengan sedikit mengulas tentang jasa-jasa mereka untuk ibu pertiwi.

EPILOG
Selamat hari pahlawan 10 November!!!

Dari aku,
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
TKI*) di salah satu pulau kecil yang menjadi entitas politik milik Republik Rakyat Tiongkok, yang masih terus menuntut ilmu dan belajar memaknai kehidupan lewat setiap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

*)TKI: Tenaga Kerja Intelektual

Thursday, September 28, 2017

Sabar itu Berbuah Lancar: Langkah Membuka Blokir Internet Banking BNI secara Online

PROLOG
Tulisan kali ini spesial banget diinisiasi oleh kinerja terbaik (meski belum maksimal) yang telah aku rasakan dan nikmati dari PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk, bank pertama milik negara yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia.
Bagaimana bisa tulisan ini berasal dari kinerja BNI? Yuk lanjut ke tulisan utamanya aja.

Jadi peristiwanya terjadi di 11 September 2017, atau tepat 21 hari (tiga minggu) setibaku di Taiwan pasca menikmati SVE17. Menjadi perantau yang masih dependent dengan tanah air memang terkadang menyulitkan, karena di sisi lain segala urusan selama merantau (untuk studi) telah sepenuhnya migrasi dan ditransfer di negara domisili. Akan tetapi untuk beberapa hal masih membutuhkan bantuan pelayanan dari Indonesia, jelas lah kan KTP dan Paspor (milikku) masih berlambang Garuda Pancasila dan bertuliskan Warga Negara Indonesia.

Nah di hari itu (11/09) aku mendapatkan sebuah kronologis kejadian yang aneh dan menjengkelkan.

Apaan sih emang?

Oke, sesuai dengan apa yang aku sampaikan via pengaduan elektronik ke e-mail bnicall@bni.co.id tertanggal 11 September 2017 pukul 14:41 Waktu Taiwan adalah:

(click to enlarge)
Nah begitulah ceritanya, sumpek galau, bingung, dan juga takut campur aduk menjadi satu. Bagaimana tidak, jelas sekali jika di Indonesia tinggal starter motor, cari kantor cabang BNI terdekat dan bertanya ke CS untuk menyelesaikan masalahnya, 15-20 menit clear. Nah masalahnya aku sedang berada di tanah rantau, di mana yang kuketahui adalah bahwa kantor cabang BNI di luar negeri terdekat dari Taiwan hanyalah di Hong Kong dan Korea (entahlah jika ada yang lain). Ya kali plesiran ke negara lain cuma buat aktivasi beginian doang kan? Useless banget, meski sebenarnya mungkin asyik.

Akhirnya seminggu berlalu, sampai pada hari ke-8, tak ada balasan dari e-mail tersebut selain ucapan standar khas bot pembalas e-mail semacam:
Yth. Bapak/Ibu,
Terima kasih atas kepercayaan Bapak/Ibu kepada BNI.
Email Bapak/Ibu telah kami terima dan akan segera kami tindak lanjuti.

Hormat Kami,
BNI Call 1500046

yang justru menambah tingkat emosi dan sakit hati semakin bertambah. Akhirnya di hari itu juga, dengan masih memegang prinsip kesabaran, aku mengirimkan pesan untuk meminta agar kasusku segera ditindak lanjuti. Atau minimal diberikan langkah-langkah mudah untuk aktivasi akun internet banking via online, tanpa harus repot menghadap CS. Tapi di sisi lain aku juga menghubungi orang rumah (baca: keluarga di Indonesia) untuk menanyakan ke CS bagaimana tindak lanjut kasusku. Yang ternyata hasilnya:
"Mungkin masnya bisa telpon ke BNI pusat Jakarta, atau pergi menghadap CS kami untuk aktivasi saja bu. Karena kami juga tak bisa membantu lebih banyak jika bukan yang bersangkutan yang hadir."

Oh men, jawabannya sangat amat "di permukaan". Heranku saat itu adalah mengapa CS tidak menyarankan aku untuk membuat surat kuasa ke orang rumah untuk memercayakan pengurusan kasus yang kualami itu pada yang bisa dipercaya? Yang jujur, pada saat itu hanya hal seperti itulah yang terpikir olehku, saking butuhnya mengecek rekening itu secara berkala.

Hari-hari berlalu dengan prinsip sabar (atau lebih tepatnya pasrah) dengan aku yang terus memikirkan plan B jika suatu saat tiba-tiba aku diharuskan mengecek rekening itu karena "suatu hal". Then, my mood has changed today. Pasalnya, admin e-mail bnicall@bni.co.id tiba-tiba mengirimkan balasan surat cinta yang kukirim 17 hari lalu dengan solusi yang sangat amat membantu, yang mungkin tak banyak orang tahu (bahkan CS kantor cabang pun seharusnya dilatih untuk memberikan solusi semacam ini jika ada nasabahnya datang dan meminta keterangan penyelesaian)

Jadi langsung saja, begini langkah-langkah untuk membuka blokir Internet Banking BNI secara online yang disarankan oleh admin BNI via e-mail tersebut:

1. Masuk ke tautan https://ibank.bni.co.id/ yang tampilannya seperti di bawah ini:

Setelah itu segera alihkan pandangan di icon di bawah kolom log in
Tenang saja di sini kalian masih tetap tak akan bisa login kok, jadi segera alihkan pandangan ke icon-icon di bawah kolom log in.

2. Pilih lupa password (icon gembok terbuka)

3. Selanjutnya kalian semua akan ter-redirect pada halaman sebagai berikut:

Tentukan pilihanmu di sini
4. Untukku jelas kupilih mode online karena ketidak tersediaan ATM BNI di lokasi terdekat, yang setelah kutekan continue akan beralih lagi ke halaman sebagai berikut:

Jangan pedulikan angka merah, karena randomly mereka akan berganti-ganti
5. Lalu masukkan User ID kalian (yang digunakan untuk log in biasanya) dan juga kode verifikasi yang terdapat di layar BNI Internet Banking (angka merah). Dan klik continue, yang akan langsung teralihkan ke halaman:

Jendela ini jangan ditutup atau di-reload agar proses recovery akun kalian tidak terganggu lagi
6. Jika sepertiku, dengan kasus nomor handphone Indonesia yang 4 angka terakhirnya disematkan pada web tersebut telah hangus hampir 8 bulan lalu (karena lupa isi pulsa), jangan khawatir! Segera cek e-mail kalian yang digunakan untuk mendaftar akun internet banking dulu.

Di sini akan kalian temukan 4 digit angka untuk sekali log in sebelum dilakukan perubahan password
7. Selanjutnya masukkan 4 digit angka yang dikirim ke alamat e-mail (atau nomor handphone, jika masih aktif) yang sudah terdaftar di sistem saat pendaftaran pertama kali ke kolom yang ada di gambar langkah no 5, dan klik continue.

8. Selanjutnya akan muncul jendela untuk mengganti password akun kalian. Di sana ada beberapa acuan dan aturan untuk memilih password sesuai standar yang dianut oleh keamanan sistem BNI. Turuti sajalah, asal tetap menyamankan kalian dalam menghapal password pribadi.

9. Selesai, dan segera coba log in dengan password baru. Dijamin berhasil!!!

Yah, begitulah langkah-langkah mudah bagi siapapun yang sempat bingung dan kebakaran jenggot jika kasus serupa terjadi pada akun internet banking BNI kalian.

Saran bagi seluruh CS BNI cabang di seantero bumi:
Setidaknya kalian harus paham betul langkah-langkah yang memudahkan nasabah semacam ini agar ke depannya ketika ada nasabah yang memerlukan bantuan dan masukan saran terkait kasus yang mereka alami (tidak hanya tentang internet banking) jawaban kalian bisa sememuaskan admin e-mail pusat semacam ini. Karena toh seharusnya SOP terhadap semua kasus berasal dari sumber yang sama dan juga prosedurnya serupa.

EPILOG
Selamat mengikuti langkah-lagkah mudahnya, semoga membantu. Dan jika kalian (para pengguna internet banking BNI) belum pernah mengalami hal serupa, tak ada salahnya sebagai upaya preventif atau jaga-jaga segera tekan Ctrl+D di laptop masing-masing dan simpan link artikel ini. Mungkin saja berguna di masa depan. Dan satu lagi, yang terpenting dalam menghadapi situasi yang membingungkan semacam itu adalah kita harus SABAR dan dilarang putus asa dalam mencari jalan keluarnya.
Terima kasih untuk admin BNI pusat, karena berkat tanggapannya yang meski lama bisa diikuti dengan sangat mudah dan minim effort (selain butuh koneksi internet).

Wednesday, August 23, 2017

SVE17 1.0: Dua Tawaran, Sambutan, dan Silaturrahim

Akhirnya setelah sekian bulan aku meninggalkannya, aku kembali lagi.
Meski hanya sejenak aku menikmatinya: keindahan langit senja di Indonesia, dari atas langit Kalimantan.
PROLOG
Wah, sepertinya memang udah bukan hitungan hari lagi writer mencampakkan blog  unyu  yang baru aja bertransformasi color-theme ini ya? Sebulan penuh guys, kerasa nggak? Kalau aku sih, udah agak gatel-gatel gitu efek lama nggak ketik-ketik manja di tuts keyboard dan berbagi cerita. Jadi kali ini series-nya agak sok-sok misterius pakai singkatan dan juga versi gitu. Tapi maksud dari SVE17 ini nggak semisterius kelihatannya kok, karena kode itu hanya kependekan dari Summer Vacation Edition 2017. Dan untuk versinya nggak perlu bingung-bingung diterjemahin juga ya, karena itu hanya menandakan hitungan pekan. Jadi kalau ada kode 1 di digit sebelum titik itu artinya, cerita kali ini terjadi di pekan pertama. Dan angka di belakang titik itu maksudnya space yang disediakan kalau-kalau ternyata terpikirkan cerita lainnya (baca: spin off series) yang juga mungkin terjadi di pekan yang sama. Yaaa gitu deh...
Jadi, kalian siap untuk membaca kelanjutan langkah kaki sang #KotakAjaib?

Dan cerita tentang Going Merry dan Thousand Sunny pun berlanjut di posting kali ini. Bukan lagi menjadi narasi cerita, akan tetapi menjadi impact dari mengapa aku harus "pulang" dan rela meninggalkan rumah di Bojonegoro menuju Surabaya meski baru tiga hari lalu (saat itu) merasakan atmosfer hangatnya perhatian orang tua.

Jadi waktu itu hari Selasa (25/07), aku memutuskan untuk memacu motor kesayangan sejak SMA membelah jalanan Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Surabaya demi sebuah aktivitas (yang mungkin bagi beberapa orang dianggap nggap penting dan "apa banget") bernama silaturrahim ke jurusan (sekarang namanya departemen) tercinta, Teknik Material dan Metalurgi (sekarang namanya Teknik Material) ITS. Tujuan utama dari silaturrahim kali ini adalah tindak lanjut dari percakapan-percakapan dan kode-kode pertemuan dari bapak dosen pembimbing utama Tugas Akhirku yang tak lain dan tak bukan adalah Kepala Departemen Teknik Material (DTM) FTI-ITS periode berjalan. Mungkin beliau sudah kangen dengan anak didik bandelnya yang sering ndableg kalau diberi wejangan tentang risetnya saat S1. Hihihi, yang meski hitungannya berupa ke-ndableg-an, hal-hal itulah yang juga mengantarkanku untuk berhasil menancapkan tonggak riset material paduan Magnesium untuk biomaterial ortopedi di DTM. Terbukti untuk riset-riset selanjutnya tak sedikit adik-adik yang melanjutkan topik risetku.

Oke, flashback-nya lebih baik dicukupkan saja sebelum terkesan membosankan. Jadi tepat pukul 10.00 pagi aku telah tiba di kosan Suto Guswanda untuk meletakkan barang-barang bawaanku, karena memang selama beberapa hari ke depan rencananya aku menginap di kosannya. Setelah sebelumnya mengobati rasa rindu pada bangunan paling sejuk di seantero ITS: Masjid Manarul Ilmi, dengan sejenak bersujud di aula utamanya dan duduk di sandaran berbahan keras paling ergonomis di ITS: pilar masjid Manarul Ilmi.

Tak menyianyiakan waktu, segera setelah itu aku memacu motor menuju gedung departemen TM. Gedung yang lima tahun lalu sempat menjadi gedung paling angker selama menjadi mahasiswa baru, yang tanpa perlu diceritakan detail sepertinya kawan-kawan yang senasib seperjuangan denganku akan paham dengan sendirinya.

Di sana aku disambut baik sekali layaknya kawan lama, saudara, serta sahabat oleh civitas akademik DTM. Baik dari mas Basuki sang penjaga gerbang keluar masuk motor dan sepeda di jurusan (aku sebutnya gini aja ya, biar bisa bernostalgia dengan penamaannya), pak Anto sang penjaga furnace lab. Metalurgi, pak Moko sang pranata serba bisa, juga bapak-bapak lainnya. Tak lupa juga adik-adik angkatan 2013 yang masih berjuang dengan yudisium mereka (pekan itu), mereka semua menyambutku dengan hangat dan baik. Hingga tibalah saat di mana aku harus masuk ke ruangan sakral: area ruang dosen. Bagaimana bisa sakral? Iya lah, kita (mahasiswa) hanya bisa masuk ke sana jika mengurus berkas beasiswa, menyerahkan borang FRS dan ekivalensi, menemui dosen wali, lobbying untuk pengurusan praktikum adik-adik (saat menjadi asisten lab), bahkan sidang Tugas Akhir, serta urusan-urusan resmi lainnya. Ah, how nostalgic memories it is...

Di sana aku sekali lagi disambut dengan satu pertanyaan sejuta (umat) dosen, "Lho, Ozha lagi pulang? Gimana risetnya? Lancar kan ya?"

Dan hanya jawaban yang selalu sama dan default yang keluar dari mulutku, "Iya pak/bu, Alhamdulillah Lancar, makanya ini bisa liburan dan pulang." (if you know what I mean)

Hanya saja satu jawaban lain yang kukeluarkan jika beliau-beliau mulai menanyakan satu hal: "Kamu kapan lulusnya? Kembali kan nanti?"

"InshaAllah tahun depan untuk Master-nya pak/bu, mohon doanya. Kalau pertanyaan kedua itu mungkin akan (bisa) saya jawab pas saya selesai menemui pak Agung Purniawan nanti. Pak Agung wonten, pak/bu?" begitu jawabku.

Yang akan disusul dengan senyuman termanis beliau-beliau sambil berkata, "Ya sudah, semoga lancar ya di sana dan cepat kembali. Pak Agung ada di ruangan kok, dan lagi nggak sibuk. Segera ditemui saja!"

Singkat cerita pak Agung dan juga bu Diah Susanti menerimaku dengan ramah di ruangan beliau berdua (ruang Kepala dan Sekretaris DTM). Saat itu kami semua mengobrol ngalor ngidul dan berdiskusi tentang pertanyaan-pertanyaan yang sempat mengganjal di pikiran masing-masing. Berjam-jam tanpa sekat, kami berbincang bukan lagi dalam kondisi dosen-mahasiswa, akan tetapi lebih ke partner dan kolega. Tak hanya berbincang, bahkan seharian itu aku di-provide layaknya tamu oleh bapak ibu dosen. Mengapa kubilang tamu? Karena selain ditraktir makan, aku juga diajak berkeliling ITS bersama beberapa dosen dalam satu mobil.

Lalu topik pembicaraan seperti apa yang terjalin di sana?

Jelas, tak jauh-jauh dari nostalgia masa kuliah: saat di mana sekat dosen dan mahasiswa masih melekat di titel kami masing-masing, kondisi DTM dan ITS sekarang, keputusanku untuk lanjut PhD atau kerja di Taiwan dulu, tawaran kembali, serta saran-saran ke depan untukku dan rencana pembangunan/pengembangan DTM ITS.

Ah, sungguh sangat luar biasa. Pengalaman pekan pertama ini jelas sekali sangat berharga. Karena dengannya aku telah berhasil mendapatkan koneksi kuat (strong bond) dengan beliau-beliau para dosen yang selama delapan semester membimbingku dan memberikan banyak wawasan saat di jenjang S1. Bahkan tak hanya itu, aku mendapatkan labelling baru dari beliau-beliau selain "mahasiswa DTM yang telah lulus": yaitu partner aset.

Entah apa maksudnya, yang pasti intinya di momentum itu aku sangat menikmati update hubungan semacam itu, dosen-mahasiswa menjadi partner-kolega.

Lalu apa hubungannya dengan judul yang tersemat?

Oh, maksudnya di redaksional Dua Tawaran dan Sambutan? Sepertinya itu tak harus dijelaskan terlalu detail lah ya, yang pasti tawaran-tawaran itu dilontarkan oleh profesorku serta general manager dari perusahaan yang proyeknya sedang kukerjakan beberapa waktu lalu sebelum aku pulang ke Indonesia. Dan untuk sambutan, kukira jika kalian membaca dengan cermat di posting kali ini sejak awal pasti paham apa yang kumaksud.

Yah, nggak seru nih mainnya kode-kode...

Hahaha, tenang aja lah, suatu saat kodenya juga akan terpecahkan. Dan untuk mengobati rasa "ke-nggak seru-an" pembaca, berikut ini aku sematkan juga beberapa dokumentasi lain tentang silaturrahim yang terjadi di SVE17 1.0 kok, check this out!!!

Masih ingat siapa mereka? Beberapa hal tentang kami pernah kutuliskan secara gamblang pada satu posting yang nggak kalah bapering tentang REFORMASI. Tapi di foto ini beda, kami perwakilan tiga generasi pemandu LKMM TM ITS yang dipertemukan melalui hitsnya masalah-masalah yang terjadi di KM ITS pada masanya masing-masing.
Here we are: Berarti x Reformasi x Ekspresi
Foto sebelumnya belum ada Hamida, dan di sini dianya baru datang dan sudah ada beberapa dari kami yang pulang.
Ini sesi lain lagi dari silaturrahim pekan ini: with MT14 warkopers!!!
Bonus dari foto di atas: dua orang kawan yang memutuskan untuk melanjutkan studi Master mereka di kampus tecinta ITS, yang sebelum foto ini di-capture telah menjalani prosesi lari-lari dan ngantri untuk daftar ulang.
Welcome to the new world bro!!!
(Kiri: Kukuh Ardiansani Kurniawan, 2712100013; Kanan: M. Yogie Latansa, 2712100070)
Eh, ternyata ada kesempatan ketemu juga sama beberapa orang cewek-cewek hits-nya Divergent lhooo...
Selain itu juga ketemuan sama mas Azis (aka Brutuz) MT04, yang selain silaturrahim kami juga ngomongin proyek sosial berupa crowdfunding punya Ikatan Alumni Material ITS. Penasaran apa proyeknya? Cek foto abis ini ya...
Yuk donasi yuk!!!
EPILOG
Pekan pertama berakhir manis, karena labelnya memang silaturrahim. Lalu bagaimana dengan pekan kedua? Yuk kita nantikan kelanjutannya!!!

Saturday, May 27, 2017

Kardio 1: Ximen Halal Niurou Mian

PROLOG
Eh udah hari pertama Ramadhan aja ya? Dan 1438 Hijriyah kali ini, tak kusangka menjadi Ramadhan pertamaku di negeri orang. Sengaja tulisan kali ini akan berupa series, yang kunamai Kardio: Kisah Ramadhan di Negeri Orang. Di mana Kardio seri pertama ini akan berbicara tentang salah satu cerita tentang finding Halal Food. Mungkin tak sepanjang tulisan biasanya, akan tetapi semoga bisa menjadi inspirasi positif dan pemberat amal jariyah sampai nanti. Aamiiiin...

Yah, kisah ini bermula tepat seminggu yang lalu, dua puluh Mei 2017. Agenda PPI Taiwan yang melibatkanku untuk hadir tak bisa terelakkan. Meski sejujurnya aku juga tak ingin melewatkan festival yang diadakan di kampusku. Mengapa demikian? Karena NCU Muslim Club, organisasi pertama yang membuatku terseret ke dalam arus kehidupan kemahasiswaan non akademik saat menjadi mahasiswa Master di Taiwan, menggelar bazaar yang membutuhkan banyak resource dan dukungan. Akan tetapi keinginan tak selalu bisa selaras dengan tanggung jawab, amanah besar yang harus kuemban di PPI Taiwan mewajibkanku untuk hadir ke agenda tersebut. Sengaja pada tulisan kali ini tak akan kubahas hal-hal apa saja yang terjadi di forum tersebut, karena jika kau klik tautan di kalimat sebelum ini, kau akan paham apa saja yang kami lakukan di sana (KDEI).

Yap, langsung saja pada intinya, di tulisan kali ini aku ingin membagikan sebuah rute menuju penerimaan dari sebuah doa, eh maksudnya (biar nggak terkesan muluk banget bahasanya) menuju jalur pencarian makanan halal yang inshaAllah membimbing kita semua menuju kebaikan.
Karena apa?

يَآ اَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِي الْاَرْضِ حَلَلاً طَيِّبًا وَ لاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَنِ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ـ البقرة
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Q.S. al-Baqarah: 168)
Karena mencari makanan halal adalah termasuk salah satu perintah utama yang tertulis di dalam Al Qur'an. Dan bahkan, "halal-haram"nya makanan yang kita makan juga memengaruhi diterima atau tidaknya doa kita lho!!!
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik. Dan Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk (melakukan) perintah yang disampaikan-Nya kepada para Nabi. Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amalan yang shaleh.’ Dan firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh (lama),  tubuhnya diliputi debu lagi kusut, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbku, ya Rabbku’. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram dan ia diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.” (HR.Muslim)
Tuh, Rasulullah SAW saja sudah bersabda, yakin kita masih bisa menyangkalnya?

Oke, langsung aja kulanjutkan tentang rute menuju Ximen Halal Niurou Mian, di kedai ini menyediakan cukup banyak varian menu niurou (mie) mian (sapi), dari mulai yang harganya NT$100an hingga hampir NT$200, cukup standar lah ya untuk ukuran makanan halal yang memang porsinya juga istimewa. Dan selain mie kuah, mereka juga menyediakan berbagai macam gorengan berbahan dasar sapi. Ada dumpling sapi goreng, kukus, dan berbagai kudapan ringan lainnya, yang harganya juga tak terlalu mahal, hanya berkisar NT$8 hingga NT$15 per pieces-nya.

Eh eh, dari tadi nyeritain menunya mulu, terus tempatnya di mana nih?

Tenang, tempatnya sesuai namanya kok, di Ximen, Taipei. Kalau dari stasiun MRT Ximen, kita bisa menuju ke sana lewat exit 3 atau 5, asal nggak di exit yang mengarah ke Pedestrian Road aja, karena kalau yang mengarah ke sana ada di seberang jalan. Alih-alih menemukan kedai Ximen Halal Niurou Mian, malah yang ada terjebak keramaian dan menemukan Kedai Kebab Halal (mungkin lain kali aku bahas yang ini juga ya, tapi nggak janji dalam waktu dekat).

Nah, terus ke mana arahnya abis dari exit 3 atau 5?

Susah sih jelasin secara kata-katanya, mungkin lewat vlog abal-abal yang aku buat ini bisa sedikit memberikan arahan jelas. Tapi kalau ternyata tak memenuhi ekspektasi pembaca, ya maaf-maaf saja, mungkin suatu saat kalian bisa menghubungi aku saat ingin berjalan-jalan ke sana, sehingga aku bisa menjadi tour guide kalian, syukur-syukur kalau dapat traktiran kan? Hihihi...


Dan di video ini pula lah cerita tentang Tong Sam Chong, Sun Go Kong, (ex) Pangeran Tian Feng, dan Wu Ching versi para begundal NCU tercipta. Penasaran bagaimana ceritanya? Saksikan di stasiun televisi yang tak pernah mengudara!

Oke, mungkin sekian dulu ya arahannya kali ini, semoga berkenan di hati para pembaca, sampai jumpa di Kardio selanjutnya!

EPILOG
Sama sekali tulisan kali ini tak mengandung upaya menggurui atau melakukan justifikasi tertentu kepada siapapun terkait makanan halal dan haram ya. Karena tulisan kali ini murni ulasan santai tentang kedai Ximen Halal Niurou Mian yang sengaja diterbitkan dalam tajuk Kardio yang memang temanya bulan Ramadhan. Salam hangat dari perantau ala-ala, dan juga tukang corat-coret kata-kata!!!

Tuesday, September 6, 2016

Semester Sembilanku di Tanah Orang

PROLOG
Suka-duka pra merantaunya sudah selesai, here I am, in other's country. This land's not my homeland, this room's not my particularly mine. I just stay here for a few months, to make some histories. It's not only for me, I'll also share with you...

    Terkadang istilah mahasiswa abadi tidaklah begitu buruk. Salah satu contohnya dapat dikonotasikan sebagai pelecut semangat untuk melanjutkan kuliah dan menjadi mahasiswa di jenjang yang lebih tinggi. Dan jalan itulah yang kupilih.
     Belum juga mengenakan toga saat wisuda (di jadwal sih tanggal 25 September 2016), aku sudah harus pergi merantau nun jauh ke utara (eh, utara agak ke kanan sedikit mungkin ya, dari kota asalku). Lima hari di sini membuatku sedikit jetlag. Perbedaan waktu satu jam dengan WIB tak serta merta membuatnya terasa seperti saat aku Kerja Praktik di PT. Newmont Nusa Tenggara (di Batu Hijau, Sumbawa) yang memakai zona waktu GMT +8 (WITA). Yang paling terasa tentang waktu adalah entah mengapa hari-hari di sini serasa cepat berlalu, apalagi jika kamu menganggur dan tak melakukan apapun. Tapi aku kira jika digunakan untuk aktivitas juga pasti akan terasa lebih cepat. Jadi kesimpulannya (mungkin hanya perasaan saja) waktu di sini berjalan lebih cepat dari Indonesia. Apalagi setiap jam denting jam kampus selalu berdentang nyaring, dan terdengar di setiap penjuru kampus.
    Oh iya, aku belum memperkenalkan diri pada tulisanku kali ini. Aku Ozha, alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Bermodal amunisi kompetensi di bidang Material dan Metalurgi lah aku merantau kemari, National Central University (国立中央大学 / pinyin: Guólì zhōngyāng dàxué), sebagai mahasiswa di Graduate Institute of Materials Science and Engineering. Menjadi mahasiswa dari laoshi Jeng-Kuei Chang (we call him JKC here) yang menjadi kepala laboratorium bidang Green Energy Storage.
    Aku tiba di Taoyuan International Airport pada hari Jumat (02/09) larut malam, dan tiba di dormitory (asrama) mahasiswa pada pukul 01.20 GMT +8 setelah melakukan adegan angkat berat koper dan ransel tanpa stuntman hingga ke lantai tiga. Kebetulan yang malam itu aku diturunkan ke kampus lewat pintu belakang (dekat Seven Eleven, dekat parkiran no. 76), sedangkan asramaku ada di pojok no. 75 (lihat gambar, click to enlarge). Jadi lumayan lah, shock therapy malam itu langsung koper-ing dan ransel-ing sambil jalan.

NCU Map
    Tapi untunglah mas-mas Perhimpunan (kalau di blog PPI NCU P-nya "Persatuan") Pelajar Indonesia chapter NCU sangat amat baik menemani hamba Allah yang terdampar jauh dari rumah ini. Malam itu ada mas Yoga, mas Wibhi, dan mas Angga yang menjemputku dari bandara hingga kampus. Kami semua penghuni gedung asrama yang sama.

    Oke, hari pertama perantauan dimulai keesokan harinya. Dari mulai membersihkan debu-debu yang tertinggal di kamar 3019 yang (mungkin) lebih dari tiga bulan tak dihuni, mengepel lantai agar suci dan dapat dimanfaatkan sebagai private mushalla dalam kamar, hingga unpack barang bawaan dari koper. Seperti kubilang sebelumnya, waktu terasa begitu cepat, sampai pada akhirnya aku menyelesaikan semua hal itu pasca pukul 2 siang. Rencana akan membeli barang-barang keperluan dasar jadi batal karena aku tertinggal rombongan yang janjiannya jam 1 siang. Tapi tak apa, aku jadi punya waktu untuk me time dan berjalan-jalan sendirian berkeliling kampus sambil menghapal jalan-jalannya. Tepat dua jam setelah keluar dorm aku telah tiba lagi di tempat yang sama, setelah aku berhasil menjamah 75% dari seluruh area luar gedung kampus baruku. Yang fantastis adalah, aku berjalan kaki ke-ma-na-pun selama di kampus, aktivitas yang sudah lama sekali tak aku lakukan sejak menjadi mahasiswa baru di ITS dulu (sebelum motorku tiba di Surabaya). Hari itu terlewati begitu saja dengan penutup mengirimkan e-mail ke profesorku untuk memilih janji bertemu pada hari Senin. Juga menyempatkan mengabari keluarga di rumah serta melakukan video call denganmu, partner LDR Depok.

    Hari selanjutnya sama saja, aku belum ada rencana berarti, selain: ikut jemput mahasiswa baru juga (namanya Annur/Palembang dan Dwi Agrina/Riau) ke bandara. Cerita hari ini dimulai ketika aku sangat amat tak betah dengan kehidupan "gua" yang tanpa akses internet. Aku berencana membeli kartu perdana di bandara. Sehingga kukuntitlah mas Yoga (ketua PPI periode ini) yang memang shiftnya pagi itu harus menjemput dua cewek tadi. Tiga kali naik bus, dari NCU ke Chung Li, Chung Li ke Gaotie, dan Gaotie ke area Terminal 1 bandara. Perjalanan yang sungguh berfaedah, karena aku bisa sedikit paham tentang jalan menuju bandara, dengan biaya sekitar dua kali NT$18 (yang ketika kita tak punya receh harus memasukkan dua koin NT$10 dan harus merelakannya tanpa kembalian), dan juga satu tiket NT$30 untuk i-bus. Biaya taksi di sini relatif mahal, dibandingkan dengan bus yang hanya beberapa puluh NT$, untuk sekali jalan dari bandara ke kampus taksi memiliki tarif sekitar NT$690 (lebih dari sepuluh kali lipat). Tapi jangan ditanya kecepatan taksinya, saat malam kedatanganku dan kulirik speedometer sang sopir bisa mencapai 150 km/jam dan hanya dikurangi saat belokan dan lampu merah. Kebayang ga seberapa lengangnya jalan Taiwan? Ya, setidaknya dari bandara sampai kampusku (daerah Taoyuan) yang letaknya di hampir ujung utara Taiwan (sejam dari Taipei yang letaknya di bagian utara Taiwan juga).
    Oke, hari kedua cepat berlalu hingga aku bertemu buddy-ku yang bernama Chia Jung (maunya dipanggil Panda) menjemput untuk mengajak membeli voucher AC dorm-ku untuk satu semester di Family Mart dan kami berjalan-jalan ke laboratorium di bawah otoritas profesor JKC.
    Kebetulan hari ini ada semacam secondhand expo besutan mas mbak PPI NCU. Di acara ini kami mahasiswa baru boleh memilih barang-barang peninggalan mas mbak PPI yang sudah lulus. Dengan syarat mengambil 1 barang penting (kasur, bantal, jaket winter, selimut) dan dua (saat itu boleh 3-4 karena barang lebihnya banyak) barang "tak penting" (semacam gantungan baju, gelas, panci masak, tempat pensil, ember, pisau, deterjen, dll). Di sinilah awal mula interaksi beberapa puluh mahasiswa baru asal Indonesia, sebelum welcome party dari PPI NCU nanti.

Suasana Secondhand Expo PPI NCU
    Pada akhirnya hari ini ditutup dengan acara ngopi dan makan di Seven Eleven (maaf di sini ga ada warkop, jadi kalo ngopi ya di Sevel) bersama (lagi-lagi) mas Yoga dan mas Wibhi, juga pak Tri. Dengan beberapa kawan mahasiswa baru lain juga. Eh, tapi di jam malam (after 11 pm) mas Dody (mantan ketua PPI NCU) dan mbak Paula (kalo nggak salah denger) datang dan bergabung bersama kami, sampai tengah malam lewat beberapa puluh menit.

    Lalu, Senin (kemarin), agendaku berlanjut sehari bersama buddy untuk mengisi berkas pendaftaran ulang yang akan aku lakukan nanti di hari Rabu. Bersama dengan Ainun beserta istrinya, Elok, juga Barath U (India) yang merupakan mahasiswa baru PhD di bawah naungan profesor JKC. Pukul 01.30 pm, setelah kulakukan pembayaran dorm dan asuransi, aku segera menuju Engineering Building 5 (markas besar kami, mahasiswa IMSE: Intstitute of Materials Science and Engineering) yang merupakan pusat pergerakan profesor JKC. Ruanganku juga di sini nantinya, karena memang kunci ruang sudah dipercayakan padaku juga hari ini, jadi yah bisa dibilang memang ini rumah keduaku setelah dorm nantinya. Setelah berdiskusi sekitar empat puluh lima menit dengan profesor JKC, beliau memutuskan aku harus melakukan training to Magnesium battery synthesizing and assembling bersama Christ (mahasiswa PhD yang telah dua tahun bergelut di bidang Mg battery). Keputusan itu keluar setelah memang aku memutuskan untuk Materials Focusing dibandingkan dengan fokus bidang TA S1-ku, biomaterial. Apa tujuanku? Ya, agar aku punya satu expertis khusus di satu material, dalam bidang apapun, sebelum nantinya menjajal material-material lainnya (selain Magnesium).
    Pelajaran pertama dari Christ adalah aku harus melakukan grinding (calon) anoda Magnesium berdiameter sekitar 1,5cm dan tebalnya tak lebih dari satu milimeter. Aku yang notabene terbiasa menggunakan grinding machine saat menjadi grader laboratorium Matelurgi JTMM ITS harus menelan pil pahit karena melakukan grinding dengan meterial sebegitu tipis dan kecilnya tanpa resin adalah sulit. Dengan spesifikasi kertas amplas grade 1200 dan kecepatan putaran yang bisa diatur otomatis, sebesar 50 (entah aku lupa satuannya). Setengah jam berselang aku masih belum berhasil melakukannya dengan mulus, yah untuk pemula, "you don't need to push yourself at first, just enjoy yourself, we can do this step by step," kata Christ. Yang kupahami bahwa yang dia maksud this adalah proses Magnesium battery synthesizing and assembling.

Jadi kangen alat grinding di laboratorium Metalurgi JTMM ITS

    Hariku mulai berwarna di sini, dimulai setelah aku undur diri dari laboratorium kemarin. Bayangkan saja, laboratorium markas Christ (yang harus kutemui untuk tiap kali latihan nanti) ada di Engineering building 1 (bersatu dengan gedung Chemical Engineering and Materials, no. 23 di peta), laboratorium tempat latihan kami ada di Engineering building 3 (di gedung milik Mechanical Engineering, no. 25 di peta), dan markasku sendiri di Engineering building 5. Haft, terbayang memang setiap hari wajib berburu sepeda hijau berstiker kuning NCU (ini sepeda gratis yang bisa digunakan siapapun di dalam kampus) bersama dengan pengguna lain.

    Dan baiklah, tulisan kali ini akan aku akhiri dengan beberapa foto yang menggambarkan suasana atau mungkin aktivitasku selama beberapa hari ini.

Di sini juga ada sawah kok, kalo butuh pemandangan hijau jangan khawatir (buat yang mengkhawatirkan suasana di sini)

Salah satu ruas jalan kampus, nggak jauh beda kok sama ITS

Ini jalan keluar menuju Jhong-Li road (kosan para maba cewek semester ini), lokasi Sevel tempat cangkrukan

Pemandangan dalam bus pas berangkat ke bandara kemarin Minggu. Jangan baper lihat yang berduaan, please!!!

Tugu di main gate NCU (menuju Guan-yin, dan High Speed Taoyuan Station)

Pemandangan depan bundaran NCU
(kalo kataku bagusan bundaran depan ITS tempat jualan takjil kalo Ramadhan deh, wkwkwk)
EPILOG
Ya, di sinilah hariku dimulai untuk semester sembilan hingga dua belasku di masa perkuliahan. Meski berbeda jenjang dengan sebelumnya, semoga pembelajaran sebelum-sebelumnya akan tetap berguna sebagai bekal hingga tahun-tahun mendatang. Teringat akan quote dari kawan-kawan FORBBITS yang tersemat di notebook yang dihadiahkan padaku sebelum berangkat,
"Don't STOP when you are TIRED.
STOP when you are DONE,"
sepertinya itu yang akan aku lakukan. Di sini, memulai hal baru di tanah orang, yang akan jadi tanah tempat tinggalku juga selama beberapa bulan ke depan.

再见 (pinyin: Zàijiàn)

Saturday, February 22, 2014

"MIRROR" teaser

"Jangan lari, aku sudah terlalu jauh dari kalian..."
"Sudahlah, jalan saja dan kejar kami, jangan banyak mengeluh!"
"Tapi kalian sudah terlalu jauh melangkah, dan aku rasa ini bukan jalan yang tepat."
"Sudahlah, jika memang tak ingin mengikuti, berhenti, atau berbaliklah!"
"Tapi, aku masih bagian dari kalian kan?"
"Tidak, aku tak pernah menganggapmu ada, karena kau cuma bayangan buat kami."
"Hey... Tunggu aku..."

----------------------------------Jam weker berdering------------------------------

   Pukul 03.00, dan aku terbangun seperti biasa. Dengan bayang-bayang mimpi buruk itu masih tersisa di kepala. Kuambil segelas air minum dan kuteguk cepat-cepat, dan "uhuk uhuk..." aku tersedak. Kutenangkan diriku, sembari menormalkan detak jantung yang sedari bangun memang tak menentu. Adakah orang yang pernah kukecewakan sebelumnya hingga setiap malam aku memimpikan orang-orang yang tampaknya tak senang denganku, dan selalu meninggalkanku di belakang jejak mereka. Mengapa juga selalu ada penyesalan di akhir setiap mimpi itu. Apa artinya ini?

   Namaku Rafi, aku seorang mahasiswa di sebuah kampus yang tak begitu terkenal mungkin. Aku mempelajari ilmu yang sangat jarang diminati oleh orang-orang seumuranku, aku belajar tentang manusia. Bukan secara sosial ataupun fisik, bukan juga tentang mentalnya. Aku mempelajari manusia dengan cara tersendiri. Ilmu ini tak lazim memang, tapi aku tertarik padanya. Achrodiag, begitu kami menyebutnya. Ya, aku belajar di sebuah rumah pemikiran tanpa ujung, yang mungkin di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pun belum mengetahui tentang adanya ilmu ini. Achrodiag Major of speciality, kira-kira seperti itulah kami menyebut bidang keahlian kami.

   Aku sudah menginjak semester 6 di kampus ini, dengan segala macam dinamikanya aku mulai nyaman berada di sini. Di sebuah bidang "aneh" yang tak terbayang sebelumnya oleh orang lain. Dan di sini aku belajar ilmu yang benar-benar baru, ilmu yang tak semua orang paham, karena terkadang dosenku pun mempertanyakan ilmu yang diajarkannya. Tapi dari namanya saja sudah cukup menjelaskan keabstakan ilmu ini. Aku mengambil sebuah tema tugas akhir tentang refleksi. Di sini aku tenggelam dalam proyek yang aku ciptakan sendiri, hingga terbawa ke alam bawah sadarku. Mimpi-mimpi aneh tentang mereka, mereka yang selama ini aku merasa sangat familiar tapi aku sendiri tak ingat pernah mengenal mereka.

---------------------------------------------------------------------------------------

   Sore itu aku memandang ke arah cermin, cermin kecil di sudut kamar kosku tampak menarik untuk dipandang. entah apa yang membuatnya seperti itu. Dan tanpa sadar aku menyetuh permukaan benda halus itu. Aku mual, otak dan perut terasa keluar, terkocok-kocok hingga aku tak bisa lagi merasakan mana tubuhku dan mana nyawaku. Aku terus bergerak mendekati dimensi yang sama sekali tak kukenal, dimensi achro, kata dosenku artinya colorless atau tak berwarna. Yang aku pun tak paham apa maksudnya, yang aku tahu aku ada di sini sekarang. Berputar putar sambil melihat copyan diriku terbang ke arah berlawanan dari arah tujuanku. "Tunggu!! Aku? Copyan? Tak mungkin, ini tak mungkin," kataku dalam hati. Aku lahir tanpa ayah ibu, aku adalah hasil rekayasa bayi tabung dari kelebihan sperma di bank sperma, yang memang sudah overload dengan berbagai macam sperma, yang dikombinasikan dengan ovum seorang wanita yang juga lahir dengan takdir sepertiku sebelumnya. Rumit bukan? Ya inilah yang terjadi di zaman ini, zaman yang aku sendiri sudah tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang digital.

----------------------------------------------------------------------------------------

"Hah... hah... hah..."
   Ada seseorang yang mengejarku dengan terengah-engah, seseorang yang mengaku bahwa dia pernah mengenal baik diriku, tentu saja di masa lalu, masa di mana aku tak mengenal diriku sendiri. Hal ini rumit, sungguh rumit, tapi aku tak peduli, aku terus berlari. Entah sejak kapan aku seolah tak mengenal dunia ini, semenjak terakhir kali kuingat aku berada di sudut kamar kosku dan menyentuh cermin itu, hidupku menjadi tak lagi normal. Aku ingin tahu apa yang terjadi, aku ingin kembali ke kehidupan lamaku, yang entah dimana, entah kapan pernah aku rasakan, dan sampai kapan aku alami. Aku ingin keluar dari dunia asing ini...

-----------------------------------------------------------------------------------------

>> Ada kalanya kerumitan pikiran menjadikan diriku tak lagi berada di dalam jasad ini, diriku yang sekarang ini mungkin saja bukan diriku yang sebelumnya, ada diriku yang lain yang menghuni jasad ini, yang mungkin saja sangat berkebalikan dengan diriku yang sebelumnya. Sama halnya seperti diriku yang kulihat di depanku sekarang ini bukanlah diriku yang menghuni jasad ini, melainkan diriku yang menghuni dunia yang lain lagi.

"MIRROR"

Wanna support???