Description

"Who you are, depends on what do you think about GOD and yourself."

#KotakAjaib
Copy-Paste boleh, asal cerdas! Jangan lupa cantumkan sumbernya ya...
http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/

Monday, January 9, 2012

Perspektif Tunggal dalam Peraduan Diri

Banyak yang terjadi di dalam diri kita,
tak peduli sedetik yang lalu,
sejam yang lalu, ataupun beberapa waktu yang lalu, tentunya.
perubahan, meskipun kecil dan tak terlihat,
semuanya pasti terjadi,
entah itu pola pikir,
perasaan, mood, atau apapun.

Apa yang membuatku berpikir seperti itu?
memang terkadang,
atau bahkan "selalu",
tulisanku sulit untuk ditebak maknanya,
harus mulai dimengerti dari sudut pandang mana,
dan harus berpikir dari mana untuk dimengerti,

Tapi inilah gaya tulisanku,
seorang penulis yang mungkin sampai kapanpun tak akan pernah dikenal oleh siapapun,
dan dari sinilah aku beranjak,
dari tulisan - tulisan ini aku memulai,
untuk berpikir,
merangsang pemikiran - pemikiran baru untuk menentang,
untuk memberontak,
baik dari diriku sendiri, maupun dari semuanya.
Dan menciptakan pemikiran yang baru tentang konsep kehidupan yang tak selamanya pasti, datar, dapat ditebak, dan mudah diprediksikan.

Lalu, apa hubungannya paragraf pertama tulisanku ini dengan paragraf selanjutnya tadi?

Tentu saja ada,
justru sangat berkaitan,
Aku hanya menjadikan diriku sebagai contoh.

Mengapa tulisanku sulit ditebak?
Mengapa tulisanku yang bermakna justru disalah artikan?
Mengapa tulisanku yang tak berarti justru dimengerti?

Itulah pertanyaan yang akan menghubungkannya,
dan mungkin dari sini juga tulisanku akan dianggap sulit dimengerti.

Pemikiran manusia,
fisik manusia,
perasaan manusia,
semuanya serba tak pasti,
serba dilingkupi oleh konsep yang memang abstrak,

Saat ku menulis,
sambil berpikir dan mentransformasikan pemikiranku melalui tulisan ini pun,
aku berubah,
aku berkembang,
begitu pun perasaanku,
semuanya berubah,
menyambungkan setiap sinapsis - sinapsis syaraf yang tersebar di seluruh penjuru tubuh.

Untuk bersinergis,
berpikir tentang apa yang harus kutulis,
kutransformasikan melalui pergerakan elektron di dalam tubuh,
menyalurkan gelombang unuk memberikan perintah pada motorik,
untuk menggerakkan jemari menuju ke sebuah 'tuts' keyboard.

itu hanyalah contoh,
lalu apa selanjutnya?

Sebenarnya dapat kau renungkan sendiri,
apa maksud dari tulisanku,
apa arti pemikiranku yang kusiratkan dari kata - kata bodoh ini,

Bahwa manusia tak akan pernah stagnan,
dari mulai tingkat terkecil,
sel, yang selalu bergerak aktif, berkembang dan membelah,
hingga berlanjut ke jaringan tubuh,
organ pun tak henti,
bahkan hingga sistem di dalam tubuh,

Semuanya berubah,
menjalani evolusi dari setiap karunia yang diberikanNya,
perkembangan dan pertumbuhan tak bisa terhindarkan,

Utamanya pada sebuah organ pengatur, pengendali diri.
"mind" bukan "brain"
karena dia mengatur segalanya,
bukan hanya obyek diri yang tak berarti.
Dialah pemegang peranan,
di dalam setiap perubahan yang ada pada diri manusia.

Fisik pun,
tak luput dari jangkauan kuasaNya, juga kuasanya.
Mungkin jika ditelaah lebih jauh,
mungkin Dia meniupkan nyawa itu kesemuanya adalah bermuara di pikiran.
di dalam "mind",
bukan "brain".

Jika aku ditanykan tentang perbedaan keduanya,
aku akan mudah untuk menjawab,
"mind" jelas berada di dalam "brain", si obyek tunggal yang tak berpengaruh dalam diri.
Sedangkan "brain" hanyalah menjadi taman di mana "mind" berkembang dan tumbuh.

Perubahan berawal darinya,
semuanya diatur olehnya, tentunya tak luput dari kehendakNya.

Tapi pernah tidak kita berpikir,
bahwa perubahan yang ada itu tak hanya akan memberikan satu gambaran umum tentang "sesuatu".
Tak hanya memberikan satu sisi perspektif untuk dianalisa.
Banyak sekali kemungkinan,
banyak sekali perspektif,
banyak sekali sudut pandang,

Sungguh merugi bagi manusia yang hanya bisa memandang masalah dari satu sisi pemikiran,
lalu dianalisa,
lalu....
Apa yang akan dianalisa?
toh hanya ada satu pilihan pertimbangan,
yang membuatnya seolah "mati",
terjebak di dalam satu pilihan.

Padahal, di dalam sebuah perubahan diri,
harus memiliki bermacam - macam pilihan,
perubahan arah pandang,
serta perkembangan kepribadian,
semuanya membutuhkan pilihan.

Ingin menjadi orang baik, buruk, jahat, bodoh, pandai, dan apapun itu.
Semuanya membutuhkan PILIHAN pemikiran,
bukan pilihan dari berpikir,
Tapi itu semua terserah pada kalian,
ingin menjadi manusia dengan "all possibilities for many interesting ways" atau menjadi manusia dengan "only one possibilities for only one sure way"
Tak dapat dipungkiri,
perasaan manusia sulit untuk dipengaruhi,
kecuali manusia itu sendirilah yang mampu berpikir dan menentukan jalan masing - masing.

Hanya sebuah "perspektif tepat" dari beberapa kemungkinan yang muncul yang nantinya memberikan perubahan,
terhadap segalanya.
Meskipun hanya setitik gagasan,
yang nantinya akan anda lupakan di kemudian hari.

Tapi setidaknya, kalian telah mencoba untuk memilih,
untuk perkembangan hidup dengan progress yang tak akan sia - sia di masa mendatang.

Wednesday, January 4, 2012

Kejujuran di Mata Egoisme

Kesempatan, waktu yang tepat, kondisi yang memungkinkan,
mood yang memang cocok, dan pikiran yang sedang mau menerima segala hal.
Kebanyakan timing itulah yang ditunggu oleh setiap orang,
pastinya,
untuk membicarakan sesuatu, untuk mendiskusikan permasalahan,
tapi utamanya yang penting, berat, dan menjemukan.
Yang menjengkelkan, menyedihkan, dan memancing kemarahan.
Tapi pernah tidak kita berpikir,
jika momen seperti itu sangat sulit ditemukan,
sangat sulit diciptakan, dan sangat sulit diterima.

Saat ada waktu yang benar - benar tepat,
kondisi yang tidak memungkinkan, entah itu fisik ataupun pikiran,
termasuk mood, mental, dan perasaan,
pikiran yang terbuka, yang siap menerima segala hal,
mustahil ada secara bersamaan.

Jadi, kalau begitu, tak mungkin untuk berkata jujur.
dan tak bisa dipungkiri, kondisi tersebut semakin menekan sang pembawa informasi.
tapi tak pantas juga disebut pembawa,
karena itu tak seberapa,
mungkin lebih tepat disebut penyampai berita.

Semuanya akan penuh dengan perasaan tertekan, meskipun seseorang yang seharusnya menerima berita tak bereaksi apa - apa,
karena memang belum mendengar apa - apa.

Sebuah kejujuran tak akan pernah tercipta di dalam situasi seperti itu,
kapanpun, sampai dunia berputar berbalik arah pun,
tak akan pernah tercipta kejujuran,
sebelum sang penerima informasi mau membuka diri dan berpikir logis,
serta mau menerima kenyataan.

Di sinilah peran Fase Sinkronisasi Pemikiran dipentingkan,
diharapkan, serta distimulasi untuk mampu menyertai di setiap pemikiran,
mengapa tokoh dalam film selalu berakhir dengan beberapa kemungkinan?
Itu semua karena di dunia ini tak ada sesuatu yang pasti,
kalaupun hari ini film berakhir dengan bahagia,
belum tentu besok akan berakhir sama, bisa sedih, bisa gundah, bisa saja abstrak.

Nah, begitu pula pemikiran manusia,
bukan dalam hitungan hari,
dalm hitungan detik pun bisa jadi berganti hingga lebih dari 10 kali,
Itulah keunikan manusia,

Tapi dalam keunikannya itu,
pernah tidak sebentar saja merenungkan tentang perasaan orang lain?
yang aku bicarakan di sini bukan dari sisi si penyampai berita,
tapi si penerima informasi.

Jika dia saja tak mau menerima hal buruk yang terlontar,
yang diucapkan si penyampai,
lalu bagaimana juga penyampai ini akan melepaskan beban yang ditanggungnya?
beban lelah untuk menghafal apa yang ingin disampaikan,
beban pemikiran tentang masalahnya sendiri,
beban takut akan kekecewaan yang akan muncul dari si penerima berita,
itu semua,
siapa yang akan memikirkannya?
penerima kah?
tak mungkin.

Sungguh tak adil sebenarnya,
jika penyampai informasi yang mengatakan sesuatu dengan apa adanya,
dianggap sebagai seseorang yang membuat kekacauan,
jika apa yang telah ia sampaikan menyinggung si penerima berita,

Lalu bagaimana jika si penyampai tak mau menyampaikannya?
pastilah dia bersalah,
kesalahan yang besar pada akhirnya,
karena si penerima tak pernah mendengar pesan yang sebenarnya.

Itulah kesalahan kita,
kesalahan manusia,
kesalahan makhluk dengan seonggok daging dan darah yang hanya ditopang dengan benda - benda rapuh yang sekilas tampak kuat,
yang mengaku sebagai khalifah bumi,
tetapi justru merusaknya dengan saling menyakiti sesamanya sendiri,

Ah, tapi di kalimat akhir tadi janganlah diartikan dengan picik,
itu berarti luas,
yang kumaksud di sini adalah kau, kalian,
orang - orang yang selalu mengeluh, bersedih, marah,
dan berbalik mencibir kepada orang yang mengatakan kenyataan,
yang entah itu dianggap cemoohan, kritikan, hinaan, juga cibiran.
Itu semua kebodohan kalian,

Tahukah sebenarnya apa maksud mereka yang berkata dengan apa adanya itu?
mereka hanya ingin mengungkap kebenaran, kenyataan,
dan bersikap adil,
karena manusia ada untuk saling mengingatkan,
saling memberikan masukan,
saling memotivasi,
tentunya dengan cara masing - masing,

Bukalah mata kalian,
tajamkan pendengaran kalian,
dan lapangkanlah pemikiran dan hati kalian,
karena yang ingin dimengerti bukan hanya obyek,
tapi subyek pun serba salah jika kalian selalu berkelit,
bukan dari apa yang disampaikan,
tapi dari kenyataan,
yang sebenarnya hati kalian pun mengiyakannya,
tapi logikamu telah tumpul,
tertutup kesombongan dan ketidakwarasan.

Wanna support???